Jorok dan Mengerikan, Foto dan Video Pendatang Afrika di Saudi Terbiarkan Mati di Pusat Penahanan Covid-19

0
426

London, LiputanIslam.com –   Laporan investigasi surat kabar The Sunday Telegraph yang berbasis di London, Inggris, menyatakan bahwa Kerajaan Arab Saudi menahan ratusan atau bahkan ribuan pendatang dari Afrika dalam kondisi jorok dan keji.

Situs The Telegraph pada 30 Agustus lalu menyebutkan dalam gambar grafis ponsel yang dikirim ke surat kabar itu oleh para pendatang yang ditahan di dalam pusat penahanan itu terlihat lusinan pria kurus berbaring tanpa baju dalam barisan yang rapat di kamar kecil dengan jendela berjeruji.

Pada satu foto tampak obyek seperti mayat terbungkus selimut ungu dan putih di tengah-tengah mereka. Mereka mengatakan itu adalah tubuh seorang pendatang yang meninggal karena sengatan panas dan yang lain-lain di mana mereka hampir tidak mendapatkan cukup makanan dan air untuk bertahan hidup.

Gambar lain memperlihatkan seorang remaja Afrika yang tergantung di jeruji jendela di dinding ubin bagian dalam. Kata teman-temannya, remaja itu bunuh diri akibat putus asa, dan banyak di antara mereka telah ditahan sejak April.

Beberapa pendatang menunjukkan bekas luka di punggung mereka, dan mengaku telah dipukuli oleh penjaga yang melontarkan pelecehan rasial pada mereka.

“Di dalam sini sangat mengerikan. Kami diperlakukan seperti binatang dan dipukuli setiap hari, ”kata Abebe, seorang pendatang dari Etiopia yang telah disekap di salah satu pusat penahanan selama lebih dari empat bulan.

“Jika saya melihat bahwa tidak ada jalan keluar, saya akan bunuh diri. Yang lainnya sudah, ”tambahnya melalui perantara yang bisa berkomunikasi melalui telepon selundupan.

“Satu-satunya kejahatan saya adalah meninggalkan negara saya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Tapi mereka memukuli kami dengan cambuk dan kabel listrik seolah-olah kami pembunuh. ”

Gambar dan kesaksian itu telah memicu kemarahan di kalangan aktivis hak asasi manusia, dan yang memiliki gaung sehubungan dengan gerakan protes global “Black Lives Matter”.

“Foto-foto yang muncul dari pusat-pusat penahanan di Arab Saudi selatan menunjukkan bahwa pihak berwenang di sana menjadikan para pendatang dari Tanduk Afrika dalam kondisi jorok, penuh sesak, dan tidak manusiawi tanpa memperhatikan keselamatan atau martabat mereka,” kata Adam Coogle, wakil direktur Human Rights Watch di Timur Tengah, setelah diperlihatkan gambar-gambar itu oleh The Sunday Telegraph.

“Pusat-pusat penahanan kumuh di selatan Arab Saudi jauh dari standar internasional. Untuk negara kaya seperti Arab Saudi, tidak ada alasan untuk menahan migran dalam kondisi yang menyedihkan seperti itu,” tambah Coogle.

Menurut The Sunday Telegraph , kondisi di pusat penahanan Covid-19 di Saudi itu yang mengingatkan orang pada kamp-kamp perbudakan di Libya.

Surat kabar ini menemukan banyak migran yang dijadwalkan untuk dideportasi lima bulan lalu telah dibiarkan membusuk di pusat penahanan yang penuh penyakit. “Kami dibiarkan mati di sini,” kata seorang yang mengaku dikurung di sebuah ruangan seukuran ruang kelas sekolah dan tidak pernah keluar sejak Maret.

“Covid19? Siapa tahu ?, Ada banyak penyakit di sini. Semua orang sakit di sini; setiap orang memiliki sesuatu,” imbuhnya.

Gambar-gambar yang diselundupkan menunjukkan banyak di antara mereka yang ditahan menderita infeksi kulit, dan mengaku belum menerima perawatan medis.

“Kami makan sepotong kecil roti di siang hari dan nasi di malam hari. Hampir tidak ada air, dan toiletnya meluap. Itu tumpah ke tempat kita makan. Baunya, kita jadi terbiasa. Tapi ada lebih dari seratus orang di satu ruangan, dan panasnya mematikan kami, “kata pria muda Etiopia lainnya.

Sebuah klip video pendek yang diselundupkan ke luar menunjukkan beberapa ruangan tertutup kotoran yang meluap dari toilet-toilet jongkok. Seorang pria Etiopia terdengar berteriak: “Toiletnya mampet. Kami mencoba mengatasinya tapi tak dapat melakukannya. Jadi kami hidup dalam kotoran ini, kita tidur di dalamnya juga. ”

“Bagi (Saudi] atau bahkan Abiy, kami seolah semut. Saat kami mati, seakan seekor semut yang mati, tidak ada yang peduli atau memperhatikan, “tambah pria itu. Abiy yang dimaksud adalah Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed yang juga seorang pemenang Hadiah Nobel Perdamaian.

Para migran di masing-masing pusat mengatakan ada ratusan dari mereka di setiap kamar. Citra satelit menunjukkan ada beberapa bangunan di kedua pusat tersebut, yang berarti mungkin ada jauh lebih banyak migran di setiap pusat yang tidak dapat dihubungi.

Beberapa migran mengatakan mereka telah ditangkap dari rumah mereka di berbagai kota di Arab Saudi sebelum ditempatkan di kamp.  (mm/thetelegraph)

DISKUSI: