Ketika Gaza dan Tepi Barat Membara Secara Bersamaan

0
56

LiputanIslam.com –Palestina kembali membara, dan kali ini, letupan perlawanan datang dari dua arah: Gaza dan Tepi Barat. Letupan perlawanan dari dua arah ini ditandai dengan kemunculan secara “tiba-tiba” sekelompok milisi perlawanan bersenjata Palestina di Nablus, Tepi Barat, bernama Arin Al-Usud yang bermakna “Sarang Singa”. Kemunculan milisi ini sangat mengejutkan karena perlawanan bersenjata Palestina dalam tiga dekade terakhir ini didominasi oleh HAMAS dan Jihad Islami yang beraktivitas di Gaza. Sementara itu, kawasan Tepi Barat (West Bank) hanya menampilkan letupan-letupan perlawanan sesekali dari warga Palestina. Milisi yang aktif di Tepi Barat adalah Gerakan Fatah yang terafiliasi ke PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) yang lebih menggunakan pendekatan diplomatik untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Bagaimana sebenarnya peta perlawanan Palestina itu dihubungkan dengan kemunculan Arin Al-Asud? Mari kita lihat lagi sejarah tiga dekade lalu, tepatnya tanggal 13 September tahun 1993. Setelah terlibat berbagai konflik dan peperangan, Yasser Arafat sebagai pemimpin PLO diundang ke dalam sebuah perundingan di Oslo, Norwegia. Oleh Presiden AS Bill Clinton, Arafat dipertemukan dengan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin. Akhirnya, kedua pihak menandatangani kesepakatan perdamaian Israel dan Palestina. Tahun itu pula Rabin dan Arafat dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian.

Isi penting perjanjian damai itu adalah disepakatinya two states solution (solusi dua negara). Jadi, para pihak sepakat dengan konsep dua negara (Palestina dan Israel) yang hidup berdampingan secara damai. Dengan demikian, Israel menyetujui kemerdekaan Palestina. Hanya saja, teritori negara Palestina merdeka itu berlokasi di dua wilayah yang terpisah. Yang pertama adalah kawasan bernama Tepi Barat (West Bank) yang berbatasan dengan Jordania, dan yang kedua adalah kawasan Gaza yang berbatasan dengan Mesir. Luas wilayah Tepi Barat hanya 17% dan Gaza lebih kecil lagi, yaitu 2%, dari seluruh kawasan yang diduduki Israel.

Kesepakatan tersebut tentu mendapatkan kritikan keras dan resistensi dari banyak sekali warga Palestina, terutama yang berada di kawasan Gaza. Kesepakatan itu bermakna bahwa rakyat Palestina harus merelakan tanah-tanah mereka kepada Israel, yang sudah dijarah sejak tahun 1948. Sedangkan warga Palestina, khususnya di Gaza, harus rela hidup berdesakan di kawasan yang mirip sebagai penjara kota, tanpa punya akses apapun ke dunia luar. Sejak saat itu, Gaza berubah menjadi sarang perlawanan bersenjata Palestina.

Warga Palestina di kawasan Tepi Barat pun sebenarnya juga menderita, karena faktanya, Israel tak pernah betul-betul menaati isi Perjanjian Oslo itu. Alih-alih mendukung proses pembentukan pemerintahan Palestina, Israel malah terus melakukan pembangunan permukiman Yahudi di kawasan Tepi Barat, terutama di kawasan-kawasan yang subur. Israel terus melakukan penjarahan dan pengusiran terhadap warga Palestina. Info terakhir menyebutkan bahwa luas kawasan Tepi Barat yang dijarah oleh pemukim Yahudi sudah melewati angka 50%.

Jadi, terkait dengan Perjanjian Oslo tersebut, sudahlah isi perjanjiannya itu sendiri jauh dari keadilan, pelaksanaannya pun dilanggar dengan seenaknya oleh Israel. Sementara itu, PBB menjadi lembaga yang mandul, karena keberadaan AS sebagai pemilik hak veto di Dewan Keamanan. Lebih dari 40 draft resolusi kecaman atas kejahatan keji Israel di Palestina tak pernah bisa diratifikasi, gara-gara diveto oleh AS.

Kemunculan milisi Arin Al-Usud di Tepi Barat yang menggelorakan perlawanan bersenjata tentu berkorelasi kuat dengan munculnya kesadaran dari bangsa Palestina di kawasan itu terkait dengan pentingnya melakukan perlawanan bersenjata, untuk merebut kemerdekaan dengan cakar dan gigi. Bagi Israel, ini tentu menjadi sebuah alarm bahaya, ketika perlawanan bersenjata muncul dari dua kawasan berbeda. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: