Ketika Palestina Bersatu, Siapa yang Meradang?

0
328

LiputanIslam.com –Sebuah perkembangan sangat positif terkait dengan perjuangan bangsa Palestina saat ini sedang berlangsung. Faksi-faksi  di Palestina, termasuk dua faksi terbesar, HAMAS dan Fatah, bertemu di Aljir, Aljazair, pada hari Kamis, 13 Oktober 2022. Diberitakan bahwa pertemuan itu adalah yang pertama dalam 15 tahun terakhir. Mereka bukan hanya bertemu, melainkan menandatangani kesepakatan rekonsiliasi yang ditandatangani oleh pemimpin senior Fatah Azzam Al-Ahmad, Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniya, dan Sekjen Front Rakyat Pembebasan Palestina (PFLP), Talal Naji.

Yang juga sangat menarik sekaligus menggembirakan, Ismail Haniya menegaskan bahwa semua faksi Palestina bersepakat untuk fokus memperjuangan Al-Quds. Al-Ahmad, wakil dari Fatah, mengatakan bahwa dengan kesepakatan ini, semua faksi sepakat untuk menyingkirkan perpecahan dan kanker yang telah memasuki tubuh Palestina.

Persatuan adalah kunci utama dari segala upaya perjuangan. Salah satu penyebab kegagalan bangsa Palestina untuk merebut kemerdekaannya adalah masalah perpecahan yang menurut Al-Ahmad dari Fatah, fenomena perpecahan itu ibarat kanker yang menggerogoti sekaligu melemahkan perjuangan bangsa.

Palestina adalah bangsa terjajah, dan penjajahnya adalah Israel yang didukung habis-habisan oleh AS dan Barat. Dalam sejarahnya, deklarasi Israel itu sendiri difasilitasi oleh Inggris, negara dengan reputasi kolonialisme dan imperialisme yang tak terbantahkan. Senjata paling ampuh yang dipakai Inggris untuk melumpuhkan perlawanan bangsa-bangsa yang dijajahnya adalah politik divide and rule, pecah belah dan kuasai. Prinsip ini pula yang dipakai oleh Israel dalam rangka melanggengkan penjajahannya atas bangsa Palestina.

Dengan dukungan media dan finansial yang sangat kuat, AS dan negara-negara Barat memainkan politik pecah-belah ini sebagai dukungan buat Israel. Mereka memecah persatuan ummat Islam dan bangsa-bangsa Arab, dengan tujuan agar kasus Palestina terkesan menjadi urusan bangsa Palestina saja. Lalu, mereka juga menjalankan berbagai trik sehingga perpecahan juga melanda kalangan internal di antara sesama anak bangsa Palestina.

Fakta keterpecahan kaum Muslimin, bangsa Arab, dan juga kubu-kubu internal Palestina itu kemudian dijadikan alat propaganda oleh Barat dalam melemahkan dukungan berbagai bangsa dunia atas nasib Palestina. Dikatakan bahwa berbagai dukungan dari luar terhadap bangsa Palestina akan menjadi sia-sia manakala faksi-faksi internal di Palestina itu sendiri saling berseteru. Sungguh kampanye yang sangat busuk.

Mereka yang termakan kampanye busuk ini sebenarnya tak pernah bersungguh-sungguh mendukung kemerdekaan Palestina. Keengganan mendukung kemerdekaan Palestina dengan alasan adanya fakta perseteruan internal pada bangsa tertindas menunjukkan bahwa mereka tak tahu, atau pura-pura tidak tahu, bahwa perpecahan dan perseteruan internal itu justru merupakan taktik dan strategi penjajah Israel. Mereka pura-pura tak tahu bahwa keterpecahan itu sendiri adalah bagian dari ketertindasan bangsa Palestina yang terjajah. Artinya, jika bersungguh-sungguh mendukung Palestina, mereka juga harus memikirkan upaya untuk mengakhiri perseteruan itu.

Di sisi lain, ketika ada upaya rekonsiliasi di antara faksi-faksi itu, pendukung sejati Palestina akan memberikan respon positif dan kegembiraan. Mereka yang mendukung Palestina hanya sebatas basa-basi, akan bersikap skeptis, pesimis, atau sangat pasif. Jangan pernah berharap akan muncul komentar positif atas perkembangan positif ini. Adapun mereka yang menentang Palestina, pasti akan kecewa dan meradang.

Rekonsiliasi faksi-faksi Palestina ini akan menjadi ujian bagi negara-negara Arab, negara-negara Muslim, termasuk mereka yang baru-baru ini menjalin hubungan diplomatik dengan Israel (Bahrain, UEA, Maroko, dan Sudan). Betulkah langkah mereka menjalin hubungan diplomatik itu dalam rangka memberikan pembelaan terhadap Palestina? (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: