Aliansi Militer UEA-Israel Anti Iran

0
167

Israeli and United Arab Emirates flags line a road in the Israeli coastal city of Netanya, on August 16, 2020. (Photo by JACK GUEZ / AFP)

LiputanIslam.com –   Menlu AS Mike Pompeo dalam wawancara dengan Fox News, Ahad (6/8/2020), mengungkapnya adanya aliansi militer dan keamanan Israel-Uni Emirat Arab (UEA) anti-Iran.

“UEA dan Israel telah bersepakat untuk membangun aliansi keamanan dnan militera anti-Iran untuk melindungi kepentingan AS dan Timteng melalui Perjanjian Abraham, yang mengatur normalisasi penuh antara keduanya,” ujar Pompeo.

Pengungkapan ini tidaklah terlalu mengejutkan karena UEA selama ini memang tidak perah ikut memerangi Israel secara langsung maupun tidak, tak pernah membunuh ataupun melukai satupun orang Israel. Sejak UEA berdiri, negara yang diperanginya justru Yaman, salah satu negara Arab sendiri, dan kini ini UEA yang disebut-sebut sebagai “negeri madani nan damai” itu malah berpotensi berubah menjadi front militer di Semenanjung Arab, terutama terhadap Iran, negara jirannya sendiri.

Semua perjanjian damai dan normalisasi sebelumnya antara Arab dan Israel boleh dikata telah menyudahi kondisi perang dan konfrontasi di lapangan, karena terjadi antara Israel dan negara-negara Arab yang sebelumnya terlibat perang dengannya.

Namun, semua perjanjian itu tidaklah membuka jalan bagi keberadaan militer Israel dan Mesir, melainkan sebatas kerjasama keamanan pada levelnya tang rendah. Satu-satunya perjanjian yang demikian hanyalah Perjanjian Oslo, yang mensyaratkan pembentukan pasukan keamanan Palestina, yaitu Pasukan Dayton, yang menjadi perpanjangan tangan Israel di Tepi Barat, termasuk untuk mencegah terjadi serangan-serangan berani mati anti-Zionis.

Perjanjian UEA-Israel merupakan satu lompatan yang mengabaikan semua pantangan dengan satu label baru “perdamaian untuk perlindungan”, berfokus terutama pada aspek keamanan dan militer serta memperkenankan keberadaan Israel di pangkalan-pangkalan militer dan pusat-pusat keamanan UEA.

Keberadaan Penasehat Keamanan Nasional Israel Meir Ben-Shabat dan Kepala MOSSAD Yossi Cohen di dalam pesawat yang membawa menantu sekaligus Penasehat Senior Presiden AS Jared Kushner dari Tel Aviv ke Abu Dhabi menunjukkan dimulainya fase baru di mana dentitas Semenanjung Arab akan berubah dan membuka jalan bagi Israel untuk eksis di sana sebagai pasukan pelindung, bukan lagi sebagai tamu dan turis semata.

Pernyataan terbaru Imam Masjidil Haram Abdurrahman al-Sudais belum lama ini yang memuji pemulihan hubungan dengan Israel dan “eksistensi mereka sebagai pemilik tanah” boleh dikata merupakan harapan yang pertama kali diungkapkan dalam konteks demikian.

Kepakatan baru UEA-Israel dan kesepakatan-kesepakatan lain yang akan menyusul memungkinkan militer Israel untuk eksis di kawasan yang hanya berjarak sekian ratus kilometer dari berbagai fasilitas infrastruktur Iran di sepanjang pesisir timur Teluk Persia dan di dekat perbatasan Arab Saudi, Qatar, Oman dan Yaman.  Seperti dikatakan Pompeo, kesepakatan itu akan mengubah konflik Arab-Israel menjadi konflik Arab-Iran, dan bisa jadi pula konflik Arab-Turki pada tahap selanjutnya.

Apa yang terlihat sejauh ini masih berupa puncak gunung es perjanjian UEA-Israel, dan selanjutnya hampir pasti masih akan ada pengungkapan-pengungkapan melalui bocoran-bocoran informasi dari AS dan Israel. Sekarang angkasa Saudi dan Bahrain sudah terbuka untuk lintasan pesawat sipil maupun militer Israel menuju UEA. Selanjutnya bisa jadi terbuka pula untuk serangan Israel ke fasilitas nuklir dan infrastruktur Iran.

Bukan tak mungkin dalam bocoran selanjutnya akan terungkap bahwa UEA meminta jaminan dari AS untuk memaksa negara-negara Arab Teluk lainnya, yaitu Qatar, Saudi, dan Oman menandatangani perjanjian damai dengan Israel agar UEA tidak menjadi satu-satunya negara yang terjerumus dalam lobang yang dikutuk oleh sebagian besar bangsa Arab.

Perjanjian UEA-Israel sepintas terihat sebagai perjanjian damai, namun hakikatnya adalah perang, apalagi setelah perjanjian ini ramai pemberitaan mengenai keinginan UEA membeli pesawat siluman F-35 dari AS dan kemudian Israel berlagak menentangnya, mengingat bahwa pesawat itu lebih berpotensi digunakan untuk menyerang Iran dan sekutunya di Poros Resistensi, dan pembelian itupun bisa menjadi jalan pendanaan alternatif bagi perusahaan Lockheed Martin yang membuatnya.

Israel selama ini melancarkan perang proksi terhadap Iran dengan menyasar pangkalan dan sekutunya di Suriah, Irak, dan Libanon. Sekarang, Israel bisa jadi akan berperan sebagai proksi ataupun mitra AS dalam menggeser lokasi perang terhadap Iran. Kondisi perang ini hanya akan mereda jika Teheran tunduk pada tekanan Washington terkait dengan proyek nuklir Iran, dan ini sulit diharapkan, karena akan menjadi kemenangan bagi Israel yang selalu dikumandangkan Iran sebagai biang kerok dan musuh yang harus dimusnahkan dari bumi Timteng. (mm/raialyoum)

DISKUSI: