Kemenangan Ebrahim Raisi, Wajah Baru Iran dan Ketakutan Israel

0
1827

LiputanIslam.com –  Sayid Ebrahim Raisi yang disebut-sebut sebagai sosok garis keras dari kubu konservatif sudah terpilih sebagai presiden Iran dalam pilpres Jumat 18 Juni 2011 untuk menggantikan Hassan Rouhani yang disebut-sebut sebagai sosok moderat dari kubu reformis..

Dengan demikian negara republik Islam ini memasuki babak baru berupa kembalinya sayap Islamis revolusioner ke tampuk kekuasaan secara lebih solid dibanding masa-masa sebelumnya. Sebab, baru kali ini sejak wafat pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomaini, tiga pilar kekuassan legislatif, yudikatif dan eksekutif jatuh ke tangan sayap ini.

Hujjatul Islam Ebrahim Raisi adalah sosok rohaniwan keturunan Nabi Muhammad saw, yaitu status yang di Indonesia lebih popular dengan sebutan “habib”, sedangkan di Iran dan di beberapa negara Arab lain seperti Irak, Libanon dan Yaman lazim disebut “sayid”. Status kehabiban ini ditandai antara lain dengan sorban berwarna hitam sebagaimana yang dikenakan oleh Imam Khomaini, Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei dan Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah.

Sayid Raisi juga dikenal sebagai sosok berpendirian teguh, berempati tinggi kepada fakir miskin dan kaum pinggiran serta berdedikasi tinggi dalam pemberantasan korupsi dan perang melawan koruptor.

Untuk mengetahui seberapa penting keterpilihan Raisi, cukuplah pertanda nyata berupa ketakutan yang membayangi Israel serta reaksi rezim Zionis ini segera setelah Raisi diumumkan menang pilpres. Bagi rezim dan publik Israel, pelantikan Sayid Raisi sebagai presiden Iran pada Agustus mendatang adalah perkembangan yang akan membuat kekuatan militer Iran semakin menggila. Israel semakin dibuat ketar-ketir oleh ilusinya sendiri bahwa Iran berpotensi menjadi salah satu negara berkekuatan nuklir di dunia dalam waktu dekat.

Menhan Israel Benny Gantz mengklaim bahwa terpilihnya Ebrahim Raisi sebagai presiden baru Iran menandakan bahwa negara republik Islam itu sedang bergerak menuju “radikalisme, ekspansi dan kontinyuitas pengembangan sejata destruksi massal”.

Dia juga menegaskan bahwa Israel “akan bersikap tegas, dan tak akan pernah dapat menutup mata ketika ancaman eksistensial membayang di sekitarnya”.

Sedangkan Perdana Menteri baru Israel Naftali Bennett bersumbar tak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Dia juga meminta negara-negara besar dunia “terjaga dari tidur” sebelum kembali ke perjanjian nuklir dengan Iran.

Banyak kalangan di dalam dan di luar negeri menduga kuat Sayid Raisi sebagai sosok yang telah dikader oleh Ayatullah Khamenei untuk menjadi penerusnya di masa mendatang sebagai pemimpin besar revolusi Islam.

Terlepas dari itu, ada tiga tantangan besar yang harus segera direspon oleh pemerintahan Raisi;

Pertama, krisis ekonomi yang melanda akibat sanksi Amerika Serikat (AS).

Kedua, negosiasi nuklir dengan negara-negara terkemuka dunia, termasuk AS, untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

Ketiga, hubungan dengan negara-negara jiran di Teluk Persia serta kedudukan Iran di kawasan Timteng dan aliansi-aliansi baru internasional, terutama poros Rusia-China-Korut di bidang militer ekonomi dan militer.

Tiga tantangan ini kebetulan juga berkorelasi satu sama lain, dan Sayid Raisi yang merupakan salah satu sosok paling dekat dengan Ayatullah Khamenei tentu saja memiliki peta jalan yang jelas untuk menghadapi tantangan ini, apalagi kemenangannya dalam pilpres bukan karena faktor kebetulan, melainkan karena platform yang sudah dipersiapkan selama bertahun-tahun.

Tak bisa dipungkiri, pemegang kunci keputusan di Iran ada tangan Ayatullah Khamenei, dan bukan rahasia pula bahwa dia kecewa kepada pemerintahan Rouhani yang gagal mewujudkan janjinya untuk memperbaiki kesejahteraan ekonomi melalui pintu kesepakatan nuklir dengan negara-negara P5+1; AS, Inggris, Prancis, Rusia dan China (lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB) plus Jerman. Alih-alih terwujud janji itu, keadaan justru bertambah runyam setelah AS di masa kepresidenan Donald Trump pada tahun 2018 keluar secara sewenang-wenang dari lingkaran JCPOA akibat tekanan Israel.

Karena itu, Ayatullah Khamenei lantas berusaha mengoreksi kesalahan strategis ini dengan mempersiapkan segala kemungkinan bagi kemenangan Raisi dalam pilpres 2021 serta menunda keputusan mengenai berbagai konsensi besar yang diajukan Presiden AS Joe Biden dalam perundingan nuklir di Wina sampai pelantikan Sayid Raisi.

Kemenangan Raisi akan menampilkan wajah baru Iran yang lebih dekat dengan gelora di masa-masa awal revolusi Islam yang dibangkitkan oleh Imam Khomaini. Bedanya, Iran kontemporer sudah menjelma menjadi kekuatan besar militer dan politik  regional maupun global, berkat kehebatannya dalam mengembangkan industri militer dalam negeri sehingga menjadi negara raksasa rudal dan drone supercanggih yang juga memiliki kekuatan-kekuatan proksi tangguh di banyak negara Timteng, terutama Irak, Libanon, Yaman dan Palestina.

Berkuasanya Sayid Raisi yang didukung penuh oleh Ayatullah Khamenei berarti kembalinya Iran ke tahap pra-JCPOA dan penguatan pendiriannya dalam perundingan nuklir di Wina jika Teheran tetap memilih solusi damai bagi polemik nuklirnya dengan Barat.

Sebab, naiknya sosok revolusioner semisal Raisi sendiri sudah menjadi tekanan hebat bagi AS untuk memberikan konsesi lebih luas dari sebatas pencabutan secara total sanksinya, yaitu konsesi di mana AS juga harus mengakui posisi Iran di Timteng, terlebih setelah AS memutuskan untuk menarik diri dari Timteng demi mengalihkan konsentrasi pada eskalasi kekuatan militer China di Asia Timur sehingga harus memboyong sistem-sistem pertahanan rudalnya ke sana. (mm/raialyoum)

DISKUSI: