Dilema Kubu AS di Lebanon, Penuhi Tantangan Hizbullah atau Dipermalukan

0
367

Beirut,LiputanIslam.com-Beberapa bulan lalu, kapal-kapal tanker yang membawa minyak Iran tiba di Lebanon atas inisiatif Hizbullah. Impor minyak itu didanai oleh para pengusaha negara tersebut demi mengatasi krisis energi Lebanon.

Di masa itu Sekjen Hizbullah Sayyid Hasan Nasrallah memberi ultimatum terkait impor minyak kepada Kedubes AS di Beirut dan semua orang yang bekerja untuk AS, baik partai maupun faksi politik. Sayyid Nasrallah ‘menantang’ mereka untuk mengambil inisiatif dan mengimpor gas serta minyak Yordania dan Mesir melalui Suriah untuk “menyelamatkan Lebanon”.

Namun tak ada satu pun yang menjawab ‘tantangan’ Sekjen Hizbullah tersebut.

Beberapa hari lalu, Sayyid Nasrallah kembali mengulangi tawarannya secara jelas dan transparan. Ia mengatakan, ”Pemerintah Lebanon harus meminta minyak dari Iran. Hizbullah siap menyerahkannya secara gratis untuk mengaktifkan pembangkit listrik dan memproduksi listrik antara 10 hingga 14 jam per hari.”

Dideklarasikannya inisiatif Sekjen Hizbullah ini saja sudah membuat AS dan para kroninya di Lebanon berada dalam kondisi terjepit. Untuk membuktikannya, kita cukup melihat sikap Ketua Partai al-Quwwat al-Lubnaniyah, Samir Geagea.

Geagea meminta Pemerintah Lebanon untuk menerima tawaran Hizbullah. Namun bukan untuk menyelesaikan masalah, tapi karena dia ingin melihat Hizbullah “gagal memenuhi janjinya untuk membawa minyak Iran”. Statemen Geagea ini menjelaskan seberapa pelik kondisi dilematis yang dihadapi Kedubes AS di Beirut.

Antrean panjang warga di depan toko-toko roti dan amarah yang terus memuncak lantaran ketiadaan listrik serta bahan bakar telah menjadi beban berat pundak partai-partai pro-Washington. Para pendukung partai-partai ini harus antre selama berjam-jam untuk mendapatkan roti. Sebagian besar mereka juga tidak bisa memperoleh bensin, selain menghadapi masalah pemadaman listrik.

Di sisi lain, sebagian orang menyalahkan kenapa Washington tidak mendatangkan bahan bakar dari Mesir dan Yordania via Suriah? Kenapa setelah berbulan-bulan sejak Dubes AS mengaku akan mengimpor bahan bakar dari sana, warga Lebanon tidak kunjung melihat janji ini dipenuhi, sementara ketika Hizbullah berjanji mengimpor minyak Iran, janji tersebut langsung ditepati?

Untuk memberi penilaian, masalah ini bisa dipandang dari sudut pandang “nasional”.

Ketika Sayyid Nasrallah untuk kali pertama menggulirkan masalah minyak, ia secara terbuka mengumumkan Hizbullah menerima minyak apa pun dari luar negeri demi mengatasi problem warga Lebanon. Bahkan jika minyak itu berasal dari AS atau Saudi. Di saat itu, Sayyid Nasrallah melemparkan bola ke lapangan rival dan memberi mereka kesempatan untuk membuktikan “cinta mereka kepada Tanah Air”.

Namun sekali lagi tak terjadi apa pun.

Sekarang ketika Hizbullah kembali menyuarakan inisiatif impor minyak Iran, diprediksi tak satu pun kroni Washington yang akan menerimanya, sebab kebanyakan partai penguasa bekerja demi kepentingan AS.

Sesuatu yang luput dari perhatian partai-partai ini adalah  kondisi terjepit dan serba salah mereka lantaran sambutan hangat rakyat Lebanon kepada inisiatif Sayyid Nasrallah. Terutama ketika orang-orang Lebanon tahu bahwa krisis yang mereka hadapi disebabkan kebijakan-kebijakan AS yang dijalankan para kroninya, bukan karena Hizbullah dan para sekutunya. (af/alalam)

DISKUSI: