Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Fokus

Idlib di Ambang Perang Besar

Published 27/02/2020 4 Min Read
Share
4 Min Read
SHARE

LiputanIslam.com –  Tenggat waktu yang ditetapkan oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sudah tinggal dua hari lagi untuk penarikan Pasukan Arab Suriah (SAA) dari berbagai kota dan daerah yang telah direbutnya di sekitar kota Idlib.

Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda bahwa pemerintah Suriah menggubris hitung mundur Erdogan yang dibarengi dengan pengerahan pasukan Turki sebanyak 15,000 personil di sekitar perbatasanTurki-Suriah. Sebaliknya, SAA terus bergerak maju dan mengais kemenangan demi kemenangan secara drastis dalam pertempuran melawan kelompok-kelompok bersenjata yang dibela Turki.

Sejauh ini sudah lima pertemuan diselenggarakan antara Turki dan Rusia, di Ankara dan di Moskow, namun gagal menghasilkan kesepakatan untuk mencegah kemungkinan terjadinya konfontasi militer langsung antara Turki dan Suriah.

Bahkan pertemuan segi empat yang dicanangkan oleh Erdogan di Istanbul, Turki, dengan melibatkan para pemimpin Turki, Rusia, Prancis, dan Jerman pada 5 Maret mendatang hingga kini belum mendapat respon, terutama dari Presiden Rusia Vladimir Putin yang justru bersikukuh pada kelanjutan operasi penumpasan kelompok-kelompok teroris, sebagaimana ditegaskan oleh juru bicaranya, Dmitry Peskov.

Komandan koordinator SAA Brigjen Ahmad al-Rihal mengungkap fakta ini ketika dia menyebut perundingan Turki-Rusia di Moskow Senin 24 Februari lalu telah “menghina dan menggusarkan pihak Turki”.

Dia tidak menjelaskan hal itu lebih lanjut, namun dari berbagai laporan yang ada terlihat bahwa dalam perundingan itu Rusia sangat menyayangkan manuver-manuver Turki dan menganggapnya berkelit dari penerapan Kesepakatan Sochi tahun 2018 yang mengikat Ankara agar membedakan antara oposisi dan kelompok teroris.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dalam pernyataannya pada rapat Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss, Selasa 25 Februari telah melontarkan kata-kata pedas yang bahkan keluar dari aspek kehatian-hatian di ranah diplomatik.

“Kami menolak seruan penghentian serangan Suriah yang didukung Moskow di Idlib, sebab penghentian ini tidak akan berarti pengindahan HAM, melainkan justru berarti menyerah kepada teroris, atau bahkan kebersamaan dengan mereka dalam tingkah laku mereka,” tegasnya.

Dia juga menyindir Turki dengan menyatakan bahwa sebagian negara “ingin membenarkan aksi-aksi brutal yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal dan teroris”.

Dengan demikian, Rusia telah menutup diri dari kemungkinan mengendurkan sikapnya di depan Turki. Karena itu, sekarang Turki harus memilih satu di antara dua opsi;

Pertama, menginstruksikan serangan pasukannya terhadap kelompok-kelompok yang sudah tertera dalam daftar organisasi teroris, terutama Hay’at Tahrir al-Sham alias Jabhat al-Nusra, sesuai Kesepakatan Sochi.

Kedua, menerapkan ancamannya untuk menggempur SAA dengan resiko kematian lebih dari dari seribu tentaranya di pusat-pusat pantau militer Turki yang berjumlah sedikitnya 18 titik di Idlib, dan semuanya sudah terkepung oleh SAA.

Tentu berat bagi publik Turki melihat iringan panjang jenazah putra-putra mereka pulang dari Libya sekaligus Suriah akibat perang yang tak dikehendaki oleh banyak orang, dan sangat beresiko pula bagi para pemimpin Turki, apalagi  belakangan ini meningkat berbagai laporan dan analisa mengenai kemungkinan terjadinya kudeta militer dalam waktu dekat.

Abdullah Gül, mantan presiden Turki yang juga merupakan rekan Erdogan dalam pendirian Partai Keadilan dan Pembangunan, menasehati Erdogan bahwa Islam politis sudah “runtuh” dan bahwa Turki hendaknya menarik diri dari konflik Suriah.

Namun demikian, Erdogan tampak mengabaikan saran itu. Dia terlihat akan terus bersikeras menuju konfrontasi setelah ancamannya gagal mendorong mundur langkah Rusia dalam konflik Idlib.  Di saat yang sama, Rusia yang notabene telah kehilangan ratusan jiwa tentaranya serta menghabiskan dana miliaran dolar di Suriah juga tidak akan begitu saja melepaskan perolehan-perolehan yang sudah didapatnya selama ini. Karena itu, Idlib tampak memang sedang menanti penabuhan genderang perang besar. (mm/raialyoum)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Fokus

Rudal Iran Sayyad-3G, Lompatan Besar Pertahanan Udara AL Iran

By Muhammad
Fokus

Konflik Teheran-Washington Pasca Unjuk Rasa Akbar Pendukung Pemerintah Iran

By Muhammad
Fokus

Kubu Pro-Saudi di Yaman Isyaratkan akan Bersekutu dengan Ansarullah, Ada Apa?

By Muhammad
Fokus

Jurnalis Atwan Menjawab Mengapa Iran Tiba-Tiba Membongkar Rahasia di Balik Perang 12 Hari

By Muhammad
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account