Ketika Yaman Menjadi Rawa Mematikan bagi Arab Saudi

0
691

LiputanIslam.com –Krisis Yaman yang saat ini memasuki tahun kedelapan menjadi tantangan besar Arab Saudi dan negara-negara Arab sekutu AS lainnya. Jika kita melakukan kalas balik, akan kita dapati bagaimana pola krisis Yaman sebenarnya merupakan perulangan atas pola yang juga terjadi pada Iran dan Suriah. Secara kebetulan pula, isu mazhab Syiah sangat kuat mewarnai tiga krisis tersebut. Arab Saudi dan negara-negara Arab Teluk lainnya sepertinya enggan untuk belajar dari dua krisis sebelumnya, sehingga, dalam krisis Yaman ini, mereka terjebak rawa-rawa yang makin membuat mereka semakin terperosok ke dalam beragam persoalan tanpa jalan keluar.

Krisis Iran terjadi empat puluh tahun yang lalu. Saat itu, negara-negara Teluk bersama AS dan Barat memprovokasi pemimpin Irak Saddam Hossein untuk menyerang Iran. Saat itu, semua sangat optimis bahwa Iran yang masih sangat lemah dan sedang menata diri paska revolusi, akan bisa ditundukkan hanya dalam tempo dua pekan. Nyatanya, perang berlangsung hingga delapan tahun, dan Iran tetap baik-baik saja hingga sekarang.

Perang Suriah juga berlangsung sekitar delapan atau sembilan tahun. Dengan mengandalkan para jihadis palsu yang didatangkan dari sekitar 100 negara dunia, pesekutuan AS, Barat, negara-negara Arab Teluk, Turki, hingga Israel sangat yakin bahwa Suriah juga dengan mudah dikuasai. Faktanya, para jihadis yang sempat menguasai 80 % dari kawasan Suriah itu, saat ini bertekuk lutut. Sisa-sisa milisi mereka saat ini hanya bisa bertahan di kota Idlib, di dekat perbatasan Turki.

Dan terakhir, Yaman juga menyuguhkan cerita yang sangat mirip. Seiring dengan naiknya Salman menjadi raja Arab Saudi, dan tak lama kemudian, anaknya yang bernama Mohammed bin Salman (MBS) diangkat sebagai putera mahkota, Arab Saudi terjebak pada rawa-rawa lain bernama Yaman. Saat itu, di bulan Maret 2015, MBS yang hingga saat ini menjabat sebagai menteri pertahanan, berkoar-koar akan menaklukkan Yaman dalam tempo sangat singkat, tak sampai dalam hitungan bulan. Faktanya, krisis Yaman terus berlangsung hingga kini, dan menyuguhkan banyak sekali kerumitan kepada Arab Saudi dan negara-negara Teluk yang bergabung ke dalam koalisi militer pimpinan Arab Saudi.

Biaya perang Yaman ini sangat besar. Menurut perhitungan The National Interest,  hingga tahun ketiga (tahun 2018), Arab Saudi sudah menggelontorkan Rp 1.500 Trilyun. Dua tahun berikutnya (2020) angkanya membengkak menjadi dua kali lipat, yaitu menjadi lebih dari Rp 3.000 Trilyun. Tahun ini, belum ada angka yang dirilis. Akan tetapi, kalau melihat pola statistiknya, angkanya pasti melebihi Rp 4.000 Trilyun, sebuah angka yang sangat fantastis.

Majalah Times Inggris bahkan melaporkan bahwa Saudi menghabiskan rata-rata 72 milyar dolar (Rp 1.030 Trilyun) per tahun, yang artinya, dalam tujuh tahun terakhir ini, biaya perang Yaman sudah menyentuh angka Rp 7.000 Trilyun. Angka yang mirip juga dilaporkan oleh The Washington Post yang menyebut bahwa Saudi menghabiskan sekitar USD 5 hingga 6 miliar per bulan demi perang tersebut, atau antara Rp 72 hingga 87 Milyar Dolar per tahun.

Lalu, apa hasilnya? Tak ada, kecuali kerusakan parah di Yaman, dan juga kerusakan di sebagian di wilayah Arab Saudi. Yang pasti, Yaman masih tetap tangguh, dan semakin kuat, sehingga, apa yang menjadi klaim Arab Saudi bahwa Yaman akan segera bisa ditaklukkan, semakin jauh panggang daripada api.

Dengan semua masalah yang dihadapi ini, mulai dari beban biaya perang besar, ditambah krisis ekonomi yang disebabkan pandemi, serta tak ada hasil apapun dari krisis Yaman ini, sebuah lembaga penelitian al-Khalij al-Jadid menilai bahwa Saudi tengah memikirkan jalan keluar untuk selamat dari perang Yaman, namun dengan cara yang tidak membuatnya malu.

Di pihak Yaman sendiri, Menteri Pertahanan Yaman Mohammad Naser al-Atefi dalam pernyataannya baru-baru ini menyatakan bahwa pihaknya semakin kuat. Ia mengklaim bahwa koalisi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) akan mendapat “kejutan-kejutan” serangan balasan yang lebih hebat dari Yaman, yang nantinya dipastikan akan mengubah perimbangan kekuatan dan menimbulkan ketakutan negara-negara koalisi agresor. Kejutan ini berupa badai-badai (serangan) dari Yaman, raihan-raihan senjata, serta strategi yang lebih maju dan lebih kuat. (os/editoril/liputanislam)

DISKUSI: