Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Fokus

Kenaikan BBM Harus Dikaji Ulang

Published 19/11/2014 7 Min Read
Share
7 Min Read
SHARE

kilang minyakJakarta, LiputanIslam.com--Kenaikan harga untuk dua jenis BBM sebesar Rp 2000/liter terus memunculkan tanggapan pro-kontra. Martapura Institute, dalam siaran persnya menilai kenaikan BBM ini perlu dikaji ulang. Bila pemerintah menaikkan BBM dengan tujuan membuka ruang fiskal, sesungguhnya itu dapat dilakukan tanpa perlu menaikkan harga BBM.

Menurut Martapura Institute yang berkantor di Jalan Martapura Dalam Jakarta Pusat ini, terdapat selisih lebih antara subsidi riil dengan alokasi dana subsidi didalam APBN. Sebagaimana diketahui, untuk tahun 2015, maka APBN 2015 telah mengalokasikan belanja subsidi BBM jenis tertentu (Premium, Solar dan Minyak tanah) sebesar Rp 194,6 triliun untuk kuota sebanyak 46 juta kilo liter, yang terdiri dari Rp 108,3 triliun untuk kuota sebanyak 29,48 juta kilo liter, Minyak Solar Rp 80,2 triliun untuk kuota sebanyak 15,76 juta kilo liter dan Minyak Tanah Rp 6,1 triliun untuk kuota sebanyak 850 ribu kilo liter.

Sementara berdasarkan peraturan presiden No. 71 tahun 2005 dan Peraturan Menteri Keuangan No.65/PMK.02/2012, formula perhitungan subsidi yaitu; volume x (harga patokan – harga eceran). Maka sesungguhnya harga patokan BBM (ongkos produksi perliter BBM) adalah sebesar Rp 8.250/liter. Dengan demikian, ketika Premium sekarang dijual Rp8500/liter, maka subsidi hilang sama sekali. Sebaliknya, Pertamina/badan usaha bahkan meraup untung sebesar Rp 250/liter atau sekitar Rp 7,37 triliun. Padahal tanpa kenaikan saja, sesungguhnya pemerintah bisa menghemat anggaran dalam jumlah yang cukup besar. Bila harga patokan Rp 8.250 sementara harga eceran Rp 6.500, maka biaya subsidi sebenarnya adalah Rp 1.750/liter atau sekitar Rp 51,59 triliun untuk kuota sebanyak 29,48 juta kilo liter. Bandingkan dengan alokasi dana subsidi dalam APBN yang mencapai Rp 108,3 triliun, maka ada selisih lebih sebesar Rp 56,71 triliun

Untuk Minyak Solar, harga baru yaitu sebesar Rp 7.500,- sementara harga patokan Rp 8.192/liter, maka subsidi yang masih ditangung yaitu sebesar Rp 692/liter atau sekitar Rp 10,90 triliun. Sementara alokasi dana subsidi dalam APBN untuk kuota minyak Solar sebanyak 15,76 juta kilo liter yaitu sebesar Rp 80,2 triliun. Dengan demikian maka terdapat selisih sebesar Rp 69,3 triliun.

Padahal tanpa perlu melakukan penaikan harga BBM, pemerintah sesunguhnya bisa melakukan penghematan dalam jumlah yang tidak kecil yaitu sekitar Rp 37,78 triliun. Perhitungannya: Harga eceran yaitu sebesar Rp 5.500/liter, sedangkan harga patokan/keekonomian yaitu sebesar Rp 8.192/liter. Artinya subsidi sesungguhnya yang ditanggung oleh negara yaitu Rp 2.692/ltr, atau sekitar Rp 42,42 triliun. Sementara alokasi dana subsidi dalam APBN yaitu sebesar Rp 80,2 triliun. Dengan demikian tedapat selisih sebesar Rp 37,78 triliun.

Khusus untuk minyak tanah, sama sekali tidak mengalami kenaikan, sehingga harga eceran minyak tanah tetap sebesar Rp 2.500/liter. Sementara harga patokan yaitu sebesar Rp 7.967/liter, maka subsidi sesungguhnya yaitu sebesar Rp 5467/ltr. Dengan demikian total subsidi Minyak Tanah untuk tahun 2015 adalah Rp 4.64 triliun, sementara alokasi dana subsidi dalam APBN untuk minyak tanah yaitu sebesar Rp 6,1 triliun untuk kuota sebanyak 850 ribu kilo liter. Dengan demikian maka terdapat selisih sebesar Rp 1,46 triliun,-

Lebih lanjut Martapura Institute menghitung, jika total alokasi kuota BBM bersubsidi untuk tahun 2015 sebanyak 46,09 juta kilo liter yang terdiri dari Bensin Premium 29,48 juta kilo liter, Minyak Solar sebanyak 15,76 juta kilo liter, dan Minyak Tanah sebesar 850 ribu kilo liter, sementara berdasarkan harga jual eceran dari masing-masing jenis BBM setelah pajak adalah:

A. Bensin Premium = Rp 51,59 triliun
B. Minyak Solar = Rp 42,42 triliun
C. Minyak Tanah = Rp 4,64 triliun
Total = Rp 98,65 triliun

Jika subsidi sesungguhnya yang ditanggung oleh APBN berdasarkan perhitungan diatas adalah Rp 98,65 triliun, sedangkan alokasi dana subsidi untuk BBM dalam APBN 2015 sebesar Rp 194,6 triliun, maka terdapat selisih lebih besar Rp 95,95 triliun. Angka ini menunjukan bahwa tanpa perlu menaikkan harga jual BBM, pemerintah sudah dapat melakukan penghematan dalam jumlah yang sangat besar. Bila dijumlahkan dengan penghematan pada pos-pos pengeluaran lain, tidak menutup kemungkinan paling tidak setengah dari program-program yang dijanjikan presiden Jokowi pada masa kampanyenya untuk tahun pertama pemerintahannya dapat di wujudkan.

Bila alasan kenaikan harga BBM adalah karena ruang fiskal yang sempit, maka sesungguhnya alasan tersebut tidak cukup punya landasan yang kuat. Sebab tanpa perlu melakukan penaikan harga, ruang tersebut sesungguhnya masih terbuka lebar. Tanpa perlu menaikkan harga BBM, pemerintah sesungguhnya dapat melakukan penghematan. Dalam kaitan ini, maka tugas pertama pemerintah, bukanlah menaikkan harga BBM, tetapi memperbaiki sistem yang ada agar lebih berpihak kepada rakyat.

Atas dasar penghitungan di atas, Martapura Institute menyimpulkan, pemerintahan Jokowi telah megambil jalan yang berisiko dengan menaikkan harga BBM ini. Resiko pertama, DPR akan terdorong untuk menggunakan hak interpelasi yang dapat berujung pada impeachment. Ini karena subsidi hilang sama sekali, sementara subsidi diamanatkan dalam UUD dan UU Migas. Kedua, pengalihan subsidi harus mendapat persetujuan DPR. Masalahnya, kenaikan ini tanpa persetujuan DPR. Hal ini akan menuai upaya-upaya kelompok oposisi untuk mendestabilisasi pemerintahan dan mengambil kekuasaan.

Untuk itu Martapura Institute yang dipimpin oleh Bonnie Setiawan dan Edy Burmansyah ini meminta agar pemerintah segera membuka dan transparan dalam hitung-hitungan kenaikan BBM ini. Bila tidak, maka akan kuat dugaan bahwa kenaikan BBM ini sesungguhnya hanya akal-akalan dan malahan menguntungkan para mafia migas, yang saat ini gejalanya sedang “berganti baju” menjadi pemain-pemain mafia baru.

Selain itu, pemerintah juga diseru untuk segera melaksanakan janji-janji kampanye di sektor migas, seperti membubarkan Petral, memindahkan operasi perdagangan migas Pertamina ke Indonesia, serta memberikan hak pengelolaan blok-blok migas yang akan habis masa berlakunya kepada Pertamina, seperti Blok Mahakam yang akan habis pada tahun 2017. (fa)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Fokus

Rudal Iran Sayyad-3G, Lompatan Besar Pertahanan Udara AL Iran

By Muhammad
Fokus

Konflik Teheran-Washington Pasca Unjuk Rasa Akbar Pendukung Pemerintah Iran

By Muhammad
Fokus

Kubu Pro-Saudi di Yaman Isyaratkan akan Bersekutu dengan Ansarullah, Ada Apa?

By Muhammad
Fokus

Jurnalis Atwan Menjawab Mengapa Iran Tiba-Tiba Membongkar Rahasia di Balik Perang 12 Hari

By Muhammad
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account