Ketika Paus Mengunjungi Ulama yang Representatif

0
1197

LiputanIslam.com –Kunjungan Pemimpin tertinggi ummat Kristen Katholik dunia, Paus Fransiskus, ke Irak adalah indikator tak terbantahkan bahwa hanya wajah Islam yang damai dan ramahlah yang layak menjadi representasi Dunia Islam; bukan Islam yang serba mengumbar kemarahan, meminggirkan logika, atau Islam yang arogan.

Dalam kunjungannya itu, Paus Fransiskus bertemu dengan sejumlah tokoh Islam, termasuk salah satu ulama senior Islam Syiah Ayatullah Ali Al-Sistani. Dalam pertemuan tersebut, kedua tokoh spiritual sama-sama menyampaikan harapannya terkait dengan hidup berdampingan secara damai, jauh dari sikap-sikap ekstrem dan kekerasan. Menariknya, pada bulan Februari 2019, Paus juga bertemu dengan ulama senior dunia Islam lainnya, yaitu Syeikh Al-Azhar. Kedua pihak menandatangani deklarasi hidup berdampingan secara damai dalam melawan ekstrimisme dan berbagai dampak negatifnya. Ayatullah Al-Sistani adalah representasi Islam Syiah sedangkan Syeikh Al-Azhar adalah representasi Islam Sunni. Kedua tokoh Sunni dan Syiah itulah yang menjadi tujuan lawatan Paus Fransiskus, bukan ulama lainnya.

Barat dan Kristen yang selama ini mengklaim diri sebagai aktor-aktor yang rasional mau tidak mau memang harus mendatangi aktor-aktor rasional saat mau menyampaikan pesan dan berdialog. Tentu saja, kalau mau berdialog, jangan datangi pihak yang hanya punya watak monolog, rigid, dan tertutup; jangan datangi mereka yang jargon utamanya adalah menyalahkan orang lain, apalagi sampai jatuh ke dalam sikap takfiri (mudah menjatuhkan vonis ‘kafir’ kepada orang lain).

Sayangnya, selama beberapa dekade terakhir ini, ada upaya dari Barat untuk menjadikan kelompok-kelompok radikal sebagai representasi ummat Islam. Barat berupaya keras menunjukkan kepada dunia bahwa Islam dan berbagai kelompok di dalamnya adalah agama yang keras, tidak punya otak, radikal, dan suka kekerasan. Kesan itu bukan hanya ditanamkan kepada masyarakat Barat, melainkan juga kepada masing-masing kelompok di dalam Islam agar tercipta kebencian satu sama lain. Sunni membenci Syiah, dan Syiah membenci Sunni.

Lihat saja konflik Suriah. Prahara di Bumi Syam itu menyimpan jejak tak akan terhapuskan terkait dengan upaya busuk tersebut. Barat menginisiasi dan mendanai berdirinya kelompok-kelompok radikal dan intoleran seperti Jabhah Al-Nusra Dan ISIS yang berideologi Wahabi. Barat juga menjadikan Arab Saudi, tempat tumbuh suburnya ideologi Wahabi, sebagai sekutu terdekat, dan menjadikan negara tersebut sebagai representasi dunia Islam (Sunni). Padahal, Islam bukan hanya di Arab Saudi. Muslimin terbesar justru tinggal di Indonesia.

Lalu, mereka, orang-orang Wahabi itu, diprovokasi untuk menyerang Suriah dengan alasan bahwa mazhab Syiah adalah penindas Sunni. Mereka sebarkan berbagai berita, foto, dan video hoax berisikan apa yang disebut sebagai kekejaman Bashar Asad yang Syiah terhadap rakyatnya yang Sunni.

Dari kalangan Syiah sendiri, para aktivis Syiah takfiri semisal Yasser Al-Habib diberi fasilitas sangat mewah untuk menyampaikan pemikiran keras dan intolerannya itu. Di London, Yasser Al-Habib mendapatkan suaka politik, diberi dana membuat televisi, madrasah, dan media, untuk memproduksi berbagai konten yang menyerang Sunni, seperti pelaknatan sahabat dan istri-istri Nabi SAW. Video-video Yasser Al-Habib sangat massif tersebar, dan menjadi salah satu penyebab munculnya kebencian luar biasa Muslimin Sunni terhadap Syiah. Para provokator semisal Yasser Al-Habib itulah yang digadang-gadang sebagai representasi Syiah, meskipun ia sama sekali bukan ulama.

Maka, kunjungan Paus ke Irak itu menunjukkan bahwa orang-orang semisal Ayatullah Al-Sistani itulah yang layak menjadi representasi ulama Syiah, bukan Yasser Al-Habib. Di dunia Sunni pun sama. Orang-orang semisal Syeikh Al-Azhar itulah yang layak menjadi representasi ummat Islam, bukan para petinggi ISIS dan Wahabi. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: