MbS, Foto Semi-Telanjang, dan Kesucian Madinah

0
175

LiputanIslam.com –Putera mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS) kembali membuat ulah yang kontroversial. Tidak main-main, kali ini MbS membuat keputusan yang diyakini banyak pihak telah menodai kesucian Madinah, salah satu kota yang sangat disucikan oleh ummat Islam. Seperti yang diberitakan secara meluas, MbS telah mengizinkan sesi fotografi untuk majalah Vogue yang terkenal dalam menampilkan busana dan fashion.

Pemberian izin fotografi yang diberikan oleh seorang  putera mahkota Arab Saudi tentu menciptakan sensasi kontroversi. Bukankah ia adalah putera mahkota yang kelak akan menjadi penguasa dengan gelar Khadimul Haramain (pelayan dua kota suci Mekah dan Madinah)? Tidakkah aneh, seorang putera mahkota Kerajaan Arab Saudi berurusan dengan perizinan fotografi majalah fashion?

Kontroversi bertambah liar menakala perizinan tersebut melibatkan model kreatif merek Mono yang kerap berfoto dengan busana terbuka dan semi telanjang bernama Elie Mizrahi. Hasil pemotretannya pun berupa pose-pose setengah telanjang dari Mizrahi.

Selesai? Belum. Kontroversi makin memantik kemarahan publik karena sesi pemotretan dilakukan di wilayah Al-Ula di Madinah. Tentu tidak sulit untuk bisa memahami kemarahan publik, khususnya kaum Muslimin. Madinah adalah adalah salah satu kota suci ummat Islam. Semua orang Islam pasti punya keterikatan dan penghormatan kudus ke kota itu. Madinah adalah tempat pembaringan jasad suci Rasulullah SAW. Semua yang terkait dengan Madinah adalah penghambaan dan kesucian. Kini, tak jauh dari pusara Rasulullah SAW, ada sesi pemotretan model setengah telanjang demi tujuan rendah duniawiah.

Redaksi Majalah Vogue dalam pengantarnya untuk foto-foto Mizrahi itu mengatakan bahwa gambar-gambar foto di wilayah itu memiliki kekuatan untuk menyalakan imajinasi dan membangkitkan daya khayal. Menurut majalah itu, gambar model membuktikan kekuatan feminitas, semangat kerja sama, dan keinginan untuk terbang sepenuhnya; meniupkan kehidupan baru ke tanah gersang.

Emosi publik pun terpantik. Surat kabar Al-Watan, Palestina dalam akun resmi medsosnya mengatakan bahwa pemotretan itu adalah aksi kotor Muhammad bin Salman yang menodai kesucian kota Madinah. Sedangkan jurnalis Qatar Ahmed Ali menulis bahwa foto-foto sensual seperti itu biasanya diambil di Prancis atau negara Eropa Barat. Tapi, kini, foto setengah telanjang itu bisa diambil di jantung kesucian ummat Islam, yaitu di negeri Khadimul Haramain.

Jika kemarahan publik bisa difahami, bagaimana dengan perilaku Mbs yang terjerat skandal memalukan ini? Apakah keputusannya untuk mengizinkan sesi pemotretan bisa difahami? Tentu saja tidak. Dengan alasan apapun, termasuk alasan modernisasi dan kemajuan Arab Saudi, tindakan itu tidak akan pernah bisa ditolerir. Di dalam kultur dan hukum agama Islam, ada batas-batas (hudud) yang tidak boleh diterabas, apalagi hanya demi alasan duniawiah yang sempit dan kotor.

Sayangnya, hingga kini, masih ada saja kaum Muslimin yang memuja MbS, dan menyebutnya sebagai pemimpin muda yang cerdas dan visioner. Mereka menutup mata atas berbagai perilaku buruk MbS selama ini, seperti inisiasinya untuk melakukan invasi ke Yaman hingga menciptakan tragedi mengerikan di negeri tersebut. Juga, baru-baru ini, pelapor PBB sudah mengambil kesimpulan inverstigatif yang menyatakan bahwa MbS adalah otak di balik pembunuhan keji yang terjadi atas jurnalis Jamal Khashoggi.

Kelihatannya, di bawah kepemimpinan MbS, reputasi Arab Saudi akan makin terpuruk dan makin tak jelas mau dibawa ke mana. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: