Pengkhianatan Arab Teluk terhadap Palestina

0
226

LiputanIslam.com –Negara-negara Arab yang memiliki pesisir pantai di Teluk Persia menamakan dirinya sebagai Negara-Negara Teluk. Mereka bahkan membentuk organisasi kerjasama bernama Gulf Cooperation Council (GCC). Ada Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Oman, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Semuanya adalah negara-negara kaya, karena kepemilikan mereka atas ladang-ladang minyak yang memang berlimpah di sekitar pantai Teluk Persia.

Selain kaya, negara-negara tersebut dikenal sebagai sekutu dekat AS. Bahkan, dalam pengelolaan minyak di negara-negara tersebut, dipastikan mereka sepenuhnya bergantung kepada AS. Karenanya, dalam menjalankan politik luar negeri, GCC selalu seiring sejalan dengan kepentingan AS. Fakta-fakta ini menciptakan banyak ironisme, dan yang paling mencolok dari semua ironisme itu adalah isu Palestina.

Palestina adalah bangsa Muslim yang sedang berada cengkeraman penjajah Zionis Israel. Berbagai kejahatan digelar Israel di Palestina hingga menciptakan banyak sekali tragedi. Lalu, siapakah yang paling banyak diharapkan untuk memberikan bantuan kepada Palestina? Tentu saja, jawabannya adalah: negara-negara yang paling banyak memiliki kesamaan dengan Palestina, dan negera-negara tersebut punya potensi untuk memberikan bantuan.

Negara-negara Arab Teluk yang tergabung ke dalam GCC tersebut memiliki semua kriteria tadi. Mereka kaya, Muslim, Arab, dan secara geografis sangat dekat dengan Palestina. Lalu, apa yang sudah dilakukan oleh GCC terhadap Palestina? Bisa dikatakan tak ada. Bahkan, mereka cenderung menjadi penghambat atas upaya kemerdekaan Palestina. Salah satu di antaranya adalah mereka ikut mendukung kekacauan di Suriah. Padahal, Suriah adalah satu-satunya negara Arab yang secara terang dan jelas masih dalam situasi berperang melawan Israel.

Makin ke sini, peran negara-negara Arab Teluk terkait dengan upaya kemerdekaan Palestina itu semakin terlihat antagonis. Kalau sebelumnya mereka hanya terhubung dengan AS, kini, mereka semakin terang benderang mengakui adanya hubungan dengan Zionis Israel. Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Abdullah Bin Zayed, misalnya, mengaku bahwa hubungan negara-negara Arab pesisir Teluk Persia dengan Rezim Zionis Israel terus membaik. Melalui akun Twitter-nya, Bin Zayed menyebut aliansi Arab-Israel yang mulai terbentuk di Timur Tengah adalah sebuah reformasi yang sangat positif.

Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga berkunjung ke Oman, dan ia mendapatkan sambutan hangat dari para pejabat Muscat. Menteri Luar Negeri Oman Yusuf Bin Alawi mengatakan bahwa Israel merupakan salah satu bangsa di Timur Tengah, dan negara-negara Arab harus memulai perjalanan baru untuk masa depan.

Bahrain juga semakin mendekati Israel. Para rahib Yahudi Israel dapat berkeliaran dengan leluasa di Dubai dan meninjau sinagog-sinagog yang ada di sana. Raja Bahrain sendiri juga berkali-kali menunjukkan minatnya dalam mengupayakan proses normalisasi hubungan Arab dengan Israel.

Sementara itu, Arab Saudi, kita sudah sama-sama mafhum, bagaimana invasi Saudi ke Yaman itu dibantu oleh senjata buatan Israel. Sebelum ini juga para pejabat Arab Saudi berkali-kali menyatakan minatnya untuk menjalin hubungan dengan Israel.

Negara-negara Arab Teluk boleh-boleh saja mengemukakan berjuta alasan terkait keuntungan yang akan diperoleh ketika mereka menjalin hubungan dengan Israel. Akan tetapi, mereka juga harus siap dengan konsekwensi dicap sebagai pengkhianat. Israel adalah biang beragam masalah di Palestina. Adalah omong kosong jika mereka mengklaim sedang membela Palestina, tapi pada saat yang sama malah berbaik-baik dengan biang masalah tersebut. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: