Pedagang Keluhkan Pelebaran Trotoar di Jakarta

0
153

Sumber: tribunnews.com

Jakarta, LiputanIslam.com— Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI memutuskan untuk melakukan pelebaran trotoar di sejumlah titik di Jakarta. Keputusan tersebut dikeluhkan oleh sejumlah pedagang yang terkena dampak pelebaran trotoar.

Rahmi, seorang pedang yang merintis usaha warung tegal, mengatakan, warungnya telah dibongkar dan ia mengaku bingung sekarang.

“Saya buka warteg di sini. Sekarang dibongkar enggak ada yang tanggung jawab sekarang. Kami sebatang kara, anak jadi pada terlantar tuh sekarang. Pak RT, sama kelurahannya datang-datang tadi bongkar-bongkar saja,” ujar Rahmi.

Baca: Pedagang Makanan Keluhkan Kenaikan Harga Cabai

Dia juga mengeluhkan karena petugas datang tanpa pemberitahuan yang jelas. Saat ini, dia kebingugnan mencari tempat tinggal.

“Kemarin itu katanya ada (petugas) mau datang. Eh enggak jadi, ternyata malah hari ini datang langsung kroyok-kroyok aja, padahal sya sudah belanja dulu buat hari ini jualan,” ungkapnya.

Saat ini Pemprov DKI sedang melakukan pemetaan trotoar mana saja yang bisa digunakan PKL. Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Hari Nugroho menyampaikan, standar trotoar untuk pejalan kaki selebar 1,5 meter.

“Kita minimal 1,5 meter itu untuk pejalan kaki. 1,5 meter tidak boleh diganti selain pejalan kaki,” kata dia.

Dia menuturkan, jika trotoar lebih dari 1,5 meter, maka bisa digunakan untuk fungsi lainnya, termasuk untuk dimanfaatkan oleh PKL.

“Kalau sudah (pejalan kaki) nyaman, kalau pedestrian lebih dari 1,5 meter atau bahkan 4, 5, atau bahkan 6 meter, fungsi yang lainnya kan ada. Ada untuk pohon peneduh, di situ ada wayfinding, rambu, maupun lainnya. Masih ada sisa (lebar) lagi ya kemungkinan bisa dimanfaatkan untuk PKL,” tuturnya.

Setelah pemetaan selesai, kata dia, Pemprov DKI akan mempertimbangkan jenis PKL yang diizinkan membuka lapak trotoar.

“Namun lagi, PKL seperti apa yang boleh, nanti ada desainnya lagi. kita lagi melengkapi, maping wilayah mana yang trotoarnya besar, kecil, kan beda-beda. Kalau besar otomatis kita dibikin-kan untuk multifungsi tadi itu. yang penting hak pejalan kaki itu tidak terampas, itu saja dulu,” terangnya. (sh/cnnindonesia/detik)

 

 

DISKUSI: