Pemilu Parlemen Lebanon dan Kandasnya Proyek Barat-Arab Anti Kubu Resistensi

0
54

Beirut, LiputanIslam.com  Hasil pemilu parlemen Lebanon 2022 memperlihatkan fakta kekandasan proyek sejumlah negara Barat dan Arab untuk meruntuhkan popularitas kubu resistensi anti-Israel, demikian dicatat oleh surat kabar Al-Akhbar yang terbit di Lebanon, Senin (16/5).

Pemungutan suara dalam pesta demokrasi itu digelar pada Ahad (15/5), dan malam hari itu pula penghitungan suara dimulai.

“Siapapun yang di rumahnya menginginkan hasil pemilu itu fair haruslah menyorot program dan tujuan yang telah dijelaskan oleh semua pihak serta masuknya mereka pada kompetisi sengit yang semuanya menggunakan senjata ilegal,” tulis Al-Akhbar.

Menurut surat kabar ini, sejak tahun 2018 sudah terbentuk kampanye besar-besaran di Lebanon, kawasan regional dan dunia untuk menyudutkan koalisi yang telah mengantarkan Michel Aoun ke Istana Presiden. Berbagai pihak di kawasan dan dunia berterus terang bahwa pada sasaran yang mereka bidik di tahap awal adalah Hizbullah, dan  dalam rangka ini mereka memerlukan beragam tindakan di mana yang paling mencolok di antaranya ialah menghantam partai Gerakan Patriotik Bebas dan pemimpinnya, Gebran Bassil.

Al-Akhbar menjelaskan bahwa sejak dua tahun silam sampai sekarang “kereta AS-Saudi-Uni Emirat Arab (UEA” tak berhenti bekerjasama dengan elemen-elemen Gerakan 14 Maret dan Gerakan 17 Oktober, yang terbentuk dalam peristiwa unjuk rasa 17 Oktober 2019, untuk membangun sebuah koalisi politik yang bertujuan menjegal Hizbullah dan Gerakan Patriotik Bebas.

Al-Akhbar menyebutkan bahwa masyarakat Lebanon harus obyektif melihat bahwa pergumulan yang dimulai sejak empat tahun lalu dan memuncak dalam dua tahun terakhir ini gagal mewujudkan sebagian besar tujuannya, dengan penjelasan dalam beberapa poin sebagai berikut;

Pertama, gagal meruntuhkan popularitas kubu resistensi di mata masyarakat Muslim Syiah dan lain-lain.

Kedua, Gerakan Patriotik Bebas masih solid dan tak berantakan. Hasil penghitungan suara sementara tak memberi kesan bahwa partai ini berubah menjadi sebuah kekuatan marginal seperti yang dinginkan lawannya. Partai ini masih terhitung sebagai poros kekuatan Kristen.

Reuters mengklaim bahwa menurut hasil sementara, Gerakan Patriotik Bebas kali ini memperoleh 16 kursi, sedangkankan Lebanese Force mendapatkan 20 kursi.  Namun, bertambahnya jumlah kursi partai Lebanese Forces, partai Kristen pesaing Gerakan Patriotik Bebas dan kontra-Hizbullah, tidak mengubah keadaan dalam masalah ini, karena friksi politik di kalangan Kristen akan meningkat. Hal ini akan berpengaruh pada banyak bidang, terutama mengenai perlakuan Lebanese Force terhadap pemilihan pemerintahan dan presiden mendatang.

Ketiga, pemimpin Partai Gerakan Patriotik Bebas Samir Geagea, tokoh yang paling vokal terhadap Hizbullah, justru berhadapan dengan tantangan terbesar dalam karir politiknya selama ini. Dia gagal membuat daftar yang menyajikan perubahan, dan propagandanya anti Hizbullah dan senjata kubu resistensi tak membuat suara kalangan pemrotes mengalir deras kepada para kandidat yang dia dukung.

Keempat, terjadi friksi terbesar di forum-forum Sunni. Keputusan penyingkiran Saad Al-Hariri karena dia gagal melicinkan ambisi AS-Saudi telah memicu kemarahan yang menyebabkan suara kalangan Sunni berkurang drastis.

Kelima, kekuatan-kekuatan besar sekular berada dalam posisi lemah, tak seperti dalam pemilu-pemilu silam, dan hasil penghitungan suara akan memperlihatkan betapa mereka sudah keropos.

Keenam, besarnya partisipasi rakyat dalam pemungutan suara membuktikan besarnya peran keluarga. Hasil pemilu akan memperlihatkan betapa keluarga-keluarga Lebanon, yang dari merekalah para wakil rakyat tampil dalam beberapa dekade ini, sampai sekarang masih eksis di kancah politik.

Ketujuh, mulai sekarang berbagai kekuatan regional dan dunia akan terpaksa menyesuaikan diri dengan hasil pemilu.  Segala ide untuk dialog ataupun tekanan terhadap Lebanon tak dapat dibenarkan dengan pola perampasan legitimasi, walaupun propaganda untuk menciptakan ketakutan terhadap senjata Hizbullah masih akan berlanjut.

Al-Akhbar lantas menutup catatannya dengan kesimpulan bahwa semua ini menunjukkan kekandasan proyek asing untuk membenamkan gerakan resistensi di Lebanon. (mm/fna)

Baca juga:

Hizbullah Tak Gunakan Posisi di Kabinet untuk Cari Uang

Sayid Nasrallah: Gugurnya Shireen Permalukan Penormalisasi Hubungan dengan Israel

DISKUSI: