Negev Summit, Bukti Kegagalan ‘Abraham Accord’ Mengamankan Kepentingan Israel

0
1215

LiputanIslam.com –Para Para menteri luar negeri dari empat negara Arab, yaitu Mesir, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko menghadiri pertemuan tingkat menlu pada hari Ahad, 27 Maret 2022 bersama dengan Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid dan Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken. Pertemuan digelar di Negev, Israel, dan karena itulah pertemuan itu diberi nama Negev Summit, atau Six Party (Enam Pihak). Menteri Luar Negeri Israel menyebut pertemuan enam menlu itu sebagai peristiwa bersejarah di mana berbagai isu politik,dan terutama isu nuklir Iran, dibahas.

Sebelum menghadiri Negev Summit, Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken telah tiba di wilayah pendudukan Palestina (Israel) pada 26 Maret 2022, dan bertemu dengan Perdana Menteri Zionis Israel Naftali Bennett, Menteri Luar Negeri Yair Lapid, dan Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz. Dilihat dari proses ini, Negev Summit ini dapat dipastikan merupakan inisiatif fundamental Amerika Serikat, dan merupakan upaya AS menebus kegagalan proyek dan ambisi besarnya lewat Abraham Accord. Muncul pertanyaan: apa tujuan spesifik dari diadakannya pertemuan itu, dan apa yang memotivasi Gedung Putih untuk meluncurkan inisiatif barunya di Wilayah Pendudukan Palestina (Israel)?

Abraham Accord

Komposisi aktor yang hadir dalam Six Party Summit ini jelas menunjukkan bahwa Washington pada dasarnya berencana untuk menghidupkan kembali proses normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan rezim Zionis (dalam konteks apa yang disebut dengan proposal Abraham Accord), yang faktanya lebih banyak membentur kegagalan. Kehadiran UEA, Bahrain, dan Maroko sebagai tiga pilar utama proses normalisasi hubungan dengan rezim Zionis, jelas menunjukkan fakta bahwa proses normalisasi yang stagnan sedang berupaya dipulihkan oleh Gedung Putih.

Abraham Accord adalah proyek ambisius menantu dari mantan Presiden AS Donal Trump, yaitu Jared Kushner, yang ingin mengeluarkan Israel dari isolasi politik negara-negara Timur Tengah. Caranya, dia membujuk negara-negara Arab agar mau menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Semua negara Arab, tanpa kecuali, termasuk Arab Saudi. Empat negara berhasil dibujuk, yaitu Bahrain, UEA, Maroko, dan Sudan. Keempat negara ini menambah daftar negara Arab yang sebelumnya sudah memiliki hubungan diplomatik dengan Zionis, yaitu Mesir dan Jordania.

Upaya baru Washington untuk menghidupkan kembali proses normalisasi hubungan berada dalam situasi di mana tidak ada negara Arab lain yang memasuki proses ini setelah proses awal penerimaan normalisasi oleh Emirates, Bahrain dan Maroko sejak tahun 2020 lalu. Tidak bergabungnya negara seperti Arab Saudi ke proses ini jelas membuktikan bahwa proses normalisasi hubungan ditangguhkan dan Washington tidak bisa masih jauh dari kata berhasil jika dihubungkan dengan target yang sebelumnya dicanangkan.

Dari sisi negara-negara Arab yang berdamai, mereka sebelumnya gembar-gembor bahwa normalisasi dengan Israel itu penting demi mewujudkan perdamaian di Palestina, dan demi memperjuangkan negara Palestina merdeka. Kata mereka, dan ini pula yang sering digaungkan oleh segelintir pendukung Israel di Indonesia, upaya memediasi konflik hanya akan bisa terjadi kalau kita memiliki hubungan dengan kedua belah pihak yang berkonflik. Lalu, apa yang terjadi dengan keempat negara yang menandatangani Abraham Accord itu? Hingga kini tak pernah sekalipun mereka menunjukkan upaya untuk menjadi penengah. Berbagai kejahatan yang digelar Israel di kawasan pendudukan dan juga di kawasan otonomi Palestina tak direspon sama sekali. Yang terjadi sekarang malah mereka lebih mesra dengan Israel, dan menjadi bagian dari agenda-agenda politik Israel, termasuk melawan pengaruh Iran.

Iranophobia

Normalisasi hubungan antara Arab dan rezim Zionis dari sudut pandang Washington merupakan langkah penting dalam menjaga keamanan rezim ini, yang merupakan pilar strategi AS di kawasan. Akan tetapi, masalah penting lainnya, dan itulah yang menjadi tujuan jangka panjang AS, adalah pembentukan koalisi regional melawan Iran di Asia Barat dan Teluk Persia. Iran hingga kini menjadi dinding penghalang sangat besar bagi AS.

Sebagaimana dinyatakan dalam tujuan awal pertemuan enam pihak oleh Menteri Luar Negeri Israel, isu keberhasilan Iran meluaskan pengaruhnya di kawasan menjadi salah satu topik utama pertemuan tersebut. Amerika Serikat berusaha mendekatkan poros Arab ke rezim Zionis dengan alat Iranophobia, guna membentuk koalisi melawan pengaruh kawasan Iran, khususnya Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, dan Ansarullah di Yaman.

Berkenaan dengan program khusus Gedung Putih untuk aliansi Arab-Zionis melawan Iran, penting untuk dicatat bahwa rencana semacam itu pada dasarnya bukanlah hal baru, dan telah diupayakan oleh Washington selama beberapa dekade, tetapi tidak pernah berhasil di lapangan. Dalam situasi saat ini, mimpi kasar AS untuk membentuk koalisi melawan Iran dapat dianggap gagal. Hal ini karena, di satu sisi, kegagalan merekrut negara-negara seperti Qatar, Oman, dan Kuwait ke dalam poros Arab anti Iran, membuat rencana semacam itu tetap menjadi slogan kosong. Di sisi lain, makin kuatnya persekutian Iran dengan Suriah, Irak, dan Lebanon, lebih dari sebelumnya, semakin menunjukkan bahwa alih-alih menjauh, negara-negara Arab nampaknya malah makin mendekat ke Iran.

Aspek penting lainnya dari pertemuan tersebut adalah upaya AS untuk meredakan kekhawatiran rezim Zionis tentang sinyal semakin pudarnya kekuatan AS sebagai sekutu utama Israel di kawasan Timur Tengah dan kawasan-kawasan lainnya. Penarikan pasukan dari Afghanistan, kurangnya dukungan untuk Ukraina terhadap operasi khusus Rusia, dan semakin berkurangnya dukungan AS kepada Arab Saudi untuk mencegah semakin kuatnya Ansarullah, Yamin, telah menimbulkan kekhawatiran di antara para pemimpin Israel bahwa Washington tidak lagi bersedia mengeluarkan uang untuk dukungan. Dalam pandangan Israel, ketika AS makin pelit mengeluarkan dana untuk berbagai operasi di kawasan Tmur Tengah, maka hanya tinggal pesoalan waktu saja bagi AS untuk pada akhirnya mengurangi dukungan kepada Israel. Dan ini tentu akan menjadi bencana besar bagi Israel.

Memang, Israel dan AS sudah banyak sekali menimpakan bencana bagi dunia Islam, khususnya Palestina. Akan tetapi, pada dasarnya, berbagai ambisi busuk mereka itu tak pernah bisa mencapai target yang diinginkan. Bahkan, mereka semakin terdesak, semakin khawatir, serta tak pernah bisa hidup dengan damai dan tenteram. (os/li/alwaght)

DISKUSI: