Jenderal Qassem yang Semakin Berbahaya bagi AS

0
13

LiputanIslam.com –Kesalahan AS dalam membuat kalkulasi politik saat berhadapan dengan Iran semakin tampak.  Sudah lebih dari 40 hari berlalu sejak peristiwa teror yang menewaskan Jenderal Qassem Soleimani. Akan tetapi, kenangan orang tentang beliau tak jua pudar. Tentu hal ini berbeda dengan yang dibayangkan Trump sebagai otak teror itu. Kematian Soleimani faktanya sama sekali tidak mengurangi kekuatan Iran, atau membuat AS semakin kuat di kawasan Timur Tengah. Yang terjadi, reputasi AS justru semakin terpuruk dan api perlawanan terhadap AS semakin berkobar.

Memang benar bahwa semasa hidupnya, Soleimani adalah seorang ahli strategi perang yang sangat handal. Dia bahkan dijuluki sebagai The Shadow Comander alias Komandan Bayangan. Dia tiba-tiba saja bisa seperti hantu yang bergentayangan di berbagai front pertempuran, mengatur strategi, dan memenanginya. Berkat keahlian Jenderal Qassem, satu persatu kekuatan ISIS dan berbagai organisasi teroris lainnya di Irak dan Suriah porak poranda. Dengan alasan peran sentral Jenderal Qassem inilah Trump kemudian memerintahkan serangan teror di saat Jenderal Qassem sedang melakukan kunjungan resmi kenegaraan di Baghdad.

Akan tetapi, yang tidak dikalkulasi dengan cermat oleh AS adalah soal faktor spiritualitas dan ikatan emosional yang telah dibangun Jenderal Qassem dengan rakyat di Iran, Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman. Karena ia adalah pahlawan tak terbantahkan bagi rakyat di negara-negara tersebut, kematian Jenderal Qassem menorehkan luka yang sangat dalam di hati mereka. Mereka marah, dan siap menuntut balas. Maka, sejumlah rudal diluncurkan oleh pasukan elit Iran IRGC dan menghantam pangkalan militer AS terbesar di Irak. Dunia kemudian menyaksikan bagaimana nyali AS mendadak ciut. Tak ada pernyataan keras dan arogan seperti biasanya. Justru, AS meminta agar dilakukan upaya peredaan ketegangan.

Kini, setelah 40 hari berlalu dari peristiwa pembunuhan itu, nama Jenderal Qassem tetap abadi dalam kenangan banyak orang. Di banyak tempat di dunia, diadakan berbagai even untuk mengenang peristiwa heroik itu, mulai dari seminar, festival, demo, hingga pertunjukkian musik. Organisasi European Solidarity Front for Syria (ESFS) meluncurkan kampanye peringatan kematian Jenderal Qassem Soleimani dengan menyebarkan poster di berbagai kota di Italia, yaitu di kota Roma, Milan, hingga Turin. Salah satu poster yang ditempel di billboard dekat bangunan Colosseum berisi tulisan: “Untuk menghormati Qassem Soleimani”. Di halaman Facebook-nya, ESFS menulis bahwa kampanye itu ditujukan untuk menghormati “memori seorang pria yang komitmen dan pengabdiannya pada perjuangan kebebasan dan kedaulatan bangsa telah menggerakkan dan mengilhami jutaan pria dan wanita merdeka di dunia”.

Sejumah artikel juga dibuat oleh para penulis independen dunia. Mereka menyampaikan berbagai analisis mengenai kebesaran dan kehebatan Jenderal Qassem. Lewat tulisan-tulisan itu, mereka berusaha mengabadikan pemikiran Jenderal Qassem, dan menjadikannya sebagai pahlawan yang terus memberikan inspirasi bagi perjuangan bangsa-bangsa dunia.

Seperti yang disampaikan oleh para pejabat Iran segera setelah peristiwa teror itu, Jenderal Qassem justru semakin ‘hidup’ setelah kematiannya. Dan sepertinya, semakin tercipta jarak waktu sejak kematian Jenderal Qassem, masyarakat dunia justru akan lebih merasakan betapa Jenderal Qassem itu sebenarnya masih ‘hidup’ dan terus memberikan inspirasi. Bagi AS dan sekutu-sekutunya, Jenderal Qassem yang mati ternyata lebih berbahaya dibandingkan dengan Qassem yang masih hidup. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS: