Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Fokus

Hamas, Fatah, dan Ancaman Retaknya Rekonsiliasi

Published 09/09/2014 6 Min Read
Share
6 Min Read
SHARE

Hamas-Fatah_0LiputanIslam.com — Perang Israel versus Gaza mungkin telah berakhir, namun aroma perseteruan itu kini tercium dalam persaingan sengit antara Fatah dan Hamas. Dan tentunya, hal ini bisa memicu runtuhnya persatuan Hamas-Fatah yang tengah dibangun.

Baru-baru ini, Presiden Mahmoud Abbas menuduh Hamas telah menjalankan “pemerintah bayangan” di Gaza, yang diduga sebagai gerakan untuk menghancurkan perjanjian persatuan Hamas-Fatah yang disepakati pada bulan April silam.

Kesepakatan Hamas-Fatah tersebut, mengakhiri persaingan selama tujuh tahun  antara Abbas yang mendominasi pemerintahan Otoritas Palestina di Tepi Barat, dengan Hamas yang berkuasa di Jalur Gaza.

Berdasarkan kesepakatan itu, kedua belah pihak setuju untuk membentuk pemerintah konsensus nasional teknokrat yang  mulai beroperasi  pada 2 Juni. Namun sayang, baru sebulan lamanya beroperasi, mendadak buyar lantaran perang mematikan selama 50 hari antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza. (Baca juga: Bermain di Halaman, 2 Bocah Palestina Ditangkap Tentara Zionis)

Sepanjang konflik, Hamas dan Fatah memakai slogan persatuan,  berdiri berdampingan, dan melakukan pembicaraan terkait  gencatan senjata dengan Israel di Kairo. Gencatan senjata pun disepakati, dan mulai berlaku sejak tanggal 26 Agustus. Namun sayang, harmoni itu sepertinya telah menguap.

“Hamas telah membawa kami kembali ke titik awal, yaitu saat-saat kami berupa divisi (tidak bersatu),” kata seorang pejabat Fatah yang berada di Gaza, kepada AFP, yang dikutip Maan News Agency, 9 September 2014.

Perang Kata-Kata

Analis politik yang berbasis di Gaza, Talal Awkel, mengatakan, “Kami sekarang melihat perang kata-kata dan saling tuding yang ditunjukkan antara Fatah dan Hamas.”

Dan ada kemungkinan pemilu yang seharusnya berlangsung pada akhir tahun ini sesuai perjanjian persatuan pada bulan April, terancam gagal. Dalam sebuah pernyataan pekan lalu, Fatah menuduh Hamas menempatkan 300 anggotanya di bawah tanah  selama konflik yang berlangsung tujuh minggu, dan melukai puluhan yang berani melawan. (Baca juga: Lagi, Tentara Zionis Israel Tangkapi Nelayan Palestina)

Lalu tuduhan lainnya, Hamas dikatakan ‘mencuri’ bantuan yang ditujukan kepada rakyat sipil. Lebih lanjut disebutkan bahwa bantuan tersebut didistribusikan kepada kelompoknya saja, dan sisanya dijual di pasar gelap.

Dituduh seperti itu, Hamas membantah. Kelompok perlawanan ini menyebut bahwa tuduhan itu tak lebih dari sebuah kampanye hitam, yang disebabkan karena popularitas Fatah di Tepi Barat tengah merosot pasca perang.

Sebuah jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan bahwa jika pemilihan presiden diadakan sekarang, maka petinggi Hamas Ismail Haniyeh diprediksi akan menang, dengan perolehan suara sekitar  61 persen. Sedangkan Abbas, diprediksi hanya akan memperoleh 32 persen suara.

Selama pertempuran, Hamas dipandang sebagai satu-satunya kelompok perlawanan Palestina yang berdiri di garis depan dalam pertempuran melawan Israel, melipat-gandakan  kekuatan militer dan menembakkan roket di Tel Aviv dan Yerusalem.

Sedangkan Fatah justru sebaliknya, keberadaannya selalu dikaitkan terlibat dalam koordinasi dengan pihak keamanan Israel. Atau dengan kata lain, Fatah dianggap bersedia bekerja sama dengan Israel, yang notabene adalah kanker ganas yang telah menumpahkan darah rakyat Palestina, dan menciptakan huru-hara dikawasan Timur Tengah.

Sedangkan dalam rangka menjaga keseimbangan kawasan, Abbas berharap pada resolusi Dewan Keamanan PBB, yang menyerukan kepada Israel untuk mengakhiri pendudukan dalam waktu tiga tahun.Terkait prediksi akan digunakannya hak veto AS (untuk melindungi Israel)  Abbas mempertimbangkan untuk mengajukan permohonan ke Mahkamah Pidana Internasional  untuk menuntut Israel atas brutalitas yang ditunjukkan di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Sayangnya, sekencang apapun upaya diplomatik yang sedang dijalankan Fatah, tidak mampu membendung dukungan kepada Hamas pasca perang. Pamor Hamas melejit, kekuatannya tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. (Baca juga: Perang Gaza Lejitkan Pamor Hamas)

Pemerintah Bayangan

“Setelah kemenangan di Gaza, pasukan Otoritas Palestina harus mengubah sikap dan kembali ke pelukan rakyat mereka, bukan kembali ke pangkuan penjajah,” kata Hamas pekan lalu.

Pernyataan Hamas tersebut merupakan kecaman atas larangan demonstrasi di Tepi Barat, yang berujung pada penangkapan ratusan para demonstran. (Baca juga: Apakah Palestina Benar-Benar Ingin Bersatu?)

Menurut Awkel, perang di Gaza adalah kesempatan bagi Hamas untuk menunjukkan bahwa kemampuan militernya masih relevan, sekaligus menjawab tudingan bahwa “rekonsiliasi antara Fatah-Hamas disebabkan karena kemampuan Hamas melemah”. Dalam beberapa bulan menjelang rekonsiliasi, Hamas tengah jatuh bahkan tidak sanggup untuk membayar 45.000 anggotanya.

Setelah rekonsiliasi, perselisihan pun terjadi. Siapa yang harus membayar Hamas setelah pemerintah Haniyeh mundur pada bulan Juni? Hal itu merupakan bibit-bibit pertikaian yang menyeruak ke permukaan. Saat itu, staf dari Otoritas Palestina yang berbasis di Gaza dibayar, namun dari pihak Hamas tidak.

Delapan tahun berada dalam blokade Israel,yang diperparah dengan ditutupnya perbatasan oleh Mesir di bagian selatan, telah menjadi pemicu krisis berkepanjangan di Jalur Gaza.

Terlepas siapa yang lebih disukai rakyat Palestina, atau siapa yang memiliki pengaruh lebih kuat di Palestina, mungkinkah kemerdekaan Palestina akan tercapai, jika para pejuangnya sendiri tidak akur, dan kerap bertikai satu sama lain? (ba)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Fokus

Rudal Iran Sayyad-3G, Lompatan Besar Pertahanan Udara AL Iran

By Muhammad
Fokus

Konflik Teheran-Washington Pasca Unjuk Rasa Akbar Pendukung Pemerintah Iran

By Muhammad
Fokus

Kubu Pro-Saudi di Yaman Isyaratkan akan Bersekutu dengan Ansarullah, Ada Apa?

By Muhammad
Fokus

Jurnalis Atwan Menjawab Mengapa Iran Tiba-Tiba Membongkar Rahasia di Balik Perang 12 Hari

By Muhammad
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account