Krisis Afghanistan dan Petualangan Berdarah AS

0
590

 

LiputanIslam.com –Dalam situasi masih dirudung pandemi seperti sekarang ini, sebuah pekembangan baru di dunia Islam menyentak dunia. Taliban, kelompok bersenjata yang ‘digulingkan’ oleh serangan AS tahun 2001 lalu, kini kembali menguasai Afghanistan. Dalam sebuah proses serangan kilat, Taliban berhasil menguasai istana kepresidenan Afghanistan, yang telah kosong ditinggalkan oleh Presiden Ashraf Ghani. Sebelumnya, dalam beberapa pekan terakhir, Taliban secara leluasa mampu merebut kota demi kota Afghanistan di saat AS mulai menarik pasukannya dari negara itu.

Berkuasanya kembali Taliban adalah babak baru dalam sejarah Afghanistan. Masih sulit diprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya di negeri tersebut. Sebagian besar pengamat memperkirakan, Afghanistan akan kembali masuk ke dalam kubangan konflik berkepanjangan. Ditambah lagi, jika Taliban melakukan praktik-praktik kekuasan dengan cara sebagaimana yang mereka tunjukkan saat berkuasa tahun 1994-2001, ini akan akan memperparah situasi yang sudah ada.

Yang pasti, segala apapun yang terjadi di Afghanistan, dunia tentu tak akan melupakan jejak-jejak berdarah AS sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas krisis berkepanjangan di Afghanistan. Jika harus menunjuk nama negara sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas krisis berdekade-dekade di Afghanistan, tak sulit untuk menunjuk AS. Fakta-faktanya terlalu jelas, nyata, dan tak mudah dilupakan.

Afghanistan mulai mengalami krisis sejak tahun 1979, yaitu ketika tentara Sovyet mulai masuk ke Afghanistan. Sejak saat itu, Afghanistan menjadi medan pertempuran AS dan Uni Sovyet, hingga akhirnya Sovyet bubar di awal tahun 90-an. Pada masa-masa perang itulah AS, Saudi, dan Uni Emirat Arab menginisiasi dan mendanai pembentukan milisi bersenjata yang berideologi Wahabi bernama Taliban. Kelompok inilah yang kemudian merebut kekuasaan tahun 1994 dan berkuasa selama tujuh tahun, dengan segala kebijakan puritanisme dan takfirismenya.

Lalu, tahun 2001, setelah peristiwa serangan atas Menara Kembar WTC tanggal 11 September, AS membentuk tentara koalisi yang menyerang kedudukan Taliban, dan akhirnya mengusir milisi bersenjata tersebut ke bukit-bukit. AS sendiri secara resmi menempatkan tentaranya di Afghanistan, dengan alasan menjaga keamanan negara itu, serta mengawal Afghanistan membangun sebuah negara yang demokratis dan sejahtera.

Selama 20 tahun terakhir ini, terjadi banyak kekerasan di Afghanistan. Alih-alih menjadi negara demokratis yang aman, damai, dan sejahtera sebagaimana yang dijanjikan oleh AS, Afghanistan terus terpuruk dan menjadi salah satu negara paling tidak aman di dunia. Statistik menunjukkan bahwa sejak kehadiran tentara AS di Afghanistan, sudah lebih dari seratus ribu warga sipil Afghanista yang tewas dalam berbagai aksi kekerasan. Sebagiannya malah tewas karena menjadi sasaran serangan tentara AS.

Kini, dengan sejumlah alasan, AS memutuskan untuk menarik tentaranya dari Afghanistan. Dalam pernyataannya, para pemimpin Gedung Putih, mulai dari Trump hingga penggantinya Biden, menyatakan bahwa AS mengalami banyak sekali kerugian sebagai akibat dari petualangan politik dan militer mereka di Afghanistan. Jumlah tentara yang tewas lebih dari dua ribu personel. Sedangkan dana yang dikeluarkan untuk membiayai berbagai operasi militer sudah hampir menyentuh Rp 20 Trilyun, sebuah angka yang sangat besar.

Kita tak tahu, akan ke mana ujungnya krisis Afghanistan ini. Bisa saja AS kembali menjerumuskan dirinya kembali terlibat dalam krisis di Afghanistan. Atau, bisa jadi ada perubahan dalam cara Taliban mengelola kekuasaannya. Mungkin saja, saat ini, yang memegang kendali di tubuh Taliban adalah faksi-faksi yang lebih moderat, yang tujuannya murni hanya mengusir pendudukan AS di negara mereka. Sekali lagi, apapun juga ujungnya, jejak berdarah AS di Afghanistan tak pernah bisa terhapus dari sejarah. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: