Erdogan Minta Putin Mediasi Ankara-Damaskus, Apa Motifnya?

0
252

LiputanIslam.com-Presiden Turki Recep Tayip Erdogan dalam kontak telepon dengan Vladimir Putin secara resmi meminta kepada Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menjadi penengah dalam upaya rekonsiliasi negaranya dengan Suriah. Permintaan ini disampaikan Erdogan saat menghubungi Putin via telepon Senin (16/1) lalu.

Sudah cukup lama tersiar kabar bahwa Turki berupaya memulihkan hubungannya dengan Suriah. Sehubungan dengan ini, beberapa pekan lalu sebuah pertemuan resmi telah diadakan antara para Menhan dan Direktur Intelijen kedua negara. Direncanakan bahwa pertemuan-pertemuan ini akan diadakan kembali pada pertengahan Januari atau Februari mendatang.

Namun sebelum pertemuan kedua diadakan, Erdogan pada Senin lalu secara resmi meminta Putin terlibat langsung untuk memperbarui hubungan Turki-Suriah. Ini berarti bahwa setelah 12 tahun, Turki berkesimpulan bahwa proyek pendudukan atas Suriah adalah hal imajinatif yang tidak membawa hasil apa pun kecuali beban biaya besar atas Ankara.

Pada hakikatnya, Erdogan dengan tindakan ini berusaha mereduksi problem kebijakan luar negerinya. Melalui upaya rekonsiliasi dengan Suriah, Erdogan berupaya mendapatkan keuntungan di Pilpres Turki mendatang.

Sebelum ini, Erdogan juga telah mengerahkan usaha untuk menyelesaikan masalahnya dengan negara-negara lain. Ia memulainya dengan Saudi dan Mesir, kemudian disusul dengan Israel. Dua pekan silam, Dubes baru Israel datang ke Turki, yang menandai dimulainya kembali hubungan bilateral yang sempat mengeruh sejak 12 tahun lalu menyusul serangan Israel ke kapal Marmara.

Jika pertemuan Turki-Suriah difinalisasi dan membuahkan hasil, kabarnya ada sejumlah hal yang akan diwujudkan, yaitu:

Pertama, Turki akan hengkang dari kawasan yang didudukinya di utara Suriah.

Kedua, jalur Aleppo-Latakia akan dibuka kembali.

Ketiga, kelompok bersenjata yang didukung Ankara di barat laut Suriah akan meletakkan senjata mereka.

Keempat, Perjanjian Adana akan kembali menjadi fondasi praktis dalam hubungan kedua negara seperti sebelumnya.

Di masa-masa awal pendudukan Suriah, Erdogan kerap bicara soal “hak kedaulatan Turki atas Aleppo, Kirkuk, Mosul, dan sebagainya”. Namun dalam situasi sekarang, tampaknya Erdogan sudah menerima realita di lapangan dan telah mengucapkan selamat tinggal kepada khayalan-khayalan usangnya.

Dengan meminta secara resmi dari Putin untuk mengakurkan Turki dan Suriah, Erdogan dianggap telah bertindak untuk mendahului para rivalnya dalam Pilpres mendatang, sebab mereka juga disinyalir akan menggunakan isu perundingan dan rekonsiliasi dengan Damaskus sebagai bahan kampanye demi meraih hasil di Pilpres.

Sebelum ini, Erdogan berusaha keras untuk berdialog langsung dengan Bashar Assad dan dengan mempertahankan kondisi yang ada, ia berupaya mewujudkan kepentingan bagi dirinya di Pilpres Turki. Namun Pemerintah Suriah dengan cerdas memberikan tanggapan logis kepada semua permintaan Erdogan, yaitu “Damaskus tidak akan berunding dengan penjajah selama ia masih belum mengakhiri penjajahannya.” (af/alalam)

DISKUSI: