Azyumardi Azra Sebut Virus Terorisme Gampang Masuk Akibat Minimnya Ilmu Agama

0
192

Prof. Azyumardi Azra, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Nusantaranews.com

Jakarta, LiputanIslam. Com—Azyumardi Azra, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, dalam diskusi bedah buku “Hijrah dari Radikal kepada Moderat” di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Senin (23/12) kemarin mengatakan bahwa virus radikalisme mudah menyusupi orang-orang yang menim pengetahuan agamanya.

“Sasarannya kepada masyarakat yang memiliki pemahaman minim tentang agama, pemahaman keislamannya mungkin terpotong-potong. Sehingga mudah terpengaruh paham radikal,” ucap Azra.

Azyumardi menjelaskan bahwa tidak mengherankan apabila ada kelompok-kelompok teroris yang hendak menjadikan agama mayoritas di suatu negara, sebagai instrumen penyebaran ideologi mereka.

Menurutnya, selain itu, korban yang terpapar radikalisme banyak dari kalangan mahasiswa. Maka dari itu, ia mengusulkan pemerintah rajin dalam memberikan sosialisasi tentang kebhinekaan di kampus-kampus.

Baca: Dua WNI Bebas, Satu Masih Ditahan Teroris Abu Sayyad

BNPT bekerjasama dengan beberapa instansi terkait dan perguruan tinggi juga tengah meningkatkan aktivitas dan dialog kontra terorisme di Jakarta.

Senin kemarin,  dialog dilakukan di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ). kegiatan tersebut dihadiri oleh Direktur Pencegahan BNPT, Brigadir Jenderal (Pol) Hamli, mantan anggota jaringan terorisme, Kurnia Widodo, dan sejumlah akdemisi dari PTIQ.

“Kegiatan ini merupakan cara bagaimana kalangan mahasiswa tidak terpengaruh dengan terorisme,” kata Ketua FKPT DKI Jakarta, Darwis M. Adji.

Rektor PTIQ, Prof. Nasaruddin Umar, menyambut baik dilaksanakannya kegiatan diadlog di kampus yang dipimpinnya. Kegiatan ini diakuinya dapat meningkatkan kualitas lulusan perguruan tinggi yang memang dituntut selalu baik.

“Orang-orang, di dalam dan luar negeri senang dengan lulusan PTIQ, banyak yang menjadi imam masjid-masjid besar di Indonesia. Kehadiran BNPT ini harus kita syukuri, karena kalian mahasiswa juga harus paham apa itu terorisme,” ungkap Prof. Nasar.

Pria yang juga menjabat imam besar masjid Istiqlal tersebut mengaku tidak khawatir dipilihnya PTIQ sebagai lokasi pencegahan terorisme akan mendidkreditkan Islam. Sebaliknya, kegiatan seperti ini diharapkan mampu membuka mata sebagian pihak yang selama ini memandang miring Islam sebagai agama yang mengajarkan kekerasan.

“Kita harus menjaga citra Islam, karena sudah banyak yang mencoreng Islam itu sendiri dengan istilah terorisme,” pungkas Prof. Nasar.(Ay/Gatra/Tangsel. Com)

DISKUSI: