Persekutuan Rapuh AS-Saudi dan Terancamnya MbS

0
432

LiputanIslam.com –Ketegangan antara AS dan Arab Saudi tampaknya makin memanas. Kedua pihak sudah saling melontarkan kecaman hingga ancaman. Yang terbaru, seorang pangeran Saudi bernama Saud bin Fawaz al-Shaalan menyatakan kesiapan negaranya untuk berjihad melawan AS dan siapapun yang mengancam eksistensi negaranya. Ancaman ini disampaikan dalam konteks ketegangan yang makin meningkat antara negaranya dan AS, gara-gara masalah produksi minyak.

Ekonomi AS dan Barat memang sedang sangat lesu. Inflasi meningkat dengan cepat gara-gara harga minyak dunia yang melambung tinggi. Aksi embargo yang dilakukan AS dan negara-negara Barat kepada Rusia malah berbalik menjadi senjata makan tuan. Rusia adalah salah satu negara penghasil minyak dan gas terbesar di dunia. Tidak adanya aliran migas dari Rusia otomatis membuat harga minyak melambung tinggi. Untuk mengatasi krisis energi tersebut, AS menekan Arab Saudi yang memimpin negara-negara pengekspor minyak (OPEC) untuk menaikkan kapasitas produksinya.

Namun, alih-alih memenuhi permintaan tersebut, Arab Saudi dan negara-negara OPEC lainnya malah memangkas produksi minyaknya sebanyak 2 juta barrel per hari. Arab Saudi dan negara-neara-negara OPEC ini didasarkan kepada pertimbangan ekonomi dalam situasi ekonomi dunia yang serba tidak pasti dan terancam resesi. Dalam pandangan mereka, jika minyak terus digenjot, cadangan minyak makin menipis, dan tak mustahil bahwa dalam waktu yang tak lama lagi, negara-negara OPEC lah yang berhadapan dengan krisis energi.

Keputusan ini memantik kemarahan AS.  Senator Demokrat dari wilayah Connecticut Richard Blumenthal menyatakan bahwa dengan keputusannya itu, Arab Saudi telah memposisikan diri sebagai pengkhianat karena tindakannya ini sama saja dengan persekutuan dengan Rusia. Blumenthal dan beberapa senator lainnya saat ini sedang merancang sebuah petisi terkait penghentian penjualan senjata ke Arab Saudi selama satu tahun. Artinya, Arab Saudi akan dibiarkan dalam kondisi yang lemah secara militer saat negara ini masih sedang berkonfrontasi dengan Yaman. Ancaman dan tekanan AS inilah yang kemudian menciptakan reaksi balik yang tak kalah keras dari sejumlah kalangan dalam negeri di Saudi.

Bagaimana ujung dari perselisihan ini? Apakah ini akan menjadi pertanda bahwa Arab Saudi dan AS, dua negara yang dikenal sangat dekat satu sama lain, akan mengakhiri persekutuan mereka? Bisa jadi memang demikian. Pandemi yang disusul dengan operasi militer Rusia di Ukraina memang telah membuat banyak negara dunia kelimpungan. Krisis energi dan pangan melanda hampir semua negara maju dan kaya, termasuk AS dan Arab Saudi. Masing-masing negara tentu ingin selamat. Sayangnya, AS masih muncul dengan bahasa arogannya yang seperti biasa, yaitu bahwa kepentingan dan keselamatan nasional negara mereka harus mendapatkan perhatian dari negara-negara lain. Akan tetapi, saat ini, pemenuhan atas jika permintaan AS itu juga bermakna terancamnya kepentingan nasional Arab Saudi.

Jika situasi ini terus berlanjut, angat mungkin ujung-ujungnya adalah konflik di antara dua negara penting di dunia itu, dan publik dunia menantikan adanya perubahan besar sebagai imbas dari bubarnya persekutuan tersebut. Jangan lupa pula, pada tanggal 25 Maret 1975, Raja Faisal yang saat itu sedang bertakhta di Arab Saudi, dibunuh oleh keponakannya sendiri, Pangeran Faisal bin Musaid. Pangeran Faisal baru saja kembali dari Amerika Serikat, dan sang pangeran sendiri akhirnya tewas ditembak oleh pengawal kerajaan, sehingga tak pernah terungkap motif pembunuhan tersebut. Yang pasti, Raja Faisal saat itu sedang berseteru dengan AS terkait masalah minyak. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: