Ketar-Ketir Arab Saudi Ketika Turki Melirik Yaman

0
613

LiputanIslam.com –  Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz mengadakan percakapan telefon dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di sela KTT G-20 yang dimulai di Riyadh secara virtual pada Sabtu 21 November 2020.  Dalam percakapan itu keduanya bersepakat untuk menyelesaikan persoalan kedua negara melalui kanal dialog.

Perkembangan ini tentu bukan sebatas mencerminkan sambutan baik Salman atas partisipasi Erdogan untuk berpartisipasi dalam KTT itu, melainkankan juga menyiratkan upayanya mengantisipasi dampak peranan Turki yang terus berkembang di Dunia Islam, yang bisa jadi menggerogoti kepentingan Saudi, terlebih setelah sekutu terkuatnya Donald Trump kalah pemilu di AS di saat Turki mencetak kemenangan dalam krisis Karabakh antara Azerbaijan dan Armenia.

Hubungan Saudi-Turki mengalami krisis yang berpotensi memburuk karena beberapa faktor sebagai berikut;

Pertama, keputusan Saudi memboikot sektor pariwisata dan komoditas Turki sehingga menjadi pukulan bagi ekonomi Turki di saat negara ini sedang mengalami kesulitan, dan pada gilirannya Turki bisa jadi akan membalas dendam.

Kedua, keluarnya fatwa Dewan Ulama Senior Saudi yang menyebut Ikhwanul Muslimin (IM) sebagai kelompok teroris, menyimpang, tidak ada kaitannya dengan Islam, dan berambisi meraih kekuasaan dengan kedok agama. Fatwa ini tak ubahnya dengan melangkahi kehormatan Turki yang menjadikan IM sebagai ujung tombak gerakan politik Turki di Dunia Arab dan Islam.

Ketiga, keberhasilan campurtangan Turki dalam krisis Karabakh membuahkan perkembangan yang menguntungkan Azerbaijan di depan Armenia, yang secara tidak langsung mendapat dukungan dari Saudi. Keberhasilan ini menjadi kartu kemenangan bagi Ankara di Dunia Islam.

Keempat, dukungan Turki kepada Qatar dalam konfliknya dengan Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Mesir. Turki bahkan mendirikan pangkalan militer di Al-Udeid. Menurut beberapa laporan Barat, di sana terdapat 30,000 tentara Turki beserta perlengkapan beratnya, bersamaan dengan penempatan pasukan Turki di Somalia, Libya, dan Cyprus Turki.

Kelima, Turki menjadikan kasus pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi sebagai kartu penekan Saudi. Kartu ini kerap digunakan Turki untuk mempermalukan Saudi di depan dunia terkait dengan pelanggaran HAM oleh rezim Riyadh.

Dewasa ini hal yang paling mencemaskan Saudi adalah berkenaan dengan dua isu ; Pertama, perang Yaman; kedua, kepemimpinan Saudi selaku “Negeri Haramain” di Dunia Islam. Dan dua isu inipun boleh dikata juga berkaitan satu satu sama lain.

Belum lama ini, Penasehat Presiden Turki Yasin Aktay menulis artikel yang mengundang perhatian banyak orang. Artikel itu dimuat di surat kabar Turki Yeni Safak, yang merupakan corong Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa, dengan judul yang menantang: “Sebagaimana Telah Menyelamatkan Libya dan Azerbaijan, akankah Turki Campur Tangan untuk Menyelamatkan Rrakyat Yaman dari Decisive Storm?” Decisive Storm (Badai Yang Menentukan) adalah sandi operasi militer koalisi Arab yang dipimpin Saudi di Yaman.

Artikel itu merupakan sinyal ancaman besar bagi Saudi sekaligus UEA, dan merefleksikan rencana petualangan Turki selanjutnya, karena keterlibatan Turki berpotensi mengubah perimbangan politik dan militer di Yaman setelah Turki menimba pengalaman dari campurtangannya di Libya, Suriah, Somalia, dan Azerbaijan.

Sembari memuji keberhasilan Turki di negara-negara tersebut Aktay menyatakan, “Campur tangan Saudi-UEA di Yaman sejak lebih dari lima tahun silam telah memperumit krisis dan membawanya kepada titik yang tak dapat diselesaikan.”

Dia menjelaskan, “Decisive Storm yang dikomando Saudi dan UEA bertujuan membela pemerintahan Yaman yang sah melawan Houthi yang telah mengkudetanya, tapi mereka telah membuktikan, setelah sekian tahun berlalu, bahwa mereka tak sanggup mengalahkan Houthi, dan di saat yang sama malah melemahkan kekuatan lain.”

Aktay lantas menyebutkan,”Satu-satunya jalan untuk mewujudkan stabilitas di Yaman ialah mengakui semua pihak, dan membukakan jalan bagi dialog yang semestinya mendatangkan perdamaian bagi semua.”

Dia menutup artikelnya dengan menyatakan, “Seandainya memang ada niat untuk mewujudkan solusi dan stabilitas di Yaman maka akan sangat bermanfaat jika pengalaman Turki di Suriah, Libya, Somalia, dan Azerbaijan diikuti.  Ini jika memang ada niat hakiki untuk membangun solusi dan perdamaian.”

Aktay sendiri merupakan salah satu pengusung teori neo-Otthomanisme, dan orang yang menggantikan Ahmet Davutoglu yang menyempal dari AKP dan kemudian mendirikan partai sendiri, Partai Masa Depan.

Tulisan Aktay menyiratkan agenda Turki di Semenanjung Arab di masa mendatang. Turki bermaksud mengepung Saudi dari arah selatan, yaitu Yaman, dan dengan demikian Saudi akan berhadapan langsung dengan dua musuh regionalnya, Turki dan Iran, sekaligus.

Lantas bagaimana reaksi dan kebijakan Saudi nanti, terlebih setelah kehilangan Trump dan hubungannyapun memburuk dengan berbagai kekuatan regional dan Islam?

Ada tiga pilihan bagi Saudi; 1. Berdialog dengan Turki dan menyelesaikan masalahnya; 2. Terbuka terhadap Suriah dan Poros Resistensi; 3. Menormalisasi hubungan dengan Israel dan bersekutu dengannya sebagaimana dilakukan UEA serta menanggung segala resikonya.

Perputaran waktu akan memperlihatkan manakah sesungguhnya di antara tiga opsi itu yang akan dipilih oleh Kerajaan Saudi. (mm/raialyoum)

DISKUSI: