Israel Tak Akan Puas dengan Aneksasi Tepi Barat

0
125

LiputanIslam.com –Adanya rencana dari Zionis Israel untuk menganeksasi Tepi Barat adalah sebuah bencana. Sebagian besar warga Dunia memandangnya dengan sikap yang negatif. Uni Eropa yang sebagian besar negaranya merupakan sekutu Israel, secara resmi telah menyuarakan “keprihatinan” atas rencana Israel itu, dan menyebutnya sebagai langkah yang membahayakan perdamaian Timur Tengah hingga beberapa dekade ke depan. Uni Eropa juga menyinggung sejumlah hukum internasional yang dilanggar oleh rencana aneksasi itu, di antaranya adalah Konvensi Jenewa-4.

Berbagai kritikan tersebut nyatanya tidak digubris oleh pemerintahan PM Benjamin Netanyahu, yang memang mendapatkan lampu hijau dari Presiden AS Donald Trump. Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Kritikan apapun yang disampaikan tak akan pernah didengar oleh Israel. Tokh inilah yang selama ini sudah terjadi. Berkali-kali Zionis Israel melanggar perjanjian internasional; berkali-kali mereka melakukan kejahatan kemanusiaan, lalu muncullah reaksi negatif dari Dunia. Setelah itu, berbagai resolusi diratifikasi untuk mencegah Zionis melanjutkan aksi-aksinya itu. Hanya saja, semua resolusi itu diveto dengan semena-mena oleh sang sahabat dekat, AS.

Veto adalah hak yang dimiliki oleh lima negara Dunia, yaitu AS, Rusia (dulunya Uni Sovyet), Inggris, Perancis, dan China. Dengan hak veto ini, kelima negara tersebut berhak untuk menggagalkan setiap rancangan resolusi yang dibuat. Selogis apapun resolusinya, seberat apapun masalah yang menjadi objek resolusi, dan sebanyak apapun negara pendukung resolusi tersebut, tak akan pernah bisa diterbitkan ketika resolusi tersebut diveto oleh salah satu dari kelima negara ‘bangsawan’ PBB itu. Sungguh sebuah aturan yang sangat tidak demokratis.

Sampai sejauh Ini bermakna bahwa AS telah menggunakan 83 kali hak vetonya, dan 43 kali di antaranya adalah veto atas berbagai resolusi kecaman terhadap Israel. Artinya, lebih dari 50% hak veto AS terkait dengan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel. Fakta inilah yang membuat Israel selalu bersikap arogan atas berbagai rencana jahat yang mereka gelar, tanpa pernah takut akan dihambat oleh komunitas internasional.

Di sisi lain, rencana aneksasi Israel atas Tepi Barat ini sejatinya menyadarkan warga Dunia tentang rencana jangka panjang terkait dengan deklarasi Israel Raya. Inilah yang sering tak disadari oleh orang-orang, bahwa Israel punya rencana jangka panjang, dan negara ilegal itu hingga kini, tak pernah mengoreksi rencana jangka panjang tersebut.

Israel dideklarasikan dengan sebuah target jangka panjang untuk mewujudkan “Negara Impian” yang membentang dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Eufrat di Irak, dan beribu kota di Kota Suci Jerussalem. Karena itulah, sejak awal, Israel berencana menganeksasi seluruh kawasan Palestina, lalu akan meneruskan aneksasinya ke sebagian besar kawasan Timur Tengah. Tanpa adanya resistensi dari para pejuang Palestina dan sejumlah negara lainnya, barangkali negara Israel Raya sudah lama terwujud.

Aneksasi Tepi Barat memang belum tentu akan diimplementasikan dalam waktu dekat. Akan tetapi, kita semua mestinya menyadari bahwa aneksasi Tepi Barat sebenarnya bukan soal isu internal Israel dan AS. Memang benar bahwa isu ini mungkin saja bisa menaikkan popularitas PM Netanyahu dan Presiden Donald Trump. Akan tetapi, itu hanyalah efek sampingan alias ‘bonus’ bagi sebuah target besar, yaitu perwujudan Israel Raya di mana Zionis Israel tak pernah sekalipun menyatakan mundur dari target besar itu. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: