Peluang Dialog Iran – Arab Saudi

0
160

LiputanIslam.com –Peluang terciptanya dialog antara Iran dan Arab Saudi saat ini menjadi salah satu dinamika dan isu politik yang cukup hangat diperbincangkan. Kedua negara sudah memberikan sinyal positif. Dibungkus dengan alasan “menjadi mediator perselisihan antara Iran dan AS”, Menlu Arab Saudi Faisal bin Farhan menyatakan bahwa negaranya siap membuka dialog. Di sisi lain, Menlu Iran Javad Zarif menyatakan negaranya siap melakukan dialog dengan seluruh negara Arab Teluk, termasuk Arab Saudi, membincangkan segala masalah di kawasan, termasuk proposal keamanan di Selat Hormuz.

Peluang seperti ini mestinya adalah sinyal positif bagi kebaikan di kawasan Timur Tengah dan juga bagi kebaikan ummat Islam di seluruh dunia. Perpecahan dan perseteruan internal adalah momok paling mengerikan yang menyebabkan ummat Islam terus terpuruk seperti sekarang ini. Berbagai isu dihembuskan untuk membuat ummat ini terus saling menjauh. Ummat ini diadu domba. Akibatnya, sangat sulit membuat kata sepakat ketika ummat Islam dihadapkan kepada keharuskan untuk menyelesaikan berbagai masalah. Alih-alih menyelesaikannya, kaum muslimin malah seperti punya kecenderungan untuk memperparah masalah yang sedang dihadapi.

Palestina adalah contohnya. Sudah lebih dari 70 tahun lamanya bangsa ini kehilangan kemerdekaannya; hak paling asasi bagi sebuah bangsa. Memang ada faktor AS yang memberikan bantuan ekonomi, militer, dan politik kepada Zionis Israel. Tidak adanya persatuan di antara ummat Islam dalam isu Palestina itu salah satunya adalah akibat politik klasik pecah belah yang biasa digunakan imperialis untuk melanggengkan kekuasaannya. Akan tetapi secara internal pun, kaum Muslimin cenderung dengan mudahnya termakan isu.

Di Palestina sendiri, HAMAS (dan Jihad Islam) di Gaza tak pernah akur dengan Fatah (PLO) di Tepi Barat. Bahkan sempat beberapa kali terjadi kontak senjata di antara milisi kedua kelompok itu. Kemudian, sebagian ummat Islam dan pemimpin negara Arab juga banyak yang percaya begitu saja isu yang dihembuskan AS bahwa kelompok-kelompok perlawanan seperti HAMAS, Jihad Islami, dan Hezbollah (juga Iran dan Suriah) sebagai kelompok teroris. Cukup banyak yang percaya bahwa perlawanan bersenjata menghadapi kesewenang-wenangan tentara Zionis Israel adalah tindakan terorisme. Karenanya, alih-alih memberikan bantuan terhadap para pejuang kemerdekaan Palestina itu, sebagian kaum Muslimin dan pemimpin negara-negara Arab malah ikut mengecam dan malah berbaik-baikan dengan Zionis dan AS.

Racun mematikan perpecahan juga terlihat dengan jelas dalam krisis Suriah dan Yaman. Kedua negara ini hancur lebur. Isu utama yang dihembuskan adalah “bahaya Syiah”, isu yang sangat primordial. Di Suriah, berkumpul ratusan ribu milisi jihadis asing yang berasal dari lebih dari 100 negara dunia. Mereka bersumpah untuk menghancurkan Bashar Assad, Syiah Alawi yang menindas Sunni. Sementara itu, berbagai kota di Yaman sejak tahun 2015 menjadi target pengeboman artileri Arab Saudi dan koalisinya. Isunya juga kurang lebih sama, yaitu soal bahayanya Syiah Al-Houthi yang ditengarai sebagai proxy dari Iran.

Suriah, Yaman, Irak, Palestina, dan banyak negara Muslim lainnya hingga kini terus bergolak dan terpuruk. Negara-negara Arab juga terus dihantui ketidakamanan. Sementara itu, para pialang minyak dan pabrik-pabrik senjata berpesta pora mengambill keuntungan dari krisis tersebut.

Persatuan adalah kunci agar kita bisa keluar dengan selamat dari kubangan keterpurukan. Sekarang, peluang untuk mewujudkan persatuan itu sudah sedikit terbuka. Sudah saatnya untuk membuang bahasa senjata dan kekerasan, lalu menggantinya dengan dialog yang beradab dan berperikemanusiaan. Barangkali inilah memang saatnya kaum Muslimin segera bersatu, selagi kekuatan politik dan militer AS sedang melemah pasca tewasnya Martir Qassem Soleimani. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: