Beirut, LiputanIslam.com – Beberapa jam sepeninggal Sekjen Hizbullah Sayid Nasrallah beredar video klaim-klaim panas anti-Iran dari seorang pria yang mengenakan baju rohaniwan Muslim Syiah berserban hitam, yaitu warna serban yang dalam tradisi Syiah menandakan bahwa pengenanya adalah seorang sayyid atau keturunan Nabi Muhammad Saw.
Pria itu bernama lengkap Mohammad Ali al-Husaini. Video wawancaranya dengan TV al-Arabiya milik Arab Saudi beredar luas di media sosial. Di situ dia mengklaim para pejabat Iran bermain mata dengan AS dan Israel hingga menyebabkan gugurnya Sayid Hassan Nasrallah.
Banyak orang bertanya-tanya: siapa gerangan pria ini?
Beberapa artikel media menyebutkan bahwa Ali al-Husaini adalah seorang rohaniwan asal Lebanon yang juga berkewarganegaraan Arab Saudi, dan disebut-sebut menjabat sebagai sekjen sebuah organisasi bernama Dewan Arab Islam Arab.
Di masa mudanya, sebagaimana kebanyakan pemuda Muslim Syiah Lebanon selatan, dia bersimpati kepada organisasi politik dan militer Hizbullah, dan kemudian menjadi anggotanya. Tapi tak lama kemudian dia keluar dari Hizbullah dan mendirikan sebuah organisasi baru bernama Resistensi Islam Arab, yang ternyata kontras dengan Hizbullah dan bertujuan melawan resistensi anti AS dan Israel.
Pada tahun 2011 dia diciduk oleh badan keamanan Lebanon dengan dakwaan melakukan aksi spionase untuk kepentingan Israel.
Berikut ini adalah siaran yang pernah ditayangkan oleh TV Al-Manar milik Hizbullah berkenaan dengan Ali Al-Husaini;
Mahkamah militer Lebanon di bawah pimpinan Brigjen Nizar Khalil menjatuhkan vonis hukuman penjara lima tahun dan kerja paksa terhadap Ali Al-Husaini.
Mahkamah militer menjatuhkan vonis hukuman penjara lima tahun serta kerja paksa dan pencabutan hak-hak sipil terhadap agen (Israel) Mohammad Ali al-Husaini, orang yang pernah menjabat sebagai sekjen apa yang dinamai Dewan Islam Arab di Lebanon.
Di berbagai situs internet telah beredar gambar-gambar sayap bersenjata organisasi itu, tapi Ali Al-Husaini lantas diringkus pasukan keamanan.
Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa dia telah berkomunikasi dengan nomor-nomor berkode Inggris dan Berlgia, yang terkait dengan Mossad Israel. Dia melakukan komunikasi itu meski dia mengetahui latar belakang nomor-nomor itu.
Dia juga kerap berkomunikasi dengan jalur Inggris, dan menerima pesan-pesan dari jalur Belgia yang juga digunakan untuk komunikasi
dengan para agen Adib Al-Alam, Antoine Abou Jaoude dan al-Hayek. Ali al-Husaini ketika diusut soal komunikasinya dengan nomor-nomor Mossad hanya bersedia menjawab dengan kata-kata “saya tidak ingat.”
Menurut isi surat putusan terhadapnya, Mahkamah menilai pembelaan terdakwa tidak memuaskan, dan tetap ambigu. Dia enggan menjawab dengan dalih bahwa dia tidak memiliki penjelasan apapun mengenai komunikasinya itu serta orang-orang yang dia berkomunikasi dengan mereka, serta keterhubungan dirinya dengan beberapa perangkat spionase yang terkait dengan dinas rahasia Israel, Mossad.
Al-Husaini, yang mengenakan jubah keagamaan sebagai kedok, telah mengunjungi sejumlah negara serta menjumpai para tokoh Arab dan asing, yang menyambutnya dengan hangat karena dia merepresentasikan kondisi kontra-resistensi di Lebanon.
Media Iran mencatat bahwa Ali Al-Husaini juga terhubung dengan Organisasi Mujahidin Khalq (MKO), kelompok kontra pemerintahan Islam Iran, yang antara lain menjadikannya sebagai narasumber ahli tetap pada Simaye Azadi, saluran televisi MKO.
Al-Husaini juga diketahui sebagai orang yang dekat kalangan yang oleh Iran disebut sebagai “cabang Syiah Inggris”, yaitu agamawan Shirazi dan para pengikutnya.
Al-Husaini telah telah berulangkali mengadakan pertemuan dengan para senator AS dan Inggris serta para pejabat Arab Saudi. Pasca pembunuhan Sayid Hassan Nasrallah oleh Israel, Ali al-Husaini muncul di beberapa media anti-Iran untuk menjalankan tugas dan misinya sesuai pesanan negara-negara musuh Iran. (mm/sahara)