Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Fokus

Di Ambang Perang Krimea II

Published 10/03/2014 5 Min Read
Share
5 Min Read
SHARE

OLYMPUS DIGITAL CAMERALiputanIslam.com — Pada bulan Oktober 1853 hingga Februari 1856 dunia menyaksikan salah satu perang terbesar sepanjang sejarah manusia yang disebut Perang Krimea.

Perang yang berlangsung di sekitar Laut Hitam dan terutama di Semenanjung Krimea itu melibatkan 5 negara: Turki, Inggris, Perancis dan Sardinia di satu pihak, melawan Rusia di fihak lainnya. Selain itu, dalam tingkat pertisipasi yang lebih kecil Jerman, Swiss dan Slavia mendukung Turki dan Bulgaria, Serbia dan Yunani mendukung Rusia.

Sebagaimana kata-kata bijak bahwa dalam politik tidak ada yang kebetulan dan semuanya adalah konspirasi, demikian juga dalam Perang Krimea. Meski dibalut dengan motif agama, yaitu antara penganut Katholik di satu pihak melawan penganut Kristen Orthodox di pihak lain, motif ekonomi dan chauvinisme (kebanggaan pada negara yang berlebihan) tetap menjadi motif utamanya.

Rusia, di satu sisi menginginkan akses “laut air hangat”, sebagai pengganti mayoritas pelabuhan-pelabuhannya di Laut Baltik dan Laut Arctic yang membeku pada musim dingin, dan itu didapatkan di Laut Hitam di mana terdapat Semenanjung Krimea dengan kota Sevastopol-nya yang strategis.

Di sisi lain Inggris, Perancis dan Turki, tidak menginginkan pengaruh Rusia berkembang ke selatan. Mereka ingin Rusia tetap terisolir di padang rumput. Dan Perancis, terlebih lagi, masih dendam pada Rusia yang mengalahkan pasukan agresor Napoleon belasan tahun sebelumnya.

Singkat kata terjadilan perang besar-besaran di sekitar Laut Baltik dan Semenanjung Krim yang menelan ratusan ribu nyawa pasukan kedua pihak dan penduduk sipil di sana. Rusia memang akhirnya kalah setelah dikeroyok beberapa negara besar sekaligus dan harus kehilangan Sevastopol. Namun Rusia berhasil membuktikan bahwa mereka bukan bangsa yang “lembek”, terutama saat harus mempertahankan wilayah kekuasaannya, sebagaimana mereka buktikan ketika mengalahkan pasukan Napoleon dan juga tentara Nazi Jerman dalam Perang Dunia II.

Kini kondisi yang sama tengah dihadapi Rusia, ketika Inggris dan Perancis, juga Amerika, melalui agen-agen mereka di Kiev, berusaha menyingkirkan Rusia dari Ukraina dan Semenanjung Krim, 2 wilayah yang secara kultural adalah bagian dari “negeri Rusia” yang berada di “laut air hangat” Laut Hitam.

Beberapa pengamat internasional, termasuk DR. Paul Craig Roberts (mantan asisten Menkeu Amerika dan editor Wall Street Journal) menganggap Rusia terlalu lunak sehingga harus kehilangan sekutu kuatnya di Kiev, dan kini terancam pengaruhnya di Krimea dan Ukraina Timur. Minimal, setelah kehilangan pengaruh di Kiev, Rusia bisa mengambil alih Krimea dan Ukraina Timur yang mayoritas penduduknya berbahasa Rusia. Dan Rusia telah memiliki legitimasi kuat untuk melakukan hal itu berdasarkan setidaknya 4 alasan: legitimasi rezim baru Kiev yang lemah karena didirikan oleh para “berandalan” melalui kudeta, adanya permintaan resmi dari pemimpin legitimet yang terpilih secara demokratis (Yanukovich), melindungi warga keturunan Rusia, dan mengembalikan status sosio-historis Krimea dan Ukraina Timur ke tangan negara induknya.

Namun demikian Rusia telah memberikan isyarat bahwa mereka akan melawan. Selain pendudukan Krimea oleh pasukan Rusia, Rusia juga telah menyiagakan pasukannya di sepanjang perbatasan barat dengan Ukraina dan negara-negara NATO.

Baiklah, mungkin Vladimir Putin dan para pemimpin Rusia tidak benar-benar serius untuk berkonfrontasi dengan barat, meski itu berarti harga diri mereka yang hilang. Namun godaan untuk mengikuti pendahulu mereka selama Perang Krim I tidak akan hilang paska Revolusi para “berandalan” di Kiev tgl 21 Februari lalu.

Demi memuaskan para donatur mereka di barat, rezim baru Ukraina telah mempersiapkan paket kebijakan ekonomi yang sangat tidak populer, di antaranya memotong uang pensiunan hingga 50%. Pada saat yang sama mereka mengangkat para pebisnis tamak agen-agen kepentingan barat untuk menjadi pejabat negara dengan dilindungi oleh tentara-tentara bayaran Blackwater dari Amerika. Pada saat itulah aksi-aksi kerusuhan akan terjadi, dan Rusia pun tidak akan memiliki pilihan lain kecuali mengirimkan pasukannya memasuki perbatasan Ukraina, sama seperti ketika pasukan Rusia menyeberangi Sungai Danube dan menjadi awal terjadinya Perang Krim I.(ca)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Fokus

Rudal Iran Sayyad-3G, Lompatan Besar Pertahanan Udara AL Iran

By Muhammad
Fokus

Konflik Teheran-Washington Pasca Unjuk Rasa Akbar Pendukung Pemerintah Iran

By Muhammad
Fokus

Kubu Pro-Saudi di Yaman Isyaratkan akan Bersekutu dengan Ansarullah, Ada Apa?

By Muhammad
Fokus

Jurnalis Atwan Menjawab Mengapa Iran Tiba-Tiba Membongkar Rahasia di Balik Perang 12 Hari

By Muhammad
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account