[Editorial) Serangan ke Irak, Apakah ISIS Akan Bangkit Lagi?

0
278

LiputanIslam.com –Di tengah pandemi Covid-19, ISIS melakukan serangan dengan sasaran Salahuddin, Kirkuk, dan Al-Anbar, Irak. Serangan sistematis sisa-sisa teroris ISIS yang menewaskan sejumlah milisi Al-Hashd Al-Shaabi tersebut diyakini sebagai salah satu serangan ISIS terbesar sejak kelompok bersenjata itu berhasil dikalahkan pada Desember 2017.

Cukup banyak yang merasa khawatir bahwa aksi-aksi seperti ini sebagai geliat ISIS yang mampu bangkit lagi setelah terpuruk dan diusir oleh tentara dan rakyat Irak. Dikhawatirkan bahwa ISIS, dengan bantuan AS, mampu memanfaatkan kesempatan di saat seluruh perhatian masyarakat dunia tertuju kepada Covid-19. Irak, bagaimanapun juga, adalah kawasan di mana dulunya, ISIS pertama kali dideklarasikan. Jadi, adanya serangan masif ISIS ini memunculkan ingatan yang buruk, dan kekhawatiran tentang akan bangkitnya lagi ISIS dengan memanfaatkan situasi pandemi.

Betulkah demikian? Apakah ISIS akan kembali bangkit dan merajalela sehingga kembali menjadi kekuatan teror yang sangat menakutkan dan mematikan? Apakah nantinya dunia akan menyaksikan kembali aksi-aksi kekejaman ISIS seperti pemenggalan kepala, pembakaran tahanan, penghancuran situs-situs warisan dunia, dan juga pengusiran dan pemerkosaan terhadap kaum minoritas? Apakah dunia akan menyaksikan kembali gelombang rekruitmen para jihadis dari seluruh dunia?

Secara sekilas saja, kita akan bisa memberikan jawaban bahwa pertanyaan-pertanyaan di atas, dan jawabannya adalah “tidak”. Sulit sekali membayangkan bahwa pemerintah Indonesia, misalnya, akan memberikan keleluasaan terhapad simpatisan ISIS yang hendak bergi berperang ke Suriah (dan Irak). Alih-alih memberikan izin, aparat keamanan Indonesia pasti malah akan segera meringkus para simpatisan ISIS ketika sudah mendeteksinya. Saat ini, aparat keamanan sudah punya perspektif dan protap yang lebih pasti mengenai penanganan para simpatisan jihadis palsu itu.

Hal serupa juga dipastikan terjadi di hampir semua negara dunia yang merupakan tempat asal jihadis asing yang kemudian bergabung ke dalam ISIS tersebut. Mereka semua sudah makin menyadari betapa sangat berbahayanya sikap menyepelekan atau “bermain-main” dengan kelompok berideologi takfiri ini. Bahkan Turki yang sebelumnya menyediakan kawasan teritorinya sebagai tempat transit para jihadis, kini sudah mengambil kebijakan yang lebih rasional. Turki makin menyadari bahwa, sebagaimana yang disampaikan Assad berulang-ulang, kelompok teroris ini bukan seperti kartu yang bisa dimasukkan dan dikeluarkan dari saku sekehendaknya. Mereka lebih mirip kalajengking yang akan balik menyengat kalau dipermainkan.

Secara umum, para pengamat dunia sudah sampai kepada kesimpulan bahwa proyek penggulingan Assad dari kursi kepemimpinan Suriah sudah gagal total. Suriah dan Irak memang mengalami kehancuran. Tapi, sekedar kehancuran bukanlah target asli dari pembuat skenario prahara Irak dan Suriah. Mereka tadinya memimpikan terpecah-pecahnya Irak dan Suriah ke dalam beberapa kawasan yang lebih kecil, sehingga semuanya bisa lebih mudah dikontrol. Lalu, mereka juga berharap akan bisa berpesta pora mengeksploitasi kawasan Suriah dan Irak atas nama program rekonstruksi. Nyatanya, mereka gagal total. Suriah dan Irak tetap utuh. Dan kedua negara ini (ditambah denga berbagai negara dan kelompok resistensi lainnya) tetap menjadi ancaman laten bagi keberadaan Zionis Israel.

Maka, berbagai intrik dan makar yang dilakukan AS dan Zionis yang meminjam tangan kaum radikal itu hampir pasti akan kembali membentur kegagalan. Jadi, kembali kepada pertanyaan utamanya: apakah ISIS akan kembali bangkit? Jawabannya adalah “tidak mungkin”. Semua makar dan intrik itu hanyalah menunjukkan betapa jahatnya AS dan betapa negara ini selalu saja berusaha memanfaatkan berbagai kesempatan demi tercapainya ambisi mereka. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: