Pemerintahan Jokowi Tanpa Oposisi? Ini Kata Pakar

0
95

Foto: Merdeka

Jakarta, LiputanIslam. Com—Pasca diputuskannya sidang sengketa Pilpres oleh mahkamah Konstitusi pada Kamis malam (27/6), beredar isu tentang berakhirnya koalisi .

Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, menyampaikan bahwa Prabowo mengatakan koalisi berakhir begitu putusan MK diketok. Isu ini juga bergulir seiring meluncurnya tawaran kursi pemerintahan untuk Partai Gerindra, partainya Prabowo.

Dua partai oposisi,  Demokrat dan PAN mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan haluan politik.

Namun apakah ini menjadi pertanda pemerintahan Jokowo-Ma’ruf ke depan akan berjalan tanpa kehadiran oposisi?

Peneliti departemen politik dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, menjelaskan oposisi berguna dalam pemerintahan demokratis, yakni menjalankan fungsi kontrol dari parlemen.

“Fungsi kontrol ini penting supaya pemerintah terpilih tidak tergelincir menjadi otoriter atau antikritik,” kata Arya kepada wartawan, Jumat (28/6).

“Kalau semua partai ditarik ke dalam pemerintahan, itu adalah kemunduran dalam demokrasi kita. Tak akan ada lagi kontrol dan penyeimbang di parlemen, tak akan ada lagi diskursus politik. Kalau pun ada oposisi di luar parlemen, itu tak akan punya power yang mencukupi. Mereka hanya akan teriak-teriak dari luar pagar,” tambahnya.

Baca: Rajut Persatuan Pasca Putusan MK

Arya melihat, oposisi tak akan benar-benar lenyap dari peta politik Indonesia di bawah pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin kelak. Yang ada hanya reposisi koalisi. Meski ada oposisi, namun itu bukanlah oposisi yang cukup bertenaga.

“Saya kira nanti tetap akan ada oposisi, tapi oposisi yang lemah,” kata Arya

“Saya kira PKS kalau solid di jalan oposisi, suara orang yang kecewa bisa terkumpul di PKS semua, tidak mustahil dia bisa memetik hasil di Pemilu 2024,” jelas Arya.

Mengenai hal ini,  Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyerahkan sepenuhnya nasib Koalisi Indonesia Adil dan Makmur kepada masing-masing partai.

Ketua Umum Partai Gerindra itu mempersilakan mitra koalisinya untuk mengambil keputusan apakah akan tetap berada di barisan oposisi Joko Widodo-Ma’ruf atau sebaliknya.(Ay/Detik/Kompas)

DISKUSI: