Imam Besar Al-Azhar Serukan Dialog Sunni-Syiah, Ini Tanggapan Sejumlah Tokoh dan Aktivis

0
649

Syeikh Ahmad Al-Thayyib (dalam lingkaran merah) bersama Raja Bahrain dan Paus Fransiskus di Bahrain

Kairo, LiputanIslam.com   Syeikh Ahmad Al-Thayyib, Imam Besar Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, melalui akun resmi Al-Azhar di Twitter, Jumat (4/11), menyerukan dialog Sunni dan Syiah demi mengatasi perpecahan umat Islam.

“Syeikh Al-Azhar mengajak Muslimin Syiah kepada dialog dengan ‘hati terbuka’ demi melampaui lembaran silam dan memperkuat kedudukan Islam,” bunyi seruan itu.

Al-Azhar menambahkan, “Syeikh Al-Azhar mengajak seluruh para ulama Muslimin kepada dialog serius Islam-Islam demi pendekatan dan pencampakan perpecahan.”

Seruan ini tak pelak mengundang beragam reaksi dan komentar dari warganet Arab.

Diplomat ternama Mesir Dr. Abdullah Al-Ash’al menyambut gembira seruan itu “demi mengandaskan konspirasi musuh-musuh agama yang satu dan mendamaikan fikih Syiah dan Sunni”.

Al-Ash’al mengaku yakin kepada komitmen Al-Azhar pada perannya memimpin Dunia Islam, memastikan bahwa perpecahan Sunni-Syiah merupakan konspirasi terhadap Islam dan Muslimin, dan mengingatkan bahwa Al-Azhar di era keemasannya merupakan rumah bagi Islam.

“Memang, Al-Azhar dibangun oleh (dinasti Syiah) Fatimiyyah pada tahun 969 M untuk menjadi titik tolak fikih Syiah, namun Al-Azhar kemudian menjadi basis bagi semua mazhab Islam yang sahih,” lanjutnya.

Al-Ash’al berharap Iran menyambut baik ajakan Syeikh Al-Thayyib, apalagi seruan itu, menurutnya, disampaikan dari Bahrain, dan merupakan jalan pintas untuk menyelesaikan berbagai persoalan di Yaman, Irak, Lebanon dan lain-lain.

Jurnalis Arab Abdul Latif Al-Manawi juga berkomentar dengan menyebutkan bahwa inisiatif itu penting karena berasal dari tokoh Syeikh Ahmad Al-Thayib dalam kapasitasnya sebagai kepala lembaga keagamaan Sunni terpenting di seluruh Dunia Islam.

Al-Manawi menambahkan bahwa inisiatif Syeikh Al-Tayyib juga penting karena dipresentasikan di  hadapan Raja Bahrain, Hamad bin Isa bin Salman Al Khalifa, yang mensponsori Forum untuk Dialog Antaragama, dan Bahrain pun merupakan negara multi-sekte dan orientasi, di mana Syiah “membentuk kehadiran yang besar”.

Al-Manawi memastikan seruan dialog Sunni-Syiah itu serius dan luhur, yang jika ditanggapi di bawah naungan Yayasan Al-Azhar maka  tujuannya akan tercapai.

Penulis Arab Qassem Hussein berkomentar bahwa seruan demikian pada dasarnya sudah ada dalam berbagai forum dan konferensi pendekatan antar-mazhab Islam, namun terkendala oleh problematika politik.

Dia menambahkan bahwa sudah selayaknya semua orang untuk menanggapi seruan tersebut.

“Saya berharap semua orang yang dapat mendukung inisiatif ini akan berusaha keras demimenyelamatkan semua orang,” ungkapnya.

Aktivis Arab Sayid Hamzah menanggapi dengan menyatakan bahwa pendekatan antarmazhab sudah menjadi “kebutuhan mendesak dan tak bisa dihindari lagi”. Dia menyebutkan, “Syiah adalah umat yang besar dan memerlukan uluran tangan, dan mereka lebih berhak untuk ini daripada pihak-pihak lain.”

Sayid Hamzah menambahkan bahwa Al-Azhar adalah “sayyid” (pemuka) untuk proyek pendekatan antarmazhab, karena Syiah juga menghargai Al-Azhar.

“Proyek demikian seharusnya sudah ada sejak dulu, kontinyu, dan tanpa frustasi, sebagai satu bentuk ibadah karena Allah,” tulisnya.

Namun demikian, di tengah beragam komentar dengan nada teduh dan damai itu, ada pula tanggapan yang masih cenderung menyudutkan Syiah.

Beberapa warganet Arab misalnya menyatakan bahwa Syiah adalah pihak yang harus lebih dulu memulai iktikad baik dengan keluar dari Yaman.

Mereka juga mengulang klaim-klaim klise – yang selalu dibantah oleh para ulama representatif Syiah – bahwa Syiah menghujat sahabat Nabi dan istri Nabi saw Aisyah ra, dan meyakini bahwa risalah seharusnya turun kepada Sayyidina Ali ra namun malaikat Jibril as keliru mengembankan risalah kepada Nabi saw. Mereka menyatakan bahwa Syiah harus berhenti berkeyakinan dan bersikap demikian. (mm/raialyoum)

DISKUSI: