Absurditas Politisasi Dunia Olahraga pada Kasus Krisis Ukraina

0
893

LiputanIslam.com –Ada banyak pembicaraan akhir-akhir ini tentang perang Rusia-Ukraina, dari radio dan televisi hingga situs web, saluran, dan jejaring sosial di seluruh dunia. Sebagaimana yang lazim terjadi, krisis Rusia-Ukraina ini juga merembet hingga dunia olahraga. Dalam beberapa hari terakhir, kita melihat banyak reaksi dan kecaman negatif dari federasi, klub, tim nasional, hingga pesohor olahraga, yang diujukan kepada Rusia. Dalam sejumlah pertandingan, misalnya pertandingan sepakbola, sejumlah tim menyampaikan protesnya atas operasi militer Rusia itu dengan mengibarkan bendera Ukraina.

Jelas sekali bahwa dalam kasus ini, terjadi politisasi dunia olahraga. Maksudnya, event-event olahraga seperti sepakbola telah dipakai untuk menyampaikan aspirasi politik, atau dukungan politik atas sebuah peristiwa, dalam hal ini adalah kasus operasi militer Rusia atas Ukraina.

Tapi pertanyaan pertama yang muncul di benak kita atas fenomena politisasi olahraga ini adalah: bukankah selama ini slogan dunia olahraga internasional adalah “memisahkan politik dari olahraga”? Bukankah selama ini berbagai sanksi telah dijatuhkan untuk para pelaku olahraga (pemain, klub, hingga fans) yang menyampaikan aspirasi politiknya melalui olahraga? Bukankah para olahragawan yang berani menyerempet isu politik langsung berhadapan dengan sanksi, baik dari pihak klub ataupun sponsor?

Ya, jelas sekali bahwa di sini, terjadi apa yang disebut dengan kebijakan standar ganda. Operasi militer Rusia atas Ukraina adalah sebuah kekerasan. Dalam setiap operasi militer, dalam setiap perang, pasti akan jatuh korban jiwa. Faktanya, Barat yang dikomandani AS, memegang kendali atas hampir semua federasi olahraga dunia, menunjukkan sikap yang sangat buruk dan jauh dari keadilan dalam menyikapi kekerasan yang terjadi pada peristiwa perang.

Dalam kasus krisis Ukraina ini, Polandia, Swedia, dan Republik Ceko menyatakan memboikot pertandingan melawan Rusia di pertandingan play-off Piala Dunia 2022. Sebagaimana diketahui, Rusia bersama Polandia, Swedia, dan Republik Republik Ceko berada di grup B play-off Piala Dunia 2022 Zona Eropa. Rusia dijadwalkan bertemu dengan Polandia tanggal 25 Maret mendatang. Pemenangnya akan menghadapi pemenang pertandingan Swedia melawan Republik Ceko.

Dengan adanya pernyataan dari ketiga negara tersebut, bahwa mereka memboikot pertandingan melawan Rusia, maka nasib Rusia menjadi tidak jelas. Secara aturan, mestinya Polandia dinyatakan WO dan Rusia dinyatakan sebagai pemenang. Lalu, ketika Rusia telah dinyatakan menang melawan Polandia, timnas negara ini akan menghadapi pemenang pertandingan Swedia melawan Republik Ceko. Jika Swedia atau Republik Ceko menyatakan diri mundur, Rusia juga seharusnya dinyatakan sebagai pemenang dan maju ke putaran final Piala Dunia di Qatar Desember nanti.

Akan tetapi, tentu saja, tuntutan ketiga negara Eropa di atas kepada FIFA adalah: Rusia yang harus dicoret dari persaingan, dan posisinya digantikan oleh negara lain. Menarik, dan masih harus dilihat, apakah FIFA akan menyetujui permintaan ketiga negara itu? Akankah FIFA pada akhirnya menyerah kepada tuntutan politik?

Sepertinya, FIFA memang akan menyerah, dan akan mencederai makna sportivitas sebagai esensi utama dari olahraga. Lembaga-lembaga olahraga internasional lainnya telah memberikan contoh buruk tentang hal ini. Misalnya saja, pemerintah Inggris telah membatalkan visa tim bola basket Belarusia, dengan dalih Belarusia telah kerja sama dengan Rusia. Dalam hal ini, Federasi Bola Basket Internasional (FIBA) sama sekali tidak menegur Inggris, bahkan cenderung memberikan dukungan.

Dan juga, sebenarnya, FIFA sudah berlaku tidak adil dalam isu konflik Rusia dan Ukraina yang sebenarnya sudah berlangsung beberapa tahun terakhir ini. Misalnya saja, pada bulan Juni tahun lalu, selama pertandingan antara Ukraina dan Makedonia di Euro 2020, fans Ukraina berulang kali mengeluarkan yel-yel penghinaan terhadap Vladimir Putin, di sela-sela dukungan mereka kepada tim sepakbola Ukraina. Federasi Sepakbola Eropa (UEFA) sempat menyatakan akan menjatuhkan sanksi kepada Ukraina. Tetapi, tak pernah ada realisasi apapun atas ancaman tersebut.

Dari Iran, anggota Parlemen Rouhullah Motafaker Azad menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh FIFA membuktikan bahwa federasi ini ikut campur dalam masalah politik, dan bahwa klaim “olahraga harus dipisahkan dari politik” hanyalah omong kosong belaka. Azad mempertanyakan, jika Rusia tidak diperbolehkan hadir di lapangan, kenapa tim-tim sepak bola negara-negara agresor Yaman selama delapan tahun terakhir tidak mendapatkan sanksi apapun.

Dari Mesir, kritikan keras juga disampaikan oleh Universitas Al-Azhar. Dalam sebuah pernyataannya, Al-Azhar menghubungkan sikap FIFA terhadap Rusia itu dengan sikap terhadap agresor Palestina, yaitu Zionis Israel. Al-Azhar menyatakan bahwa kemanusiaan mestinya tak bisa diukur dengan standar ganda. Maksudnya, kalau Rusia dikenai sanksi, Israel juga seharusnya sejak lama dikenai sanksi.

Konflik Rusia-Ukraina nyatanya telah membuka sisi lain kebobrokan sistem dunia, termasuk di bidang olahraga. (os/li/alwaght)

DISKUSI: