London, LiputanIslam.com –Serangan siber Israel terhadap sistem komunikasi Hizbulah telah menjatuhkan banyak korban. Tak dapat dipungkiri, ini merupakan peristiwa dramatis dan serangan telak secara militer maupun mental. Namun, buntut dari peristiwa ini bisa jadi tak akan kalah tragisnya bagi rezim pendudukan Israel yang sedang bergelut di beberapa front terbuka.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu nekat melancarkan serangan sedemikian rupa demi meluapkan kekesalan atas rontoknya sistem pertahanan udara Isral. Dengan cara demikian dia mencoba memulihkan mental tentara Zionis dan memuskan opini publiknya setelah Israel mendapat pukulan-pukulan hebat di Jalur Gaza, Tepi Barat, Galilee, dan belakangan ini hantaman sengit dari Yaman, yang telah melesatkan rudal hipersonik “Palestina 2” terhadap sasaran di jantung Tel Aviv, setelah jauh hari sebelumnya meluncurkan drone serang yang menempuh jarak 2040 kilometer dan kemudian meledak hanya beberapa meter dari Kedubes AS di Tel Aviv.
Israel sudah 11 bulan telah mengerahkan kekuatan militernya di Jalur Gaza, namun tak kunjung berhasil menumpas Hamas dan faksi-faksi pejuang Palestina lain di sana. Sebaliknya, tentara Israel menderita banyak kerugian, dan kehilangan wibawanya. Dalam kondisi demikian, jelas tak mungkin Israel dapat mengalahkan Hizbullah, yang memiliki arsenal rudal presisi berjumlah 150,000 unit serta jaringan terowongan bawah tanah dengan luas area lebih dari separuh wilayah darat Lebanon, dan memiliki pula lebih dari 150,000 kombatan, yang tak pernah terlibat perang kecuali meraih kemenangan, mulai dari Lebanon selatan, hingga Irak dan kemudian Suriah.
Netanyahu yang menderita frustasi berusaha memperluas zona perang dan melibatkan AS di dalamnya agar dia dapat lolos dari krisis. Karena itu dia melancarkan serangan siber, yang bisa jadi juga sebagai persiapan untuk melancarkan serangan darat dan mengulangi okupasi atas Lebanon, setidaknya di bagian selatannya, menumpas Hizbullah, dan kembali kepada keadaan pra kekalahan pasukan Zionis pada tahun 2000 di mana mereka terpaksa angkat kaki dari Lebanon demi menghindari kerugian yang lebih besar akibat gempuran kubu resistensi yang dipimpin Hizbullah.
Netanyahu menggantungkan harapannya pada asumsi bahwa Hizbullah tak menghendaki perluasan perang sehingga reaksi Hizbullah tidak besar dan tak sampai menggunakan semua ataupun sebagian rudal presisinya untuk menggempur kota-kota besar di Palestina pendudukan semisal Haifa, Tel Aviv dan Al-Quds beserta fasilitas infrastrukturnya, termasuk pusat-pusat suplai air dan listrik serta bandara dan pelabuhan laut.
Serangan siber yang telak memungkinkan Hizbullah untuk meninjau ulang kebijakannya selama ini di mana mereka merasa cukup hanya dengan perang atrisi di bagian utara Palestina pendudukan. Hizbullah bisa jadi akan bertindak lebih jauh setelah strategi kesabaran ternyata kontra-produktif dan malah mendorong Netanyahu untuk melakukan eskalasi dan meningkatkan serangan provokatif.
Kesabaran adalah hal yang sama selama ini juga dijalani oleh faksi-faksi pejuang resistensi lainnya di Gaza, Tepi Barat, Yaman, Irak dan Suriah di mana mereka sedapat mungkin menghindari jatuhnya korban dari kalangan yang bagaimana pun juga dipandang oleh khalayak dunia sebagai warga sipil, dan karena itu mereka berfokus hanya pada target-target militer.
Komitmen moral demikian jelas-jelas tak diindahkan oleh pihak Israel, yang bahkan melakukan genosida di Jalur Gaza, dan kini menebar serangan teror berbasis siber di Lebanon. Komitmen moral demikian, sebagaimana dikata banyak orang, sepertinya sudah tidak relevan lagi untuk diindahkan oleh elemen-elemen Poros Resistensi, terutama di Gaza dan Lebanon selatan.
Netanyahu telah menyulut api perang skala besar dengan melancarkan pembunuhan massal di Lebanon selatan yang dilakukan dengan koordinasi dan dukungan penuh dengan AS. Karena itu, Netanyahu harus menantikan semua dampaknya yang akan fatal.
Serangan darat atau serangan udara secara meluas Israel terhadap Lebanon akan menjadi babak awal bagi tamatnya negara pendudukan Zionis, sebab akan mengobarkan perang skala regional. Warga Zionis bagian utara Palestina pendudukan yang selama ini terpaksa mengungsi ke wilayah tengah dan selatan, alih-alih dapat pulang, justru akan kabur bersama lebih dari tujuh juta orang Zionis lainnya ke Eropa, AS, Kanada dan Australia, itu pun melalui jalur laut, karena tidak akan bandara maupun pesawat yang akan datang menyelamatkan mereka seperti terjadi pada para antek AS di Vietnam dan Afghanistan.
Pernyataan awal yang dirilis Hizbullah menyusul serangan siber Israel berisi ancaman pembalasan atas tragedi yang menjatuhkan banyak korban, yang sebagian besar adalah warga sipil pendukung Hizbullah, tersebut.
Ada dugaan kuat, termasuk di Israel sendiri, bahwa dalam pembalasan yang akan datang, Hizbullah tidak akan lagi banyak perhitungan sebagaimana balasan-balasan sebelumnya. Dan dapat dipastikan bahwa akan terjadi transformasi besar, krusial dan fundamental di Timteng, atau bahkan bisa di dunia. (mm)
* Artikel ini disadur dari tulisan Abdel Bari Atwan, pemred media online Rai Al-Youm, London.