Mantan Returnis ISIS: Bentengi Diri dengan Berpikir Kritis di Medsos

0
139

Sumber: Tribunnews

Jakarta, LiputanIslam.com — Mantan Returnis ISIS Nurshadrina Khaira Dhania menyarankan agar generasi millenial dapat membentengi diri dengan cara berpikir kritis di media sosial agar tidak terpengaruh paham radikal.

“Paham-paham radikalisme ini banyak bertebaran di media sosial (medsos) walaupun offline juga ada. Nah anak muda sebagai generasi milenial ini kan gak bisa jauh dari yang namanya medsos sehingga kita anak-anak muda itu harus bisa membentengi diri ketika bermain medsos. Salah satu caranya dengan berfikir kritis, meningkatkan critical thinking kita. Jadi kalau ada narasi-narasi yang agak aneh, menyebar kebencian, itu kita kritisi dulu, bener gak sih,” kata Nurshadrina Khaira Dhania dalam keterangan tertulis, Rabu (20/11).

Nursadrina Khaira Dhaina pernah terpapar ideologi dan rayuan paham ISIS melalui medsos saat berada di bangku SMA. Ia bahkan mengajak belasan keluarganya, termasuk ayah, ibu, kakak, adik, nenek, paman, dan lain-lain, pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS pada 2016 lalu.

Namun harapannya untuk hidup di negeri khilafah ternyata hanya mimpi belaka. Di sana, Dhania dan keluarganya hidup tersiksa dengan kebiadaban dan kesadisan ISIS. Janji-janji manis yang pernah ia bayangkan pun tak terbukti. Yang ada, tiap hari ia dipaksa melihat kekerasan dan pembunuhan yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

Beruntung, Dhania dan keluarganya bisa melarikan diri keluar dari Suriah dan kemudian berhasil dipulangkan oleh pemerintah Indonesia, melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2017 lalu.

Dari pengalaman pahit itulah, Dhania meminta generasi muda Indonesia untuk benar-benar mewaspadai apapun bentuk propaganda yang dilakukan kelompok ISIS dan radikalisme lainnya. Ia bahkan menggarisbawahi terkait narasi-narasi yang menggunakan dalil-dalil agama.

Lebih lanjut Dhania mengatakan sulit untuk mengetahui ciri-ciri orang yang menyebarkan radikalisme karena hal itu berkaitan dengan paham atau ideologi yang ada di kepala.

“Kita tidak bisa menilai seseorang terkena paham radikalisme dari fisiknya saja, apa dia berjenggot atau pakai celana cingkrang. Kita baru bisa mengetahuinya ketika kita berbincang dengan mereka atau dengan melihat tulisan-tulisannya di medsos,” katanya.

“Berdasarkan yang saya ketahui itu biasanya mereka yang terpapar paham radikalisme ini merasa dirinya paling benar yang lainnya salah. Dan biasanya juga setuju kepada tindakan-tindakan kekerasan. Lalu ketika ada kelompok lain yang menyampaikan argumen tidak mau didengarkan,” ungkap Dhania.

Baca juga: BNPT: Belum Ada Keputusan Nasional Terkait WNI Kombatan ISIS

Menrurt dia, radikalisme ini bisa muncul karena pemahaman agamanya yang kurang. Padahal seharusnya jika dipelajari lebih dalam ternyata tidak seperti itu.

Dia menjelaskan bahwa mereka ambil dalilnya ada satu ayat dicomot kemudian dibuat doktrin. Padahal sebenarnya Allah menjelaskan bahwa ayat-ayatnya itu saling menjelaskan satu sama lain.

“Contoh seperti ayat membunuh, kita lihat-lihat dulu ayat sebelum atau sesudahnya atau di surat lain bahwa konteksnya untuk apa, kenapa ada ayat ini. Jadi kita tahu arti sebenarnya jihad dan hijrah itu sebenarnya,” ujarnya.

Menurut dia, pemerintah berperan penting tidak hanya untuk melakukan kontra narasi tetapi juga bisa membuat sosialisasi kepada masyarakat sehingga bisa memberdayakan masyarakat untuk melakukan pencegahan di lingkungan sekitarnya. (Ay/Antara/Tribunnews)

DISKUSI: