Ini Kata Ahli tentang Pertemuan Trump-Kim Jong Un yang ‘Gagal’

0
116

Hanoi, LiputanIslam.com–Peneliti dan ahli politik Victor Gao dan Jan Oberg memaparkan analisis mereka terkait pertemuan ke-2 Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Hanoi, Vietnam, pada Selasa kemarin (28/2).

“Seluruh dunia menunggu-nunggu berita tentang hasil pertemuan … dan pada akhirnya, yang ada hanya kekecewaan besar,” tutur Gao yang menjabat sebagai direktur China National Association of International Studies.

Pertemuan yang ramai dibicarakan ini tidak hanya berakhir tanpa penandatangan perjanjian apapun, namun juga tanpa ada tanda-tanda rencana pertemuan selanjutnya.

Gao menilai, masalah utama kegagalan pertemuan ini adalah karena Trump yang memiliki pengetahuan sempit tentang geopolitik.

Menurutnya, Washington dan Pyongyang “perlu mempertimbangkan situasi kembali dan menghasilkan lebih banyak realisme dan pragmatisme untuk melanjutkan diskusi” jika mereka ingin mencapai kemajuan dalam konflik.

“Semua orang di dunia akan senang dengan perjanjian damai antara kedua Korea, denuklirisasi, pencabutan sanksi dan perbaikan hubungan, tetapi percakapan tersebut hilang dalam pertemuan ini,” demikian kata Jan Oberg, direktur Transnational Foundation for Peace and Future Research.

Oberg menuturkan, Trump telah salah kaprah mempercayai konflik Korea sebagai isu yang mudah “karena AS lebih kuat dari Korea Utara dan bahwa ia boleh menggertak atau menipu Pyongyang”.

Selanjutnya menurut Gao, AS dan Korea Utara tidak mungkin mencapai perdamaian dan denuklirisasi di Semenanjung Korea sendirian karena “itu akan membutuhkan [partisipasi] lebih banyak negara … partisipasi dari Cina dan Rusia sangat penting.”

Sebaliknya, Brian Becker dari koalisi anti-perang ANSWER menilai tidak adanya kesepakatan “langsung” antara Trump dan Kim bukanlah sebuah “malapetaka.”

“Saya tidak berpikir ini berarti proses [kesepakatan] telah berakhir,” katanya, dengan memberi contoh perjanjian senjata antara AS dan Uni Soviet yang membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum perjanjian pertama dibuat.

“Trump tampaknya sangat bersemangat menjadi pahlawan di panggung global … Jadi, mari kita beri dia kesempatan. Biarkan dia mencoba lagi, misalnya, untuk satu atau dua pertemuan lain. Dan mudah-mudahan, kenyataan akan menyadarkannya bahwa ini bukan tentang ‘seni negosiasi’; bukan masalah kepribadian; ini adalah masalah geopolitik yang keras dan nyata,” ujar Gao. (ra/rt)

 

DISKUSI: