UEA-Israel: Dunia Arab Memang Tak Bisa Diharapkan

0
201

LiputanIslam.com –Makin nyatalah sudah bahwa dunia Arab tidak bisa diharapkan dalam perjuangan Palestina. Yang dimaksud adalah negara-negara Arab monarki yang kaya raya. Baru-baru ini, Uni Emirat Arab (UEA), salah satu negara monarki yang kaya raya itu, sudah secara resmi memulai normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel. Negara-negara monarki-kaya lainnya bersikap “wait and see”. Tak ada kecaman apapun terkait dengan keputusan UEA tersebut. Bahkan, Arab Saudi, melalui menlunya Faisal bin Farhan menyambut baik keputusan negara tetangganya itu, meskipun tidak akan menirunya dalam waktu dekat.

Ini adalah salah satu fenomena pengkhianatan baru dunia Arab terhadap Palestina. Selama ini, mereka mempertontonkan politik basa-basi yang memuakkan terkait dengan kasus Palestina. Di satu sisi, secara formal, mereka menyatakan dukungan dan solidaritas terhadap saudara Muslim mereka di Palestina yang sedang mengalami penjajahan. Akan tetapi, dukungan formal itu betul-betul hanya di atas kertas. Berbagai perilaku mereka lainnya menunjukkan hal-hal yang sebaliknya.

Konon, mereka mendukung Palestina dan berseberangan dengan Israel. Akan tetapi, hampir semua negara-negara Arab kaya itu menjalin hubungan dagang dengan Israel. Padahal, salah satu kekuatan Israel hingga masih tetap eksis hingga kini adalah ekonominya yang kuat. Di sisi lain, bukankah ekonomi Israel merupakan produk dari penjajahan? Bukankah kurma, zaitun, dan berbagai produk pertanian Israel lainnnya itu diproduksi di lahan-lahan subur hasil rampasan?

Arab Saudi juga punya hubungan kerjasama militer dan keamanan dengan Israel. Ketika negara ini menginvasi Yaman, artileri yang dipakai oleh tentara Arab Saudi berasal dari AS, Inggris, dan Israel. Pembelian senjata dari Israel pada dasarnya adalah dukungan terhadap industri senjata, yang juga terkait dengan kekuatan ekonomi negara Zionis itu.

Basa-basi politik dukungan kepada Palestina lainnya kelihatan dari tak adanya komitmen negara-negara Arab itu untuk membantu bangsa Palestina. Lebih dari lima juta rakyat Palestina saat ini terlunta-lunta dan terusir dari tanah air mereka. Ke mana saja mereka itu mengungsi? Mereka bisa berada di mana saja, kecuali di negara-negara Arab yang kaya raya itu. Kalaupun ada beberapa kasus penerimaan pengungsi, jumlahnya amat sangat kecil. Masing-masing negara hanya menampung pegungsi di angka ribuan saja. Sedangkan jutaan pengungsi lainnya berada di Suriah, Lebanon, Mesir, dan Jordania.

Nihilnya bantuan dari negara-negara Arab-kaya itu bisa dilihat dalam konteks perjuangan bersenjata milisi-milisi Palestina yang tiap hari terus digempur oleh Israel. Tiap hari, ada saja berita kematian, penghancuran rumah, penahanan, dan berbagai kekerasan lainnya yang datang dari Jalur Gaza atau Tepi Barat,akibat ulah serdadu Israel. Pejuang Palestina tentu saja melawan. Sejumlah negara memberikan bantuannya. Tapi, tak satupun bantuan itu datang dari negara-negara Arab kaya.

Di sisi lain, yang juga sungguh ironis, adalah amat mesranya negara-negara Arab kaya itu dengan Amerika Serikat. Padahal, sudah menjadi pemahaman bersama bahwa Amerika adalah sekutu dan pendukung utama Israel. Puluhan veto dijatuhkan atas berbagai rancangan PBB terkait dengan kecaman dan hukuman atas kejahatan-kejahatan Israel di Palestina. Fakta-fakta ini betul-betul diabaikan oleh negara-negara Arab-kaya itu.

Kini, UEA telah mempelopori normalisasi hubungannya dengan Israel. Negara-negara Arab-kaya lainnya sepertinya akan menyusul, menunggu kondusivitas situasi politik. Ketika dunia Arab dan Muslim, khususnya rakyat di negara mereka masingmasing,  tidak menunjukkan resistensi atas keputusan UEA itu, mereka akan segera menyusul UEA.

Dunia Arab yang kaya dan monarkis memang sudah tidak bisa diharapkan untuk membantu Palestina. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: