Khartoum, LiputanIslam.com – Wajah pria dalam foto ini menjadi terkenal di Sudan. Petempur tersebut, dengan rambut sebahu yang membingkai wajah berjanggut, telah muncul dalam berbagai video, yang menampakkan dia tersenyum, bahkan saat ia membantai orang-orang tak bersenjata.
Dia adalah Abu Lulu. Namun, foto dirinya yang dirilis Kamis lalu oleh paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF), kelompok yang konon diwakilinya, memperlihatkan dia diborgol setelah ditangkap.
Penangkapan ini merupakan bagian dari upaya RSF untuk menjauhkan diri dari kekejaman yang dilakukan di kota el-Fasher di Darfur, yang dikuasai pasukannya pada 26 Oktober setelah pengepungan selama 18 bulan. Setidaknya 1.500 warga sipil telah tewas sejak Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) meninggalkan kota itu, dan RSF mengamuk, menurut Jaringan Dokter Sudan.
Abu Lulu, yang juga dikenal sebagai Brigjen al-Fateh Abdullah Idris, telah menjadi simbol kejatuhan Sudan ke dalam kekejaman sejak perang antara RSF dan SAF dimulai pada April 2023.
Selama setahun terakhir, Abu Lulu telah dikaitkan dengan serangkaian pembunuhan di seantero Sudan. Dugaan kejahatannya, menurut para saksi, bukanlah tindakan kekerasan acak, melainkan tindakan yang disengaja untuk mengintimidasi, mengobarkan ketegangan etnis, dan menampilkan citra kekuasaan yang mengerikan.
Di al-Jaili, utara Khartoum, muncul rekaman dirinya membunuh dua tawanan perang. Di lingkungan Al-Salha di kota Omdurman, dia dilaporkan terlibat dalam pembunuhan 31 warga sipil. Di wilayah Al-Khuwair di negara bagian Kordofan Barat, dia dilaporkan telah mengeksekusi lebih dari 16 tentara yang ditangkap, dengan para saksi mata menduga motifnya adalah kebencian rasial.
Dan di el-Fasher, dia terekam sedang berhadapan dengan seorang pemilik restoran tak bersenjata, menanyakan sukunya, dan menembaknya hingga tewas setelah pria itu menjawab bahwa dia berasal dari suku Berti non-Arab. Permohonan belas kasihan korban yang putus asa tak digubris.
Pada 27 Oktober 2025, lebih banyak rekaman beredar daring, yang tampaknya menunjukkan pasukan Abu Lulu membunuh puluhan warga sipil di el-Fasher. Pembantaian tersebut, yang direkam dan dibagikan di media sosial, memicu kemarahan yang meluas, dan orang di baliknya malah tampak menikmati perhatian tersebut.
Pola Pikir ‘Psikopat’
Dr. David Holmes, seorang psikolog kriminal yang meninjau rekaman tersebut, menyebut Abu Lulu sebagai “seorang psikopat narsis”, yang kepribadiannya sangat membedakannya dari kaki tangannya. “Dia proaktif dalam membunuh korban yang tidak bersenjata,” ujarnya.
Holmes mencatat bahwa metode pembunuhan Abu Lulu seringkali melibatkan penembakan acak berulang kali, alih-alih menggunakan satu peluru. “[Ada] penggunaan senjata yang tidak berperasaan untuk melukai dan membunuh tanpa ada upaya untuk mengeksekusi [menggunakan] satu peluru ke [kepala],” kata Holmes tentang video-video yang menampilkan Abu Lulu, menambahkan bahwa pejuang tersebut tampaknya “menikmati penembakan tanpa pandang bulu”.
Holmes menambahkan bahwa sikap Abu Lulu di depan kamera menunjukkan bahwa ia memandang dirinya sebagai semacam selebritas. “Ia senang dengan posisinya dan berpose seolah-olah ia menganggap dirinya sebagai semacam selebritas bagi publik,” katanya.
Abu Lulu memang sering menyiarkan aksinya secara daring. Dalam satu sesi TikTok langsung, ia membual tentang pembunuhan “2.000 orang” dan mengakui ia “lupa hitungannya”. Sesi tersebut menuai tepuk tangan sekaligus kekhawatiran di antara pengguna yang berafiliasi dengan RSF, beberapa pengguna memujinya sebagai “pahlawan” dan yang lainnya mendesaknya untuk berhenti merekam.
Penyangkalan dan Penolakan
Menyusul kehebohan tersebut, berbagai sumber di dalam RSF mengklaim bahwa Abu Lulu secara formal bukan bagian dari kelompok paramiliter tersebut, melainkan memimpin “pasukan koalisi” yang bersekutu dengannya sejak awal perang.
“Dia bukan anggota RSF. Dia memimpin kelompok yang bertempur bersama kami, tetapi dia akan dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya. Dia tidak mewakili RSF,” ujar seorang sumber militer senior RSF, yang tidak ingin disebutkan namanya.
Juru bicara resmi RSF, al-Fateh al-Qurashi, kemudian menyuarakan hal yang sama, menyangkal bahwa Abu Lulu adalah bagian dari struktur komando mereka. Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Dagalo, yang dikenal luas sebagai Hemedti, mengakui kejahatan yang dilakukan oleh pasukannya dalam beberapa pekan terakhir dan mengumumkan pembentukan komite investigasi, menjanjikan bahwa “akan ada akuntabilitas”.
Namun, skeptisisme masih terasa mendalam, bahkan setelah penangkapan Abu Lulu. Organisasi peduli HAM dan analis mengatakan pola RSF yang berulang kali menjauhkan diri dari komandan lapangan yang terlibat dalam kekejaman telah menjadi taktik yang lazim, yang memungkinkan pasukan tersebut mempertahankan citranya sekaligus mempertahankan hubungan operasional dengan milisi lokal.
Akar Kekaisaran Paramiliter
RSF berawal dari milisi yang didukung/terkait dengan pemerintah yang dikenal sebagai Janjaweed, militan suku Arab yang dimobilisasi oleh pemerintah Sudan selama perang Darfur di awal tahun 2000-an, dan dituduh melakukan pembantaian, pemerkosaan, dan pembersihan etnis yang meluas.
Pada tahun 2013, Presiden Omar al-Bashir saat itu secara resmi merestrukturisasi milisi di bawah bendera RSF, menunjuk Hemedti sebagai komandannya. Meskipun secara nominal merupakan bagian dari struktur militer Sudan, RSF berkembang menjadi blok kekuatan otonom, mengumpulkan sumber daya ekonomi yang sangat besar dari pertambangan emas, kendali yang lebih luas, dan kontrak tentara bayaran di luar negeri.
Perang saudara Sudan meletus setelah RSF menolak diintegrasikan ke dalam SAF dalam jangka waktu yang diinginkan. Konflik ini memungkinkan pasukan paramiliter itu untuk memanfaatkan jaringan medan tempurnya yang mendalam dan pengalaman perang perkotaannya untuk merebut sebagian besar wilayah negara bagian Khartoum, Darfur, dan Kordofan.
Taktik yang sama yang digunakan di Darfur, yaitu menyerang warga sipil berdasarkan etnis dan loyalitas yang dipersepsikan, kembali melanda di seluruh wilayah Sudan hingga menewaskan ribuan orang dan membuat jutaan orang mengungsi.
Seruan untuk Keadilan
Di lingkungan itulah Abu Lulu mendapatkan ketenaran. Namun, seiring tersebarnya rekaman pembantaian el-Fasher secara global, seruan bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Mahkamah Pidana Internasional untuk menyelidiki kejahatan Abu Lulu atas pelanggaran hukum humaniter internasional pun meningkat.
Para pengacara bidang HAM berpendapat bahwa pembunuhan yang didokumentasikannya merupakan bukti nyata kejahatan perang. Namun, bagi para penyintas dan keluarga korban, keadilan terasa jauh.
“Dia membunuh orang di depan kamera. Dia menginginkan ketenaran,” kata Khalid, seorang penyintas pembantaian el-Fasher, yang tidak ingin menyebutkan nama lengkapnya.
Tindakan publik Abu Lulu, ditambah dengan rekaman pembunuhan yang dilakukan di el-Fasher yang tersebar luas, semakin merusak kredibilitas RSF, yang dalam beberapa bulan terakhir berusaha menampilkan diri sebagai kekuatan yang terhormat.
Pada bulan Juli, kelompok tersebut mengumumkan pembentukan pemerintahan paralel untuk mengelola wilayah Sudan di bawah kendalinya, dengan dewan presidensial yang diketuai oleh Hemedti.
Namun, upaya-upaya tersebut terabaikan jika dibandingkan dengan pembunuhan el-Fasher dan aksi para kombatan seperti Abu Lulu.
Baik bertindak secara independen maupun di bawah koordinasi RSF, Abu Lulu juga telah menjadi simbol kehancuran brutal Sudan.
Seiring berlanjutnya perang Sudan, fotonya – tersenyum lebar di depan kamera, senapan di tangan – menjadi pengingat beratnya perjuangan negara ini. (mm/aljazeera)