Ketika Covid-19 Melumpuhkan Visi 2030 Saudi

0
2143

LiputanIslam.com –Covid-19 telah memanggang hampir seluruh belahan dunia. Pandemi ini betul-betul mengubah wajah dunia dan menyisakan pertanyaan besar terkait dengan situasi yang tercipta pasca pandemi. Pertanyaan yang sama juga tertuju kepada Arab Saudi sebagai negara tempat dua kota suci ummat Islam. Apa yang sedang di Arab Saudi dan bagaimana nasib negara ini setelah badai virus berlalu?

Setelah naiknya Mohammad bin Salman sebagai putera mahkota tahun 2016 lalu, Arab Saudi kelihatan melakukan banyak sekali pergerakan politik ekonomi berskala internasional. Selain menggelar perang Yaman dan meneruskan dukungan kepada kelompok Islam radikal yang mengacak-acak Suriah, Arab Saudi juga menggelar proposal ekonomi yang mereka sebut Visi 2030. Tujuan utama yang dikejar oleh Visi 2030 adalah menjadikan Arab Saudi di tahun 2030 sebagai pusat perekonomian kawasan Timur Tengah serta memutus kebergantungan ekonomi Saudi dari minyak dan gas. Target yang kedua ini memang mau tak mau harus dikejar Saudi, mengingat cadangan migas mereka yang semakin habis, dan semakin beralihnya warga dunia kepada sumber energi alternatif.

Dalam konteks inilah Mohammad bin Salman menggelar berbagai reformasi di bidang politik, ekonomi, dan bahkan budaya. Arab Saudi dilaporkan semakin liberal. Bioskop, klub malam, dan konser sudah mulai diizinkan. Di sisi lain, sejumlah subsidi dicabut dan pajak dinaikkan. Beberapa pangeran yang ditengarai menjadi rival politik disingkirkan, dan sebagiannya dijebloskan ke dalam penjara.

Secara ekonomi, Saudi jelas butuh modal besar untuk mewujudkan Visi 2030 itu. Maka, mereka pun mengundang para investor besar dunia. Tapi, hambatan besar pertama muncul manakala Mohammad bin Salman terjerat skandal pembunuhan jurnalis Jamal Khassoghi, yang membuat para investor mengkhawatirkan keamanan investasi mereka. Secara umum, bisa dikatakan bahwa tak begitu banyak investasi yang masuk ke Arab Saudi.

Arab Saudi juga sangat mengandalkan penjualan minyak. 60 juta dolar per barrel adalah harga minimal yang mereka tetapkan agar laba dari penjualan minyak ini bisa dipakai untuk membiayai berbagai program ekonomi dalam konteks mewujudkan Visi 2030. Tapi, ternyata harga minyak malah menukik tajam ke angka 30 dolar per barrel, gara-gara perang harga minyak Saudi dengan Rusia. Memang benar bahwa dengan harga 30 dolar, Arab Saudi masih punya margin keuntungan, karena biasa produksi mereka hanya 20 dolar per barrel. Akan tetapi, dihubungkan dengan Visi 2030, harga itu adalah pukulan yang sangat telak.

Di saat harga minyak anjlok, muncullah Covid-19 yang melumpuhkan transportasi dunia. Berbagai negara melakukan penutupan wilayah, dan itu artinya banyak pesawat yang tak beroperasi. Ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga, Arab Saudi saat ini dihadapkan kepada persoalan besar penjualan minyak mereka. Sudahlah harganya murah, pembelinya juga jauh berkurang. Maka, makin suramlah nasib Visi 2030.

Masih terkait dengan pengumpulan modal dari sektor migas, Arab Saudi juga melakukan strategi penjualan saham kilang minyak terbesarnya: ARAMCO. Mula-mula, Saudi menetapkan angka 2 trilyun dolar untuk keseluruhan saham ARAMCO (lima kali lipat nilai perusahaan raksasa Exxon Mobile). Artinya, cukup dengan menjual 5%, Saudi berharap mendapatkan dana segar sebesar 100 milyar dolar. Tapi langkah inipun gagal. Tak ada yang mau membeli saham semahal itu.

Titik lain yang sangat diharapkan oleh Saudi sebagai modal untuk menopang Visi 2030 adalah pemasukan dari sektor pariwisata, yaitu dari sektor penyelenggaraan ibadah haji dan umrah. Sebagai penguasa Al-Haramain Asy-Syarifain (Masjidul Haram dan Masjid Nabawi), tiap tahun Arab Saudi menerima kunjungan rata-rata 20 juta peziarah dari seluruh dunia. Selama musim haji saja, Saudi menerbitkan visa bagi lebih dari 2,5 juta calon haji.

Dalam konteks Visi 2030, Saudi mencanangkan jumlah peziarah naik menjadi 30 juta per tahun. Lagi-lagi, virus Korona membuat rencana Saudi ini menjadi berantakan. Jangankan menaikkan jumlah peziarah, untuk mempertahankannya pun Saudi dibuat kelimpungan. Sejak sebulan lalu, hingga batas waktu yang entah sampai kapan, Saudi menutup diri dari mereka yang mau melakukan ibadah umrah. Padahal, masa-masa menjelang Ramadhan hingga Idul Fitri adalah puncak kedatangan para peziarah yang hendak melakukan ibadah umrah.

Bukan hanya ibadah umrah di bulan Ramadhan yang kemungkinan besar tak bisa dilaksanakan, bahkan ibadah haji pun terancam tak bisa digelar, kalau pandemi COVID-19 ini belum juga mereda. Jika itu yang terjadi, pukulan bagi Saudi dalam konteks perwujudan Visi 2030 semakin terasa bertubi-tubi.

Begitulah situasi yang dihadapi Arab Saudi di saat ini di tengah-tengah pandemi yang mematikan. Sebagaimana juga yang bisa kita saksikan pada negara-negara Barat yang merupakan sekutu dekat, masa depan Arab Saudi pun diselubungi kabut ketidakpastian. (os/alwaght)

DISKUSI: