Harga Anjlok, Peternak Ayam Rugi Rp 2 Triliun

0
59

Sumber: republika.co.id

Jakarta, LiputanIslam.com— Peternak ayam mengalami kerugian hingga Rp 2 triliun dalam kurun waktu 13 bulan terakhir akibat harga ayam di tingkat peternak anjlok.

“Kalau saya hitung dari Januari, kalau saya rata-rata Rp 2 triliun itu (total kerugiannya). Untuk peternak-peternak kecilnya saja itu loh, belum yang perusahaan-perusahaan. Kalau perusahaan-perusahaan kan populasinya lebih banyak,” kata Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Pengusaha Peternak Ayam Nasional (Gopan) Sugeng Wahyudi, Jakarta, Kamis (5/9).

Baca: Kemendag Pastikan Harga Ayam di Tingkat Petani Normal

Sugeng menerangkan, kerugian tersebut diperoleh dari asumsi produksi ayam nasional sebanyak 18 juta ekor per minggu. Rata-rata kerugian peternak per ekornya sebesar Rp 1.200. angka kerugian itu dikalikan rata-rata berat ayam hidup saat dijual, yakni 1,6 Kilogram (Kg).

Dia mengatakan, harga jual ayam lebih rendah ketimbang harga pokok produksi (HPP). Pada Agustus 2019, harga ayam hanya sebesar Rp 8.000 per kg. Sedangkan, harga Pokok Penjualan (HPP) sebesar Rp 18 ribu per kg.

Selain itu, Hendi pegawai di peternakan ayam di Bogor menyampaikan hal yang serupa. Di peternakan tempat ia bekerja, ayam hidup dijual Rp 12.000 per ekor, sedangkan biaya produksinya Rp 18.000. Jadi, kerugian mencapai Rp 6.000.

“Memang ngeluh bos itu sering rugi ya. Kan sekarang harga ayam sampai Rp 12.000 ya. Kalau misalkan produksinya Rp 18.000 kan sudah rugi Rp 6.000 ya. Jadi setahun belakangan ini sering rugi,” ungkapnya.

Tidak hanya merugi, Perwakilan Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN) Bogor Wismaryanto menyebutkan, dampak kerugian ayam membuat peternak memilih gulung tikar. Dalam periode 3 bulan, terdapat 5-6 peternak ayam mandiri di Bogor gulung tikar akibat kerugian yang dialaminya.

Dia menilai, anjloknya harga ayam disebabkan kelebihan pasokan di pasar. Sebab, pemerintah memperbolehkan perusahaan integrator untuk melakukan budidaya ayam di dalam negeri. Tak hanya itu, mereka juga diperbolehkan menjualnya di pasar tradisional bersama dengan peternak mandiri.

“Dari situ harga hancur luar biasa. Dari 2014 awal sampai tahun ini setiap tahun peternak ayam catatannya merah semuanya,” ucapnya. (sh/cnnindonesia/detik)

DISKUSI:
SHARE THIS: