Kenapa Eropa Perintahkan Warganya Keluar dari Iran Saat Kerusuhan Mereda?

0
1227

LiputanIslam.com-Unjuk rasa yang dilakukan warga di tiap negara adalah hal lazim dan merupakan bagian dari hak yang diakui oleh sistem demokrasi.

Jamaknya warga melakukan protes ketika melihat tuntutan mereka tidak tersampaikan kepada Pemerintah melalui jalur-jalur biasa, atau ketika Pemerintah tidak mengambil langkah berarti untuk memenuhi tuntutan mereka.

Kadang kala, tuntutan yang bertumpuk dan tak segera direspons bisa menyebabkan munculnya amarah di tengah warga, bahkan bisa berujung kepada kekerasan dalam unjuk rasa. Hal ini sudah kerap terjadi di berbagai negara.

Contoh terbaru adalah demo Rompi Kuning di Prancis yang berlangsung hingga lebih dari 1 tahun. Demo ini menelan sekira 10 korban jiwa dan puluhan korban luka, juga mengakibatkan kerugian senilai jutaan Euro.

Biasanya jika kerusuhan terjadi di sebuah negara, bisa dipahami jika negara-negara lain meminta warganya untuk keluar dari negara tersebut. Ini adalah sebuah respons alamiah dari pihak otoritas negara-negara itu.

Beberapa hari lalu, sejumlah negara Eropa tanpa memberikan keterangan jelas meminta para warga mereka untuk segera meninggalkan Iran. Tindakan ini awalnya dilakukan oleh Belanda dan Prancis, kemudian disusul Jerman, Austria, Belgia, Spanyol, dan Italia.

Dengan beberapa alasan, tindakan beberapa negara Eropa ini tentu memicu banyak pertanyaan di benak publik dalam dan luar negeri Iran.

Tindakan ini tidak wajar dan sedikit mencurigakan karena negara-negara ini masih mempertahankan keberadaan warga mereka saat kerusuhan masih dalam puncaknya. Namun sekarang, di saat kerusuhan sudah bisa dikatakan telah mereda, negara-negara ini justru menginstruksikan warga mereka untuk hengkang.

Jelas bahwa respons semacam ini secara substantif menunjukkan sinyal-sinyal sebuah proses intervensi.

Patut diingat bahwa sejak awal kerusuhan, media sejumlah negara meliput berita secara tendensius dan membesar-besarkan kejadian kecil, demi memprovokasi para pemrotes untuk melakukan kekerasan. Poin ini akan sangat membantu untuk memahami keputusan tak lazim negara-negara Eropa di atas.

Respons negara-negara Eropa terhadap protes domestik di Iran dan pembandingannya dengan kasus-kasus serupa di banyak negara lain secara jelas mengungkap intervensi terencana mereka dalam kerusuhan baru-baru ini. Sikap mereka membuktikan bahwa protes biasa di Iran merupakan sarana bagi anasir asing untuk memicu kekacauan.

Kehadiran fisik para anasir asing di tengah kerusuhan, meski mereka pernah ditindak tegas dalam kasus-kasus serupa di tahun-tahun silam, adalah bukti bahwa proyek ini terus dilakukan secara serius kendati ada risiko mereka akan ditangkap.

Penangkapan warga Prancis, yang masuk ke Iran sebagai turis dan telah menjalin kontak dengan kelompok-kelompok yang berniat menimbulkan kerusuhan dengan dalih sejumlah tuntutan, adalah contoh kecil dari intervensi negara-negara Barat dalam urusan domestik Iran.

Tampaknya dipublikasikannya pengakuan para mata-mata Prancis oleh Televisi Iran adalah peringatan keras bagi negara-negara Eropa lain agar mereka berpikir ulang soal melibatkan warga mereka dalam urusan dalam negeri Iran.

Kini dengan adanya instruksi agar warga Eropa hengkang dari Iran, mencuat kemungkinan bahwa orang-orang tersebut berperan, dalam berbagai bentuk, dengan insiden-insiden lalu. Instruksi hengkang ini dikeluarkan demi melindungi mereka agar tidak ditangkap.

Namun bersamaan dengan redanya kerusuhan, tindakan ini juga bisa dianggap sebagai strategi untuk memberikan semangat kepada para perusuh dan mengirim pesan soal berlanjutnya dukungan Barat kepada mereka.

Sanksi-sanksi baru yang dijatuhkan AS terhadap beberapa menteri dari Kabinet ke-13 Iran juga merupakan mata rantai lain dari tekanan Barat demi mendukung kerusuhan.

Sanksi-sanksi yang dijatuhkan dengan dalih “persekusi terhadap para pengunjuk rasa” menunjukkan bahwa Barat, terutama AS, tidak akan melewatkan peluang sekecil apa pun untuk mengintervensi urusan domestik Iran dan menciptakan kesenjangan di tengah bangsa Iran, yang merupakan sisi lain dari berlanjutnya kebijakan Tekanan Maksimum Washington atas Teheran. (af/nournews)

DISKUSI: