Ketika Para Bintang Hollywood Bersimpati kepada Palestina

0
2585

LiputanIslam.com – Dalam krisis terbaru antara Palestina dan Israel, berbagai media sosial diwarnai kampanye solidaritas untuk Palestina serta kecaman terhadap provokasi dan eskalasi Israel,  pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Untuk pertama kalinya kampanye solidaritas untuk Palestina itu bahkan mendapat simpati dari para selebritis dan bintang Hollywood semisal Mark Rufallo, Viola Davis,  dan bahkan aktris Amerika-Israel Natalie Portman. Dan untuk pertama kalinya pula, tak ada pernyataan simpati lagi dari para bintang Hollywood untuk Israel kecuali cuitan dari aktris Israel Gal Gadot, yang ternyata mendapat respon banyak kecaman sengit dari warganet sehingga dia kemudian terpaksa menghapus cuitannya.

Padahal, hingga tak lama menjelang krisis Palestina-Israel tersebut segala pernyataan dukungan kepada Palestina ataupun kritikan terhadap Israel dari para bintang Hollywood selalu mengundang reaksi kecaman pedas dari para fans mereka dan celaan dari para petinggi Hollywood, sehingga bahkan menghancurkan karir mereka. Sebab, Israel sejak berdiri sudah menjalin hubungan erat dengan Hollywood dan para petingginya, yang kebetulan banyak di antaranya adalah orang Yahudi, demi mengkampanyekan Israel sebagai negara demokratis dan cinta damai serta “negara beradab yang berkonflik dengan dunia Arab yang  terbelakang”.

Heroisme Zionis di Hollywood

Buah hasil hubungan Israel-Hollywood itu ialah film “Exodus” yang produksinya melibatkan para pesohor Hollywood penulis skenario Dalton Trumbo, sutradara Otto Preminger, dan aktor kelas dunia Paul Newman. Film yang dirilis pada tanggal 14 Desember 1960 ini dibuat di Israel dan mempersembahkan proyek kaum Zionis untuk mendirikan Israel dengan mengangkat kisah kapal para imigran Yahudi korban selamat tragedi Holocaust.

Dikisahkan bahwa kapal “Eksodus” itu berlabuh di Palestina meskipun Inggris mencegahnya dan berusaha menampung para penumpangnya di kota-kota Inggris dan sekitarnya, dan bahwa setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendeklarasikan pembagian Palestina menjadi Yahudi dan Arab, orang-orang Arab lantas melancarkan serangan brutal, termasuk dengan membunuhi kaum perempuan dan anak-anak kecil kaum Yahudi tersebut, sehingga mereka membela diri dengan penuh gagah berani lalu menang dan mendirikan negara Israel.

Film yang kemudian dikenal sebagai epik Zionis ini menjadi salah satu film paling sukses dalam sejarah Hollywood. Film ini berpengaruh besar pada opini publik AS sehingga dukungan AS kepada Israel dan Zionis menguat seiring dengan memburuknya citra Arab di mata publik AS. Arab menjadi tampak sebagai kaum barbar yang memerlukan peradaban.

Namun, kemunculan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di kancah internasional dengan mengusung tuntutan hak orang-orang Palestina setelah Israel menduduki Tepi Barat dan Jalur Gaza pada tahun 1967 mengundang perhatian dan simpati media Barat serta menyulitkan posisi Israel, karena yang menjadi korban kali ini adalah Arab Palestina dan bukan lagi Israel.

Tak lama kemudian, keadaan berbalik lagi; Israel kembali menyandang status korban setelah Partai “September Hitam” Palestina menculik para atlet Israel pada olimpiade 1972 dan lalu membunuh mereka ketika berlangsung proses upaya evakuasi mereka. Media Barat kembali memojokkan orang-orang Palestina, yang di berbagai film Hollywood juga selalu ditampilkan sebagai antagonis teroris pembajak pesawat, pembunuh kaum Yahudi tak berdosa, dan bahkan pemerkosa kaum wanita Yahudi.

Srikandi Inggris Pembela Palestina

Betapapun demikian, saat itu justru muncul seorang aktris sekaligus aktivis pemberani Inggris Vanessa Redgrave membela Palestina dengan membuat dan membintangi film pertama tentang orang-orang Palestina berjudul “The Palestinian”. Akibat film yang dirilis tahun 1977 ini, Redgrave menuai kecaman dari sana sini dan bahkan mendapat ancaman dari gerakan-gerakan Zionis dan para pembuat film di Hollywood. Karir Redgrave terbengkalai, namun dia tak menyerah, meskipun terjadi ledakan bom di depan gedung bioskop di AS menjelang festival pemutaran film The Palestinian.

Pada tahun 1978, ketika Redgrave dinominasikan sebagai pemenang Piala Oscar atas aktingnya dalam film Julia, terjadi kampanye anti- Redgrave oleh para anggota  Liga Pertahanan Yahudi, yang menggelar unjuk rasa di depan pusat festival. Meski demikian, dia tetap merebut Piala Oscar. Hebatnya lagi, dalam kata sambutannya saat menerima piala itu dia mengecam para pendemonya dan menyebut mereka sebagai kaum preman Zionis.

Tak pelak, kata sambutan itu direspon dengan cemoohan dari peserta festival. Penulis skenario ternama Paddy Chayefsky turut mencemoohnya ketika sembari bertepuk tangan dia mengatakan bahwa Redgrave seharusnya tahu diri dengan berterima kasih, tutup mulut soal konflik Palestina-Israel, dan dan tak menjadikan acara penyerahan Piala Oscar sebagai ajang untuk mempromosikan opini pribadinya.

Kemunculan Film Palestina

Pandangan Hollywood terhadap Palestina secara bertahap mengalami pergeseran pada akhir-akhir dekade 1990-an, setelah terjalin Perjanjian Oslo antara Israel dan PLO serta pecahnya intifada kedua pada awal milenium baru. Intifada ini terliput secara meluas di media Barat dan terungkap bagaimana penderitaan orang-orang Palestina.

Selain itu muncul pula film sinema tentang Palestina berkat film-film yang digarap oleh para produser semisal Elia Suleiman,  Mohammad Bakri dan Hany Abu-Assad, sehingga realitas Palestina dari sudut pandang orang Palestina mengemuka untuk pertama kalinya dan kemudian menginspirasi para produser dunia.

Pada tahun 2005, pemuka Hollywood Steven Spielberg mempersembahkan film “Munich” yang berfokus pada sepak terjang Mossad untuk memburu dan membalas dendam para anggota Black September pasca pembantaian di Munich. Namun, alih-alih menampilkan orang-orang Palestina sebagai pihak antagonis, Spielberg yang berdarah Yahudi justru mencitrakan mereka sebagaimana komunitas masyarakat manusia lain yang berjuang demi meraih kebebasan dan kehormatan, sedangkan Israel membabi buta dalam melampiaskan dendam kesumat sehingga juga menyasar dan membunuh orang-orang yang tak bersalah, dan lalu pemimpin regu Mossad sendiri mempertanyakan moralitas operasinya.

Tak ayal lagi, Israel dan gerakan-gerakan Zionis di AS mengutuk film itu dan mengkampanyekan boikot terhadapnya. Dan yang membuat mereka makin kebakaran jenggot ialah bagaimana seorang Spielberg yang dikenal sebagai simpatisan berat Israel dan cukup loyal kepada kaum Zionis ternyata dapat memanusiakan karakter pejuang Palestina dan memberinya kesempatan untuk berbicara mengenai penderitaan dan impiannya untuk kembali ke Palestina.

Pada tahun 2010, produser Harvey Weinstein serta pelukis dan pembuat film Julian Schnabel, yang juga sama-sama orang Yahudi,  membuat  film “Miral” yang menjadi film Hollywood pertama tentang Palestina dari perspektif tokoh Palestina. Film ini disadur dari narasi jurnalis cantik Palestina Rula Jebreal, dan mendokumentasikan sebuah tempat penampungan para pengungsi Palestina – yang didirikan oleh Hind al-Husseini sejak Tragedi Nakba Palestina tahun 1948 sampai intifadah pertama pada akhir dekade 1980-an- dengan mengangkat kisah Miral, seorang gadis Yatim yang masuk ke penampungan itu pada dekade 1970-an.

Apa lacur, berbeda dengan film Munich, film Miral tak sanggup bertahan di depan dahsyatnya tekanan kaum Zionis di AS, yang menyelengggarakan aksi-aksi demo keras di depan markas PBB dan mendesak supaya film itu dilarang ditayangkan di sana. Selain itu, beberapa komunitas di Hollywood, termasuk  Asosiasi Pers Asing Hollywod (Hollywood Foreign Press Association/HFPA) menolak menghadiri acara penayangan film itu di sana.  Pada akhirnya, film itu gagal secara komersial.

Nasib sial ini juga menimpa film “A Tale of Love and Darkness” besutan Natalie Portman, yang disadur dari novel penulis Israel berhalauan kanan Amos Oz. Film ini berlatar belakang aneka peristiwa Palestina tahun 1947 dan mengangkat kisah sebuah keluarga Yahudi Eropa yang menemukan rasa aman dan damai bersama para tetangga Arabnya di Quds (Yerussalem) hingga kemudian terjadi perang antara kedua pihak pasca pecahnya Palestina, yang meskipun kaum Yahudi menang namun pendirian negara Israel ternyata malah memudarkan rasa aman dan bahagia pada keluarga itu.

Selanjutnya, Natalie Portman menolak Israel Prize yang dianugerahkan Rezim Zionis kepadanya. Penolakan itu dia lakukan untuk menandai protesnya terhadap rasisme Israel. Di kemudian hari dalam sebuah wawancara pada tahun 2019  dia juga mencemooh “Hukum Dasar” (Basic Law) alias Undang-Undang Kebangsaan Yahudi dan menyebutnya rasis.

Media sosial menjadi salah satu katalisator utama dinamika pola pikir Hollywood dan para bintangnya, Yahudi maupun non-Yahudi, terhadap Palestina. Media sosial yang menerobos hambatan-hambatan formal antara fakta dan persepsi telah mengguncang narasi arus utama ihwal Israel di media massa konvensional, sebagaimana media sosial juga menyengat narasi rasisme ihwal kaum kulit hitam.

Akibatnya, Hollywood terpaksa menunjang pluralisme dan menghindari stereotipe terhadap minoritas dan orang-orang tertindas dalam film-filmnya. Tak syak lagi, perubahan demikian akan sangat berpengaruh pada opini publik AS terhadap Palestina dan membuka peluang bagi khalayak AS untuk dapat lebih memahami perkara yang dihadapi oleh Palestina. (mm/qa)

DISKUSI: