Bayang-Bayang Kubah Besi Israel di Teluk Persia

0
688

LiputanIslam.com –  Amerika Serikat (AS) oleh media Israel dilaporkan akan segera menempatkan sistem anti rudal “Kubah Besi” buatan Israel di beberapa pangkalan militer AS di kawasan Teluk Persia.

Rezim Zionis Israel menyetujui penempatan Kubah Besi di negara-negara Arab sekitar Teluk Persia setelah Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain pada Oktober 2020 menjalin Perjanjian Abraham yang mencanangkan normalisasi hubungan dengan Israel. Tiga pekan lalu lembaga pertahanan anti rudal Israel yang bernaung di bawah Kementerian Pertahanan telah menyerahkan dua sistem Kubah Besi kepada Kementerian Pertahanan AS, Pentagon.

Berbagai langkah sudah dilakukan untuk memperlihatkan esensi dan tujuan perjanjian itu. Langkah terbaru di antaranya ialah penempatan Kubah Besi di kawasan Teluk dengan dalih demi perlindungan dari ancaman Iran.

Pangkalan militer AS ada di sebagian besar negara Arab Teluk, kalau bukan semuanya, dan negara-negara ini tak dapat mencampuri segala urusan dan apa yang ada di pangkalan itu. Mereka bahkan tak berhak mengetahui apa saja yang keluar masuk di sana.

Terdengar aneh ketika pangkalan AS mendatangkan Kubah Besi, sebab AS sendiri di sana tak kurang memasang sistem pertahanan rudal tercanggihnya, sementara Israel memiliki Kubah Besi adalah karena bantuan dana dan teknologi AS. Sejak Perang Dunia II belum pernah AS mendatangkan senjata dan sarana militer apapun dari negara lain, apalagi Israel yang eksistensi dan kelestariannya justru berhutang budi kepada AS.  Kedatangan Kubah Besi ke negara-negara Teluk jelas berarti masuknya para pakar Israel untuk menjalankan misi di sana.

Kabar tentang itu dibocorkan beberapa hari setelah Joe Biden mengambil alih Gedung Putih, seakan memberikan sinyalemen penting mengenai adanya perjanjian-perjanjian rahasia yang sudah dicapai di masa kepresidenan Donald Trump dan dengan sepak terjang menantunya, Jared Kushner, yang menjadi eksponen gerakan normalisasi Arab Israel.

Krusialitas perkembangan aliansi Arab Teluk-Israel ini terletak pada realitas betapa negara-negara itu telah sepenuhnya menyimpang dari rel Arab dan Islam, dan beralih bernaung ke bawah payung keamanan Israel secara langsung pasca perjanjian asimetris Abraham. Mereka sudah tersubordinasi sepenuhnya oleh Israel sehingga menuruti segala yang didiktekan rezim Zionis itu di bidang keamanan dan finansial.

Sekarang Kubah Besi masuk ke Teluk, dan di kemudian hari akan masuk pula kapal-kapal selam nuklir, lalu akan ada pula latihan-latihan militer gabungan angkatan darat, laut, dan udara. Jelas bahwa negara-negara Arab Teluk Persia makin beresiko menjadi sasaran gempuran negara-negara jirannya, terutama Iran.

Perkembangan tersebut akan berdampak krusial berikut ini;

  1. Eksistensi keamanan dan militer Israel di kawasan Teluk akan memperbesar resiko instabilitas dan kemungkinan pecahnya perang, bukan sebaliknya. Sebab, negara-negara Teluk itu akan menjadi ajang konflik Iran versus Israel dan AS. Resiko itu akan semakin jauh membesar jika Iran dan AS gagal merundingkan perjanjian nuklir, sementara kemungkinan gagalnyapun sejauh ini memang besar.
  2. Petualangan ceroboh negara-negara Arab Teluk itu dalam menjalin aliansi dengan Israel dan bergeser jauh dari doktrin keamanan Arab mengusik negara-negara besar Arab dan Islam di Timur Tengah dan sekitarnya, termasuk Irak, Mesir, Suriah, dan Aljazair. Beberapa informasi menyebutkan bahwa militer Mesir marah besar terhadap petualangan nekat itu, dan bahwa hubungan Mesir dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Arab Saudi mengalami krisis karena negara-negara Teluk itu dinilai mengabaikan semua rambu serta memanfaatkan keterpurukan ekonomi Mesir sebagai kesempatan untuk bertualang jauh bersama Israel yang notabene masih merupakan musuh strategis Mesir.

Peringatan dari berbagai pihak terhadap negara-negara Arab Teluk itu tampak sudah tak efektif lagi. Tapi mereka seharusnya mengetahui bahwa Kubah Besi sendiri tak akan dapat melindungi Israel dari badai rudal dari Jalur Gaza dan Libanon selatan, dan perang di masa mendatangpun juga tak akan berkobar dari satu dua arah, melainkan juga akan berkecamuk dari arah Yaman, Irak, dan Iran dengan berbagai jenis rudal yang semakin presisi, efektif, dan canggih dari masing-masing negara Islam itu. Apa yang terjadi di Abqaiq, Khuraish, Yanbu, dan belakangan ini di Jeddah, Arab Saudi, seharusnya menjadi pelajaran bagi mereka. (mm/raialyoum)

DISKUSI: