Kunjungi Lebanon, Presiden Prancis Usung Agenda AS-Israel

0
256

LiputanIslam.com-Momen-momen tak lazim dalam kunjungan Presiden Prancis ke Beirut tak mudah terlupakan. Dia datang ke tempat kejadian ledakan dan berbicara dengan warga. Dia mengumbar janji-janji kepada mereka, bahkan tak lupa merangkul seorang warga Lebanon “sebagai tanda simpatinya.” Kepada wartawan, Emmanuel Macron mengaku, dia “seolah sedang mengunjungi salah satu kota Prancis!”

Hubungan khusus antara Prancis dan Lebanon memang tak bisa dibantah. Namun perilaku Macron di Beirut sangat jauh berbeda dengan perilakunya di Prancis dan dengan warganya sendiri. Dia hadir di tengah warga tanpa memedulikan kondisi Corona. Alasan kehadirannya semacam ini bisa diketahui dari statemen yang diucapkannya saat lawatan.

Kepada warga dan wartawan Lebanon, Macron mengaku bahwa dia berencana mengatur bantuan internasional untuk Lebanon. Namun dia mengajukan satu syarat.  Ia mengatakan, bantuan-bantuan ini membutuhkan “reformasi dan inisiatif politis.” Tanpa dua hal ini, ujar Macron, “Lebanon akan terus tenggelam.”

Sudah jelas bahwa syarat yang diajukan Macron adalah syarat dari AS, yaitu agar Hizbullah mengalah, termasuk menyerahkan persenjataannya. Ini adalah syarat demi kepentingan Rezim Zionis. Untuk itu, Barat tak segan menekan semua penduduk Lebanon, terutama pemerintahnya.

Dengan menunjukkan adegan dramatis di depan kamera, Macron tanpa malu mengerahkan usahanya untuk menggiring opini umum melawan Pemerintah Lebanon dan Hizbullah. Dia ingin mengesankan mereka sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam tragedi, meski tahu bahwa Pemerintahan Lebanon saat ini baru berusia tak lebih dari 9 bulan.

Dengan memanfaatkan keputusasaan sejumlah warga Lebanon yang dipicu ledakan Beirut, Macron mengatakan,”Saya datang ke sini bukan untuk mendukung pemerintah tertentu, tapi untuk mendukung penduduk Lebanon. Saya datang untuk menyatakan solidaritas dan simpati saya kepada kalian. Saya datang untuk menyediakan makanan dan obat-obat untuk kalian.”

Memangnya warga Lebanon kelaparan sebelum Macron datang? Bukankah UU Caesar rancangan AS yang menyebabkan rakyat Suriah dan Lebanon menderita? Bukankah UU ini disambut dan didukung Prancis? Jelas bahwa dengan statemen ini, Macron ingin menabur racun dalam madu.

Tak cukup sampai di situ, Macron melangkahkan kaki di luar batas dan bicara soal “era baru.” Bisa jadi, yang ia maksud adalah bahwa dirinya orang yang pertama kali memanfaatkan situasi terbaru Lebanon untuk memaksakan “syarat-syarat baru.” Apalagi kunjungan Macron ke sejumlah pemukiman dibarengi momen-momen tak mengenakkan.

Dalam momen tersebut, sejumlah warga menyerukan slogan dalam bahasa Prancis dan menuntut agar Lebanon kembali menjadi koloni Prancis. Padahal rakyat Lebanon telah membebaskan diri dari koloni ini pada 74 tahun lalu, dengan mengorbankan banyak darah dan para martir. (af/alalam)

Baca Juga:

Misteri Ledakan Dahsyat di Pelabuhan Beirut

‘Burung Pemakan Bangkai’ Saudi Beterbangan di Langit Beirut

 

DISKUSI: