Assad: Amerika Jual Minyak Curian dari Suriah ke Turki

0
110

Sumber: Sputnik

Damaskud,LiputanIslam.com— Meskipun Presiden Donald Trump telah memproklamirkan akan menarik seluruh pasukannya dari Suriah, kenyataannya masih ada sedikit pasukan yang disiagakan di sekitar ladang minyak negara itu. Hal ini mendapat kecaman keras dari pemerintah Damaskus dan menyebut tindakan AS sebagai ilegal.

Presiden Suriah, Bashar al-Assad, menuduh Amerika telah menjual minyak curian dari Suriah ke Turki. Ia menyebut, ribuan tentara Amerika, termasuk beberapa orang perwakilan perusahaan swasta, telah hadir di wilayah Suriah yang dikuasai AS.

“Sebelum orang-orang Amerika, ladang minyak itu dikuasai oleh Jabhat al-Nusra. Setelah al-Nusra disingkirkan oleh Daesh, organisasi teroris ini mencuri minyak Suriah dan menjualnya ke Turki. Sekarang, Amerika sebagai salah satu pencuri minyak juga menjual minyaknya ke Turki,” jelas Assad.

Sebelumnya, dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Cina, Assad menyebut pasukan Amerika hanya akan meninggalkan Suriah jika tak lagi punya harapan di negara itu.

Ada dua hal yang ditawarkan Assad untuk mewujudkan itu.

Baca: Bashar Assad Ungkap Dua Cara Singkirkan Pasukan AS dari Suriah

Pertama, semua kelompok teroris yang mendekam di wilayah Suriah harus dilenyapkan. Sebab, Amerika mengklaim kehadirannya di Suriah adalah untuk melawan kelompok teroris. Kedua, pemerintah Suriah harus bisa meyakinkan koalisi Amerika di Suriah, terutama orang-orang Kurdi, untuk bergabung dengan pemerintah Suriah.

“Kelompok-kelompok ini harus diyakinkan dengan berbagai cara, khususnya dialog, untuk kepentingan Suriah. Mereka bisa berbuat untuk tanah air dan bekerjasama dengan pemerintah Suriah untuk membebaskan semua wilayah dari teroris,” ucap Bashar al-Assad seperti dikutip dari Sputnik, (16/12).

Presiden Suriah meyakini jika dua tujuan ini berhasil diwujudkan, Amerika tak akan lagi memiliki harapan untuk tetap di Suriah. Sebab, mereka harus menghadapi perlawanan dari rakyat Suriah.

“Amerika pasti akan pergi,” Tegas Assad menyimpulkan. (fd/Sputnik)

 

DISKUSI: