Nakba, Akar Masalah Palestina

0
121

LiputanIslam.com –Tanggal 15 Mei 1948 adalah hari yang tak mungkin akan dilupakan oleh warga Palestina mana pun, dan bahkan oleh semua umat manusia yang memiliki hati dan akal yang sehat. Itulah hari ketika sekelompok orang yang menamakan dirinya kaum Zionis mengusir lebih dari 800.000 warga Palestina dari rumah leluhur mereka dan menghancurkan lebih dari 530 desa di wilayah pendudukan. Orang-Orang Palestina dan banyak sekali komunitas internasional menyebutnya sebagai Yaum Al-Nakba (Nakba Day), atau hari bencana.

Pada saat itu, negara-negara Barat bergabung dengan rezim Zionis untuk mencapai aspirasi mereka dan secara resmi menyeret orang-orang Palestina dari tanah mereka ke kamp-kamp pengungsi di luar perbatasan. Kamp-kamp biasanya didirikan di wilayah tetangga Palestina atau di dalam area di mana orang-orang Palestina hadir, seperti Jalur Gaza atau Tepi Barat. Selama hampir delapan dekade ini, rakyat Palestina terus menunjukkan perlawanan demi untuk memperoleh kembali tanah air mereka. Tentu saja, perlawanan tersebut dilancarkan dengan segala macam resikonya, termasuk pembantaian, penahanan massal, blokade, dan berbagai tindakan jahat lainnya.

Semua tindakan jahat yang secara praktis berlangsung sejak Yaum Al-Nakba hingga saat ini (tahun 2022 ini sudah berlangsung selama 74 tahun), dilakukan oleh Zionis Israel demi sebuah ambisi jahat dan klaim absurd mitologis tentang “Negeri yang Dijanjikan” (The Promised Land). Mereka berupaya mengimplementasikan cita-cita mendirikan sebuah negara bernama Israel Raya yang membentang dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Eufrat di Irak. Itulah yang mereka sebut sebagai kawasan yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Raja Sulaiman (Solomon) putera Dawud (David).

Kenyataannya, setelah berlalu 74 tahun, ambisi busuk Zionis Israel itu masih menjadi impian yang belum –bahkan sepertinya tidak mungkin akan– tercapai, karena perlawanan tak kenal lelah dan tak kenal kata menyerah yang dilakukan oleh para pejuang Palestina. Bagi jutaan bangsa Palestina, kembali ke tanah air adalah satu-satunya impian yang mereka pegang teguh, bahkan ketika upaya mewujudkan cita-cita itu harus mereka jalani dengan tangan kosong dan  hanya bersenjatakan batu. Bagi bangsa Palestina, Nakba adalah sebuah monumen perlawanan, ketika mereka menunjukkan kesetiaan kepada semangat juang dan cita-cita luhur kemerdekaan. Slogan para pejuang Palestina sejak dulu sampai sekarang tetaplah sama, yaitu: exist (tetap hadir di medan perjuangan), resist (tetap menunjukkan perlawanan atau resistensi), serta return, yaitu sebuah tujuan hidup yang jelas: kembali ke tanah air mereka.

Bagi masyarakat internasional, Palestina adalah sebuah pengadilan nurani. 74 tahun perjuangan bangsa tertindas Palestina, dan 74 tahun  kekejaman yang dipertontonkan oleh rezim Zionis Israel adalah ujian nurani bagi siapapun, terkait kepada siapa kita berpihak.

Negara-negara pendukung Zionis Israel sering menyampaikan pembelaan dengan merujuk kepada kasus-kasus parsial seperti penembakan roket yang dilontarkan para pejuang Palestina ke kawasan Israel, yang sebenarnya, kasus-kasus seperti ini  merupakan akibat dari rentetan peristiwa sebelumnya. Sementara itu, para pendukung Palestina, selain membahas kasus-kasus parsial seperti pembunuhan, penahanan, blokade, dan berbagai kejahatan lainnya yang dilakukan oleh Zionis Israel atas warga Palestina, juga selalu mengingatkan masyarakat dunia tentang akar masalah dari semua bencana di Tanah Palestina, yaitu Yaum Al-Nakba; fakta yang coba ditutupi oleh pendukung Zionis Israel. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: