Ketika MbS Jadi Sapi Perahan AS

0
3693

LiputanIslam.com –Situs “Foreign Lobby” Amerika mengeluarkan laporan yang mengatakan bahwa kas negara Arab Saudi telah menandatangani kontrak dengan perusahaan konsultan “Teneo” yang bermarkas di New York dengan nilai kontrak sebesar $2,7 juta (sekitar Rp 38 Milyar ). Dana sebesar itu digelontorkan dari kas negara Arab Saudi untuk sebuah perusahaan swasta di AS dengan tujuan meredakan ketakutan investor Amerika terkait dengan investasi di Arab Saudi. Teneo juga berkewajiban membuat langkah-langkah propaganda dalam rangka memerangi media massa di AS yang mengkritik Mohammed bin Salman.

Menurut situs tersebut, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menggunakan kekayaan kerajaan untuk memoles citranya di Barat dan mengurangi kritik yang ditujukan kepadanya. Perusahaan konsultan tersebut disewa untuk memerangi pers yang mengkritik bin Salman atas sejumlah kejahatannya terhadap para aktivis perdamaiam serta sikap represifnya atas kebebasan berpendapat dan berekspresi di Arab Saudi.

Kas Negara atau Kas Pribadi?

Situs Alwaght menulis, banyak bukti yang menunjukkan bahwa sejak naik takhta dalam kudeta tak berdarah pada tahun 2017, Mohammed bin Salman telah melakukan berbagai upaya sehingga perbendaharaan atau kas kerajaan diubah menjadi kas pribadi. MbS juga melakukan pengelolaan atas pebendaharaan itu demi untuk mencapai tujuan dan ambisi pribadinya. Alwaght mengungkapkan bahwa saat ini, Mbs menggunakan dana negara sekehendak hatinya, demi kepentingan pribadinya, meskipun dana tersebut sejatinya diperoleh dengan mengenakan pajak yang tinggi kepada masyarakat, tanpa peduli bahwa ekonomi rakyat sedang kembang kempis akibat pandemi. Bahkan, sebenarnya, dana tersebut juga diperoleh dari pemasukan devisa haji dan umrah, dan ini bermakna bahwa MbS melakukan privatisasi dana-dana yang masuk dari para peziarah yang berasal dari seluruh dunia.

Kembali kepada ekonomi dalam negeri Saudi, selama era MbS, warga negara menjadi objek ekonomi dan harus membayar perbendaharaan melalui sistem pajak baru, dan lembaga layanan berubah menjadi perusahaan penagihan; dan lembaga militer berubah menjadi perusahaan keamanan yang melindungi kepentingan para pengeran, dengan fungsi utama memata-matai warga negaranya sendiri. Adapun Dana Investasi Publik, berubah menjadi portofolio pribadi untuk dia hambur-hamburkan sesuai dengan kepentingan pribadinya.

Upaya Pencitraan

Salah satu pos belanja negara adalah upaya pencitraan bagi MbS yang selama ini banyak menciptakan skandal. MbS sebenarnya masih sangat muda dan tidak punya banyak pengalaman. Namun, ia juga sangat ambisius. Akibatnya, ia sangat sering mengambil keputusan yang sangat fatal hingga menjadi skandal. Akan tetapi, untuk mengatasi berbagai skandal yang ia buat, MbS cenderung mengambil langkah menutupinya dan menggunakan kekuatan media dalam rangka memberikan citra baik bagi dirinya, meskipun langkah itu harus ia tebus dengan dana yang sangat besar. MbS sepertinya tidak tertarik dengan evaluasi dan koreksi.

Kasus pembunuhan aktivis Saudi, Abdurrahim Al-Huwaiti, tahun lalu, adalah salah satu contohnya. Al-Huwaiti tampil melakukan perlawanan terhadap pembangunan proyek kota impian NEOM yang menggusur paksa sukunya dari kawasan yang sudah mereka tempati berabad-abad. Akibatnya, Al-Huwaiti ditetapkan sebagai teroris, dan kemudian dibunuh. Akibat skandal tersebut, beberapa organisasi hak asasi manusia mengajukan tuntutan hukum terhadap MbS dan Kerajaan Saudi. Konsekwensi dari adanya tindakan hukum itu adalah mundurnya sejumlah perusahaan internasional dari investasi proyek kota bisnis NEOM. NEOM adalah sebuah mega proyek ambisius MbS senilai $500 miliar (sekitar Rp 7.124 Trilyun)!

Lantas, apa yang dilakukan MbS saat para investor mulai menarik investasi mereka? Alih-alih menghadapi tuntutan hukum atau mengoreksi tindakannya itu, MbS memilih untuk menandatangani perjanjian kontrak senilai $1,7 juta (sekitar Rp 26 Miyar) dengan perusahaan advertising “Ruder Finn”. Perusahaan itu diminta untuk meningkatkan promosi kota NEOM, dan mengeliminasi sentimen negatif dunia terhadap MbS akibat skandal pembunuhan terhadap Al-Huwaiti tersebut. Kontrak ini menetapkan bahwa perusahaan tersebut akan mengembangkan situs web dan halaman media sosial untuk NEOM, selain kampanye iklan di media internasional dan media sosial “terkait dengan mempromosikan NEOM sebagai kota masa depan.” Pekerjaan perusahaan juga mencakup upaya untuk mempengaruhi anggota publik AS dan pejabat pemerintah AS terkait proyek kota NEOM, yang melayani kepentingan politik pemerintah Saudi.

Di Inggris, Pangeran bin Salman juga memoles citranya setelah pembunuhan Khashoggi dan membayar ratusan juta pound kepada perusahaan periklanan dan hubungan masyarakat “CTF Partners” yang dijalankan oleh Sir Lynton Crosby, sekutu dekat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, demi memoles citra sang putra mahkota.

Skandal pembunuhan Khasoggi ini juga berdampak kepada isolasi politik Pangeran Mohammed bin Salman di kawasan Asia. Untuk mengeliminasi dan menetralisir sentimen negatif tersebut, MbS misalnya, mendatangi Pakistan, dan menawarkan investasi sebesar 20 miliar dolar (sekitar Rp 280 Trilyun) kepada Pakistan, dengan imbalan bahwa Pakistan tetap menjadi sekutu terdekat Arab Saudi, serta menunjukkan sambutan ramah saat MbS berkunjung ke Islamabad.

Memoles Citra, Menjadi Sapi Perahan

Ketika MbS mengunjungi Amerika Serikat selama era sekutu strategisnya Trump, Majalah National Enquirer yang diterbitkan American Media Inc. memutuskan untuk mengeluarkan edisi khusus menyambut kedatangan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (Januari 2018). Edisi khusus majalah itu berisikan sejumlah laporan yang memuji bin Salman. Sejumlah artikelnya berjudul: “Mohammed bin Salman dan Visi 2030”, “Sekutu Terdekat Kami di Timur Tengah Menghancurkan Terorisme”, “Mengendalikan Imperium $4 Triliun yang Menakjubkan”, dan “Membangun Masa Depan Kota Impian Senilai $640 miliar”.

Edisi dengan kertas glossy itu dicetak sebanyak 200 ribu eksemplar, dan dijual dengan harga 13,99 dolar (sekitar Rp 200 ribu). Anehnya, edisi khusus ini tidak berisikan satu iklan pun, sehingga para pengamat bertanya-tanya apakah ada uang asing atau Saudi yang berkontribusi pada produksi masalah ini.

Itu terjadi di era Trump. Kini, pemerintahan sedang dipegang oleh Biden dari Demokrat yang dikenal lebih kritis terhadap isu-isu HAM. Pemerintahan Biden cenderung bersikap kritis terhadap berbagai masalah HAM di Saudi, termasuk mengungkit kembali pembunuhan Khashoggi. Terkadang, para pejabat Gedung Putih menyerang Saudi dan mengaitkannya dengan peristiwa 11 September. Semua “serangan” AS terhadap MbS itu ujung-ujungnya adalah keluarnya kas negara Saudi demi memoles citranya yang terus dikoyak-koyak oleh kebijakan luar negeri AS khas Partai Demokrat.

Itulah yang saat ini sedang menimba Arab Saudi. Negara itu terus menjadi sapi perahan bagi berbagai perusahaan advertising dunia, khususnya AS. Pangeran muda mereka yang sangat ambisius ini menghambur-hamburkan uang negara di Timur dan Barat untuk mengais-ais pujian palsu. (alwaght/li/os)

DISKUSI: