Biden Ramalkan “Pandemi Kedua”, Keceplosan?

0
7

LiputanIslam.com  Klip video Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden yang mengatakan negara ini perlu bersiap menghadapi “pandemi kedua” belakangan ini beredar viral di media sosial.

Dalam jumpa pers di Ruang Roosevelt, Selasa (22/6), Biden memuji upaya pemerintahnya untuk memastikan anak-anak balita sekarang bisa mendapatkan vaksinasi untuk COVID-19.

Tapi dia kemudian membuat pernyataan yang seakan memastikan akan terjadi “pandemi kedua” setelah pandemi COVID-19.

Dilaporkan Newsweek, Biden awalnya ditanya oleh seorang reporter tentang berapa lama kampanye vaksin baru dapat berlangsung sebelum menelan lebih banyak dana dari Kongres.

Dia menjawab, “Ya, kita akan melewati setidaknya tahun ini. Kita memang membutuhkan lebih banyak uang. Tapi kita tidak hanya membutuhkan lebih banyak uang untuk vaksin anak-anak, pada akhirnya; kita membutuhkan lebih banyak uang untuk pandemi kedua.”

Dia menambahkan, “Akan ada pandemi lain. Kita harus berpikir ke depan.”

Sebagian orang tidak menanggapi serius pernyataan Biden tersebut, melainkan memberikan komentar sarkastik, sementara sebagian lain khawatir akan munculnya pandemi baru, di saat dunia sangat mengharapkan berakhirnya pembatasan yang diberlakukan akibat pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir.

Seorang komentator di Twitter menyatakan; “Presiden Joe Biden tampaknya mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh kita semua. Dia mengatakan pemerintah membutuhkan lebih banyak uang, tidak hanya untuk vaksinasi anak-anak, tetapi untuk pandemi berikutnya. Ya, akan ada yang kedua..”

Komentator lain menyoal dengan sinis: “Laboratorium apa yang akan menjadi sumber kebocoran virus berikutnya? .. Saya yakin itu akan datang menjelang pemilu.” Dia mengacu pada pemanfaatan pandemi sebagai kartu dalam pertarungan politik pada pemilu AS.

Terlepas dari semua komentar itu, pernyataan Biden itu bisa jadi keceplosan yang mengungkap fakta bahwa dia selalu berusaha menyembunyikan tuduhan bahwa putranya, Hunter,  mendanai laboratorium biologi  di Ukraina, yang bertanggung jawab untuk memroduksi virus yang digunakan sebagai senjata biologis.

Adalah Kementerian Pertahanan Rusia yang pertama kali mengungkap peran Hunter Biden dalam pembiayaan laboratorium biologi di Ukraina, berdasarkan dokumen dan informasi intelijen mengenai keterlibatan lembaga pemerintah AS dalam aktivitas laboratorium tersebut  serta pembiayaanya oleh institusi yang dekat dengan presiden AS saat ini, terutama melalui dana investasi Rosemont Seneca Partners, yang dipimpin oleh Hunter Biden.

AS menolak tuduhan ini, dan intelijennya menyatakan bahwa apa yang diungkapkan Kementerian Pertahanan Rusia adalah taktik propaganda untuk membenarkan intervensi militer di Ukraina dan membangkitkan perselisihan di AS.

Namun, surat kabar Inggris Daily Mail pada 26 Maret mengaku telah memperoleh dokumen yang mengkonfirmasi validitas tuduhan Rusia terhadap Hunter Biden tentang keterlibatannya dalam pendanaan laboratorium biologi di Ukraina.

Dokumen itu juga memperlihatkan bahwa email dari laptop Hunter Biden menunjukkan dia membantu mengamankan jutaan dolar dalam pendanaan untuk perusahaan Metabiota, kontraktor Departemen Pertahanan AS yang berspesialisasi dalam penelitian penyakit penyebab pandemi yang dapat digunakan sebagai senjata biologis.

Alhasil, dunia tak seharusnya mengabaikan begitu saja pernyataan Biden yang viral tersebut, sebab dia bukan peramal. Khalayak harus menyoal dari mana Biden mendapatkan data-data mengenai pandemi baru yang mengancam miliaran umat manusia itu, atau diakah biang kerok dari apa yang akan terjadi selanjutnya, terutama setelah rekam jejak Hunter Biden diungkap oleh media Barat sendiri.  Khalayak tak boleh percaya begitu saja kepada narasi-narasi yang menyalahkan kondisi alam agar khalayak memaklumi pernyataan Biden. (mm/newsweek/alalam)

DISKUSI: