Manuver Politik Bersama Arab Saudi dan Israel di Beirut

0
134

LiputanIslam.com –Lebanon kini menjadi pusat perhatian dunia. Sebuah bom meledak mengguncang seantero kota kecil itu, dan getarannya terasa sampai ratusan kilometer jauhnya. Ratusan orang tewas dan terluka. Dunia pun menyampaikan simpati. Bantuan digalang untuk para korban ledakan. Secara resmi, negara menetapkan hari berkabung nasional. Lebanon kembali diguncang prahara, melengkapi prahara akibat ancaman tiada henti dari Zionis Israel, pandemi, dan juga  konflik internal yang terus memanggang kawasan itu.

Lebanon adalah salah satu negara yang dibentuk oleh para pemenang Perang Dunia II (Inggris dan Perancis). Sebelumnya, negara ini, bersama dengan Suriah, Palestina, dan Jordania dikenal dengan nama Syam. Dulunya, negara-negara tersebut adalah satu kawasan, dan nama Syam dikenal sebagai kiblat peradaban dunia. Kini, meskipun keempat kawasan itu dipecah-pecah oleh Barat menjadi empat “negara” berbeda (bahkan sebagian besar kawasan Palestina kini diklaim menjadi negara Israel), keempatnya masih tetap terkait satu sama lain. Secara geopolitis, apapun yang terjadi di salah satu kawasan akan berimbas ke kawasan-kawasan lainnya.

Keterpurukan Palestina selama puluhan tahun sejak Yaum Naqba tahun 1948, berimbas secara kuat kepada negara-negara lain di sekitarnya. Keganasan liar dan ilegal Zionis Israel ikut menimpakan prahara bagi Suriah dan Lebanon. Suriah adalah negara tujuan utama jutaan pengungsi Palestina. Kamp pengungsi Palestina terbesar ada di negara itu. Berbagai bukti juga menunjukkan bahwa salah satu tujuan utama prahara yang menimpa Suriah dalam sembilan tahun terakhir ini berhubungan langsung dengan ambisi Zionis di Palestina.

Lebanon juga sama. Tahun 2006 lalu, lebih dari 1.000 warga sipil Beirut tewas menjadi korban serangan udara Israel. Saat itu, serdadu Zionis secara kalap mengarahkan moncong-moncong senjatanya menyasar warga sipil. Hal itu dilakukan karena secara militer, mereka gagal menghadapi militansi milisi Hezbollah. Dalam perang selama 33 hari, serdadu Zionis yang sempat merangsek masuk ke kawasan Lebanon selatan, dipukul mundur oleh milisi Hezbollah.

Kini, sebuah tragedi menimpa Lebanon. Situasi politik dan keamanan negara itu langsung memanas. Dari dalam negeri, Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab dikabarkan telah menyatakan pengunduran dirinya dari jabatan di pemerintahan. Tindakan Diab itu menyusul langkah sama yang dilakukan oleh sejumlah menterinya di tengah maraknya aksi protes yang melanda negara ini. Tindakan ini tentu akan berdampak besar kepada konstelasi politik dalam negeri Lebanon. Akan ada tarik ulur di antara tiga faksi politik besar di Lebanon, yaitu Sunni, Syiah, dan Kristen Maronite. Mungkin akan terjadi perimbangan politik baru, yang akan sangat menentukan peta politik di kawasan Syam, dan bahkan kawasan Timur Tengah secara kesluruhan.

Dari luarnegeri, muncul juga manuver-manuver politik. Arab Saudi dan Zionis secara bersamaan menuntut keterlibatan komunitas internasional dalam penyelidikan sebab-sebab ledakan. Keduanya sama-sama menuduh Hezbollah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas terjadinya ledakan. Asumsi yang dibangun adalah: ledakan tersebut diakibatkan oleh kebocoran gudang mesiu milik Hezbollah. Sudah menjadi pemahaman bersama bahwa bagi Arab Saudi maupun Israel, Hezbollah adalah “musuh bersama” yang harus ditumpas. Segala momen harus dimanfaatkan untuk memojokkan kelompok yang beraliran Syiah itu.

Memang, selalu saja ada pihak-pihak yang memancing di air keruh. Di tengah kekisruhan politik internal, dan juga duka yang mendalam akibat tragedi ledakan, Arab Saudi dan Israel berupaya mengambil keuntungan politik sebanyak-banyaknya dari tragedi ini. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: