Jelang 2020, Kasus Novel Baswedan Tak Kunjung Selesai

0
182

Sumber: Tribun

Jakarta, LiputanIslam. Com—Kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik senior KPK telah berusia hampir 1000 hari,  namun siapa pelaku serangan tak kunjung ditemukan.

Sampai saat ini Polri masih belum mengumumkan tersangka peristiwa yang berlangsung pada April 2017 silam.

Padahal, sejumlah saksi, alat bukti bahkan Novel sendiri telah diperiksa penyidik. Kendati demikian, Polri tetap bersikukuh kasus tersebut masih terus diselidiki.

“Kita tidak ada tenggat waktu, sesegera mungkin itu adalah tekad Polri dan tim teknis,” tutur Kadiv Humas Mabes Polri Irjen M Iqbal di Kejaksaan Agung (Kejagung), Jakarta Selatan, Senin (4/11).

Iqbal menegaskan, terungkapnya kasus penyiraman air keras yang menimpa Novel Baswedan hanya tinggal menunggu waktu. Dia mengklaim tim teknis yang mengusut kasus tersebut bekerja secara under cover sehingga progres alias perkembangan yang didapat tidak bisa diungkap ke publik.

Baca: Ditanya Kasus Novel, Kabareskrim Senyum dan Angkat Jempol

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali memerintahkan Kapolri Jenderal Idham Azis untuk menuntaskan kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan dalam hitungan hari. Jokowi ingin Idham segera mengumumkan siapa penyerang penyidik KPK itu.

“Saya tidak bicara masalah bulan. Kalau saya bilang secepatnya berarti dalam waktu harian. Udah tanyakan langsung ke sana (Polri),” kata Jokowi, di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Selasa (10/12).

Jokowi sendiri telah bertemu dengan Idham untuk meminta laporan ihwal penanganan kasus Novel. Menurut Jokowi, Idham menyampaikan ada temuan baru yang sudah menuju pada kesimpulan. Namun, ia tak menjawab saat dikonfirmasi apakah temuan baru ini soal pelaku penyiraman.

Kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan terjadi pada April 2017. Hingga kini, pelakunya belum terungkap. Polri telah melakukan berbagai upaya. Beberapa tim sudah dibentuk untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Namun, belum ada hasil memuaskan.(Ay/CNN/Merdeka)

DISKUSI: