Menunggu Peralihan Kekuasaan di Arab Saudi

0
196

LiputanIslam.com –Sejak ditetapkan sebagai putra mahkota Juni 2017, Mohammaed MbS (MbS) secara efektif telah menempatkan dirinya sebagai pemimpin Arab Saudi. Segala macam kebijakan dalam dan luar negeri Arab Saudi, yang baik ataupun yang kontroversial, berada di tangan MbS. Adapun ayahnya, Salman bin Abdul Aziz lebih dikenal publik dalam dan luar negeri sebagai pemimpin simbolik.

Ada dua faktor penting mengapa MbS begitu sangat berkuasa. Pertama adalah faktor kepribadian MbS yang dikenal sangat ambisius –dan dia juga dikenal sebagai pemimpin muda yang bersemangat. Kemudian, faktor kedua adalah situasi Raja Salman yang sudah terhitung sangat tua (Desember 2022 ini akan genap berusia 87 tahun) serta sakit-sakitan, sehingga sangat jarang tampil di publik. Selama lima-enan tahun terakhir ini, sang Putra MbS-lah yang secara efektif menjadi penentu kebijakan dalam dan luar negeri Saudi. Dan sepertinya, MbS hanya selangkah lagi untuk naik takhta, dalam rangka mewujudkan rencananya yang ambisius, tanpa hambatan. Menyusul pemberitaan memburuknya kondisi fisik Raja Salman seperti yang makin sering diberitakan media massa, muncul rumor tentang upaya MbS untuk naik takhta, tanpa perlu menunggu wafatnya Raja Salman.

Berbagai analisis menyatakan bahwa langkah-langkah MbS baru-baru ini di bidang kebijakan luar negeri juga menunjukkan fakta bahwa ia memang akan segera naik takhta. Baru-baru ini, MbS memimpin delegasi kunjungan ke UEA untuk mengirim pesan belasungkawa kepada penguasa UEA Mohammed bin Zayed. MbS membawa serta hampir semua pejabat senior Saudi yang dihadiri oleh semua cabang keluarga kerajaan. Ini seperti sebuah kode keras bahwa semua pihak sudah siap untuk proses pemindahan kekuasaan di Saudi.

Bahkan, Muhammad bin Nayef dan Abdul Azir bin Ahmad, satu-satunya putra raja Saudi yang masih hidup dan salah satu saingan serius MbS untuk tahta dalam keluarga Saudi, berada dalam rombongan tersebut. Tak pelak ini adalah sinyal yang jelas untuk menunjukkan bahwa MbS berhasil melakukan konsolidasi di dalam keluarga Dinasti Saudi. MbS, dengan delegasinya yang “full-team”  di UEA, mencoba mengirim pesan kepada publik dunia bahwa transfer kekuasaan di Arab Saudi lebih dekat dari yang sebelumnya diprediksikan banyak pengamat.

Beberapa sumber juga menyatakan bahwa MbS akan membebaskan beberapa pangeran yang dipenjara. Ini juga merupakan sinyal lain dari upaya MbS melakukan peredaan ketegangan dan friksi internal di dalam keluarga kerajaan Saudi. MbS jelas sangat memerlukan kesetiaan semua pangeran untuk membangun dan bertahan dalam pemerintahannya. Di sisi lain, MbS juga ingin membangun citra bahwa dia tidak memiliki peran dalam memenjarakan para pangeran yang memberontak itu; dan bahwa semua tindakan ini dilakukan atas perintah Raja Salman, bukan instruksi dari dirinya, sebagaimana yang selama ini sering disebut-sebut oleh media massa dan para analis politik Saudi.

 

Sinyal lainnya adalah upaya MbS untuk menaikkan posisi tawar Saudi di depan sekutunya, AS.  Ketika AS meminta Saudi agar meningkatkan kapasitas produksi minyaknya setelah Eropa dilanda krisis energi hebat pasca operasi militer Rusia atas Ukraina, MbS lah yang memutuskan untuk menolak permintaan AS tersebut. Al-Arabiya, chanel televisi corong pemerintah Arab Saudi, dalam konflik Rusia-Ukraina ini, cenderung memihak Rusia, dan kebijakan tersebut diambil Al-Arabiya atas dasar intsruksi dar MbS. Jelas sekali bahwa ketika kendali atas berbagai kebijakan luar negeri strategis Saudi sepenuhnya sudah ada di tangan MbS, hal ini menunjukkan bahwa suksesi sedang terjadi di Arab Saudi, dan itu hanya menunggu momentum yang tepat.

Tentu saja tindakan MbS untuk menaikkan posisi tawarnya di depan AS itu bukannya tanpa resiko. Saat ini, yang sedang berkuasa di AS adalah Partai Demokrat, yang selama ini dikenal sangat peduli dengan isu-isu HAM di luar negeri, termasuk di negara-negara sekutu AS. Inilah kenyataan politik di AS, terlepas dari fakta betapa sangat hipokritnya klaim-klaim sensitivitas Partai Demokrat terhadap isu-isu HAM di luar negeri, karena faktanya, justru AS-lah negara pelanggar HAM nomor wahid di dunia. Fakta berkuasanya Partai Demokrat di AS menjadi tantangan tersendiri bagi MbS, mengingat ia adalah orang yang banyak sekali diterpa kasus-kasus pelanggaran HAM berat.

Mengingat bahwa pemerintahan Demokrat tidak memiliki pandangan positif terhadap kebijakan hak asasi manusia Saudi, MbS dikabarkan telah menginstruksikan saudaranya untuk meminta bantuan kepada pejabat Washington, dan kebijakan ini tampaknya berhasil. Para analis memperkirakan bahwa Presiden Joe Biden dan sejumlah petinggi CIA akan melakukan perjalanan ke Arab Saudi dalam waktu dekat untuk bertemu dengan MbS. Jika semuanya berjalan sesuai dengan permintaan MbS dan Amerika menunjukkan kepuasannya, MbS mungkin akan mengulangi trik-trik politiknya kepada pemerintahan Biden, kebijakan yang sebelumnya juga sudah dia lakukan untuk menyenangkan Trump. Caranya? Apalagi kalau bukan penandatanganan kontrak senilai milyaran dolar, yang nantinya akan berujung kepada konsesi berupa dukungan penuh Biden kepada MbS agar bisa segera naik takhta, sambil menutup mata atas berbagai pelanggaran HAM Saudi.

Jika suksesi ini betul-betul terjadi, akan muncul situasi dan dinamika unik di Arab Saudi yang dengan sendirinya juga akan berimbas kepada situasi politik di Timur Tengah dan Dunia Islam. Salman bin Abdulaziz adalah putra terakhir dari pendiri Arab Saudi di era modern, Abdul Aziz bin Saud. Karenanya, transfer kekuasaan dari Salman kepada anaknya, MbS, menandai peralihan kekuasaan kepada generasi ketiga dinasti Saudi, dengan MbS sebagai penguasa pertamanya. MbS telah merencanakan hari seperti itu selama bertahun-tahun dan telah memulai rencananya untuk mengubah Arab Saudi menjadi negara modern dan berkiblat sepenuhnya ke Barat.

Akan sangat menarik untuk ditunggu, bagaimana Saudi akan tampil di pentas politik Timur Tengah dan dunia Islam, di bawah kepemimpinan seorang MbS yang relatif masih cukup muda (36 tahun). Arab Saudi, bisa menjadi negara yang mampu melakukan percepatan pembangunan ekonomi serta semakin memperkuat posisi di Timur Tengah, sebagaimana yang menjadi cita-cita MbS. Akan tetapi, pergantian kekuasaan itu juga bisa menjadi momen kemunduran Arab Saudi. Kepribadian MbS, ditambah dengan semakin melemahnya pengaruh politik AS di Timur Tengah, serta semakin menguatnya posisi politik Iran di Timur Tengah, sangat mugkin akan membuat segala cita-cita serta ambisi MbS akan kandas di tengah jalan. (os/liputanislam)

DISKUSI: