Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Fokus

Mengapa Masyarakat Adat Harus Dilindungi, Ini Jawabannya

Published 03/09/2014 4 Min Read
Share
4 Min Read
SHARE
Kebun Sawit di Kalbar (sumber foto:mongabay.co.id)
Kebun Sawit di Kalbar (sumber foto:mongabay.co.id)

Jakarta, LiputanIslam.com–Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menggelar Pekan Masyarakat Adat Nusantara (PMAN) pada 29 Agustus hingga 31 Agustus 2014 di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Jakarta. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia yang jatuh pada tanggal 9 Agustus 2014 lalu. Tema peringatan tahun ini adalah “Menjembatani Kesenjangan : Melaksanakan Hak-hak Masyarakat Adat”.

“Bagi masyarakat adat nusantara, tema peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia itu sangat sesuai dengan situasi yang terjadi di Indonesia,” jelas Abdon Nababan, Sekjen AMAN, seperti dikutip kotahujan.com.

Menurut Abdon, sejak tahun 2007 AMAN telah merubah cara pandang negara terhadap masyarakat adat. Presiden SBY pada peringatan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia tahun 2006  menyampaikan gagasan adanya Undang-Undang khusus terkait masyarakat adat. Saat ini Rancangan UU tentang Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat tengah dibahas tahap akhir oleh DPR RI.

Apa Itu Masyarakat Adat?

Istilah masyarakat adat mulai mendunia sejak tahun 1950-an, setelah ILO (Organisasi Buruh Internasional) di PBB mempopulerkan isu “indigenous peoples”. Mencuatnya isu masyarakat adat berawal dari berbagai gerakan protes masyarakat adat di Amerika Utara yang meminta keadilan pembangunan. Misalnya, komunitas Inuit di Alaska (negara bagian AS di dekat kutub utara) menjadi korban ketidakadilan pembangunan industri pertambangan di Amerika Serikat. Mereka harus meninggalkan tanah mereka yang dijadikan wilayah tambang migas dan batubara, menuju desa-desa di pinggiran kota.

Di Indonesia, masyarakat adat di berbagai wilayah juga menjadi korban perusahaan-perusahaan besar. Di kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, ada 11 desa yang berkonflik dengan perusahaan patungan Indonesia-Malaysia PT. Menara Alfa Semesta( MAS) selama 15 tahun tanpa kejelasan. Perusahaan MAS, didukung restu Bupati, ‘meminjam’ lahan warga Dayak selama 35 tahun. Sebagai imbal balik, masyarakat dijanjikan akan diberikan rumah layak huni, sekolah, puskesmas dan fasilitas air bersih. Per keluarga kemudian menyerahkan 7,5 hektar tanah dengan pembagian keuntungan 5,5 hektar buat MAS dan 2 hektar untuk keluarga pemilik. Namun, janji ini tidak ditepati oleh MAS. Akibatnya masyarakat adat sengsara dan kelangsungan kehidupan adat mereka terancam.

Perkebunan kelapa sawit beberapa tahun terakhir melakukan ekspansi luar biasa di Indonesia menyusul pemberian ijin oleh kementrian pertanian kepada industri minyak kelapa sawit. Perusahaan boleh mengembangkan lahan dari 20 ribu hektar menjadi 100 ribu hektar per perusahaan per propinsi.

Tersingkirnya Masyarakat Adat Mengancam Kedaulatan Pangan

Masyarakat adat umumnya secara turun-temurun mengelola tanah untuk menghasilkan pangan sehingga kebutuhan pangan mereka tercukupi. Ketika tanah-tanah masyarakat adat diambil alih oleh pabrik-pabrik sawit, praktis produksi pangan menurun dan masyarakat adat menjadi kekurangan pangan. Dalam jangka panjang, kesuburan tanah menurun akibat ditanami sawit dan mengancam ketahanan pangan Indonesia. Ekspansi perkebunan sawit dilakukan besar-besaran oleh perusahaan-perusahaan asing di Indonesia melalui kolusi dan korupsi dengan pejabat (baca: kasus korupsi pemilik perusahaan sawit Hartati Murdaya).

Tujuannya bukanlah untuk sekedar memenuhi kebutuhan akan minyak nabati (pangan) melainkan untuk energi (bahan bakar nabati). Kebutuhan minyak sawit untuk energi jauh luar biasa besar ketimbang untuk produk makanan. Pabrik pengelolaan sawit untuk produksi non energi supaya untung, setidaknya membutuhkan perkebunan 6000 hektar. Sedangkan industri bahan bakar nabati membutuhkan lahan sedikitnya 50 ribu hektar. Parahnya, Indonesia sekalipun dikenal sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia, tetap tidak untung banyak. Industri sawit Indonesia hampir 70 persen masih dikuasai asing. Perlindungan pada masyarakat adat akan melindungi tanah air dan kelangsungan ketahanan pangan kita.(dw)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Fokus

Rudal Iran Sayyad-3G, Lompatan Besar Pertahanan Udara AL Iran

By Muhammad
Fokus

Konflik Teheran-Washington Pasca Unjuk Rasa Akbar Pendukung Pemerintah Iran

By Muhammad
Fokus

Kubu Pro-Saudi di Yaman Isyaratkan akan Bersekutu dengan Ansarullah, Ada Apa?

By Muhammad
Fokus

Jurnalis Atwan Menjawab Mengapa Iran Tiba-Tiba Membongkar Rahasia di Balik Perang 12 Hari

By Muhammad
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account