National Interest: Jangan Percayai CIA dan Mossad untuk Penilaian Tentang Iran

0
677

Washington,LiputanIslam.com-Institut AS, National Interest dalam laporannya menyinggung kegagalan beruntun CIA dan Mossad terkait perkembangan Republik Islam Iran. Menurut institut ini, rentetan kegagalan ini disebabkan mereka bergantung secara berlebihan kepada sejumlah sumber informasi yang tidak kredibel.

National Interest menyatakan bahwa CIA dan Mossad tak bisa dipercaya. Kedua biro ini disebut tidak memahami realita-realita di dalam Republik Islam Iran secara akurat. Menurut institut AS ini, kinerja CIA dan Mossad patut diragukan, seiring dengan banyaknya kegagalan di masa lalu dalam memprediksi perubahan-perubahan fundamental di Iran

National Interest lalu menyebutkan sebagian contoh dari kesalahan-kesalahan besar CIA dan Mossad dalam memprediksi perkembangan mendatang di Iran. Menurut institut ini, latar belakang kegagalan komunitas intelijen AS kembali kepada ketidakmampuannya meramalkan terjadinya Revolusi Islam di tahun 1979.

“Tak lama sebelum Revolusi Islam, tepatnya pada 31 Desember 1977, Presiden AS Jimmy Carter, yang diyakinkan oleh komunitas intelijen negaranya, dengan percaya diri berkata,’Berkat kepemimpinan hebat Shah, Iran telah menjadi pulau stabil di salah satu kawasan paling bergejolak di dunia.’”

“Pada Agustus 1978, CIA melapor kepada Carter bahwa Iran ‘tidak berada dalam kondisi revolusi atau pra-revolusi.’ Namun 6 bulan setelahnya, Pemerintahan Shah runtuh dan kelompok revolusioner pendukung Imam Khomeini merebut kekuasaan. Belakangan, Direktur CIA mengakui bahwa lembaganya tidak mampu memprediksi situasi Iran, sebab ‘mereka tidak menyangka bahwa seorang pria tua berusia 78 tahun, yang jauh dari negerinya selama 14 tahun, bisa menyatukan seluruh kekuatan.’”

Sebagian analis intelijen berpendapat, CIA tidak bisa meramalkan badai mendatang di Iran karena dalam evaluasinya bergantung kepada biro intelijen Iran, SAVAK.

Dalam laporan ini disebutkan, andai komunitas intelijen AS memberikan evaluasi yang akurat, mungkin Carter akan memberi masukan kepada Reza Pahlevi untuk mengelola situasi, alih-alih meyakinkannya bahwa tak ada bahaya yang mengancam kekuasaannya.

“Kegagalan CIA dalam memprediksi perkembangan yang akan datang bukan hanya berujung pada tergulingnya sekutu strategis AS dan perubahan mendalam geopolitik Timteng, tapi juga menggagalkan upaya Carter untuk terpilih kembali sebagai Presiden AS,”tulis National Interest.

Di bagian lain laporannya, institut ini juga menyinggung kegagalan Mossad dan menyatakan bahwa sama seperti mitra AS-nya, komunitas intelijen Israel juga tidak mampu memprediksi perubahan-perubahan mendasar di Iran.

“Berdasarkan laporan-laporan rahasia, sebelum terjadinya Revolusi, kelompok-kelompok Israel di Teheran meyakini bahwa Shah ‘telah mendapatkan stabilitas domestik’ dan kekuasaannya akan berlanjut tanpa gangguan berarti. Israel baru menyadari Shah berada dalam kesulitan di tahun-tahun akhir kekuasaannya.”

“Kendati Mossad sangat aktif di Iran, namun tetap saja ia memberikan penilaian keliru ini. Mossad dan SAVAK memiliki hubungan intelijen spesial dan besar, yang mencakup pertukaran informasi dan pelaksanaan operasi-operasi gabungan kontraspionase, hingga terjadinya Revolusi Islam.”

“Bahkan setelah kelompok Islamis mendapatkan kekuataan di Iran, komunitas intelijen Israel masih percaya bahwa Iran adalah ‘sekutu alami Israel.’ Slogan berapi-api para pendukung (Imam) Khomeini terhadap Pemerintah Zionis dianggap hanya sebagai gelora revolusioner jangka pendek, bukan sebuah perubahan strategis dalam kebijakan luar negeri Iran.”

“Bahkan pada Oktober 1987, PM Israel Yitzhak Rabin, yang percaya bahwa keyakinan para pemimpin Iran soal Israel bisa berubah, sempat berkata,’Iran adalah kawan terbaik Israel. Kami tidak bermaksud mengubah sikap terhadap Teheran.’”

Di akhir laporan, National Interest menyatakan bahwa salah satu penyebab utama kegagalan-kegagalan ini adalah paradigma biro-biro intelijen ini. Kebanyakan pakar menggunakan berbagai paradigma untuk menganalisis realita politik di negara-negara. Namun secara keseluruhan, prediksi perubahan-perubahan politik bisa saja keliru. Dengan mempertimbangkan model-model pemikiran keliru ini, diyakini bahwa pengalaman di masa lalu menunjukkan “Pemerintahan Iran kukuh dan tak terkalahkan.” (af/alalam)

DISKUSI: